Simbah-Simbah Bakul, Riwayatmu Kelak ….


Kebetulan saya tinggal di Yogyakarta dan masih beruntung bisa menyaksikan â??simbah-simbah bakulâ? (nenek pedagang lengkap dengan kebaya dan jariknya) yang pagi-pagi sekali berangkat ke pasar-pasar tradisional dan pulang ketika matahari belum tegak di atas kepala. Kadang, sempat terpikirkan sampai kapan saya bisa melihat simbah-simbah bakul ini.

Bukan tanpa alasan saya berkata demikian. Seiring dengan modernisasi, gaya semua orang mulai berubah. Penduduk kota mengikuti budaya Barat, sedangkan penduduk desa mengikuti apa-apa yang menarik penduduk kota.

Di lingkungan dusun tempat saya tinggal, simbah-simbah yang mengenakan kebaya dan jarik, bisa dihitung dengan jari. Biasanya, para â??nenek mudaâ?, mereka yang usianya 50 tahunan, sudah tidak lagi â??mengenalâ? pakaian demikian. â??Nenek-nenek mudaâ? tersebut, demikian saya menyebut, lebih suka memakai daster â??gombrongâ?. Barangkali untuk menutupi makin lebarnya badan mereka atau demi mengikuti mode â??baruâ? yang lebih in pasca kebaya dan jarik.

Keramahan, Uang, dan Kebanggaan

Barangkali kebanyakan orang akan berpikir tentang kesederhanaan simbah-simbah ini. Mereka yang pikiran hidupnya sangat sederhana, tidak seribet orang-orang yang lahir pasca Indonesia merdeka, apalagi anak muda seperti saya. Namun, simbah-simbah bakul juga punya kompleksitas tersendiri.

Kebetulan pula, kemana-mana saya naik bus. Ada kalanya saya duduk di samping simbah-simbah tadi sambil melatih seberapa mahir bahasa kromo saya. Maklum, meski saya tinggal di desa, bahasa kromo hanya digunakan pada saat acara kenduri atau acara-acara khusus yang didatangi kebanyakan orang tua. Bahkan dalam pertemuan RT atau RW, bahasa kromo tersebut sudah diganti dengan bahasa Indonesia yang lebih mudah dan barangkali lebih â??tidak mempermasalahkan siapa lawan bicara, entah tua atau mudaâ?.

Kembali dengan simbah-simbah bakul yang biasanya akan dengan ramah menyapa kita. Ada kalanya, saya disebut â??masâ? atau bahkan â??nakâ?. Namun, tak jarang disebut â??omâ?. Barangkali simbah-simbah ini cukup gaul juga, pikir saya.

Ada kalanya pula simbah-simbah bakul ini berdebat dengan kernet bus. Misalnya, meminta ongkos yang murah. Sementara, kernet pastinya ikut menghitung jumlah barang yang diangkut ke dalam bus. Kadang, saya juga menjumpai simbah-simbah yang tak mau membayar bus atau justru â??memalakâ? penumpang lain dengan cara halus. Tentu cuma satu atau dua yang berbuat demikian.

Yang paling seru dari mereka tentu cerita. Ya, simbah-simbah bakul ini, jika sudah menceritakan kehidupan anak cucunya, bisa begitu panjang menjelaskan. Kebanggaan tersendiri bagi mereka jika ada cucu yang masuk universitas ternama di kota saya, atau sudah berhasil membeli motor. Apalagi jika sang anak atau cucu, bekerja di luar negeri dan rutin menelepon hanya untuk memastikan kabar sang simbah yang semakin lanjut usianya. Kebahagiaan anak-cucu, pastinya kebahagiaan mereka juga.

Masih Bertahan Sampai Kapan?

Sempat pula berpikir, sampai kapan ada pemandangan seperti ini. Sepuluh atau dua puluh tahun lagi, barangkali yang tersisa adalah nenek-nenek modern berdaster yang tentu tak suka lagi mengunyah sirih atau berjualan ke pasar-pasar tradisional. Bahkan mungkin tiga puluh atau empat puluh tahun lagi, akan banyak ditemui nenek-nenek bercelana jeans yang keluar masuk minimarket yang sekarang sudah merambah masuk ke pedesaan. Mungkin pula semua perubahan ini, dari simbah-simbah berkebaya-jarik menjadi nenek bercelana jeans, dari pasar tradisional menjadi minimarket, akan terjadi lebih cepat; walaupun konon remaja Indonesia sekarang sangat menggemari batik.


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
70
Love
OMG OMG
60
OMG
Yaelah Yaelah
90
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
80
Keren Nih
Ngakak Ngakak
10
Ngakak