Saya Seorang Muslim, Tapi…


Saya seorang muslim, rajin mengerjakan salat lima waktu. Tidak ada niatan sedikit pun untuk melalaikan tiang agama ini.

Tapi saya takut, takut bahwa saya mengerjakan salat hanya karena salat diwajibkan. Takut bahwa sujud ini cuma karena menginginkan surga. Takut bahwa ibadah ini hanya karena orang-orang di sekitar saya juga melakukannya.

Saya seorang muslim. Saya sering mendengar hadis, â??Dunia dan segala isinya terkutuk, kecuali mengingat Allah dan hal-hal yang memudahkan orang untuk mengingat Allah.â?

Namun, saat orang lain melirik keluarga saya yang terlihat kekurangan, hati bergidik ketakutan. Saat orang lain memandang remeh pekerjaan saya, tubuh ini seakan ingin lari menjauh. Saat orang lain memiliki motor baru, rumah baru, atau perabot rumah tangga terbaru, saya mendesah dan kadang kecewa dengan hidup. Saat melihat iklan di TV tentang keluarga mapan, saya ngeri tak bisa membayangkan jika hal itu gagal diraih.

Saya tidak mengerti, bagaimana mungkin saya bisa mencintai semua hal yang terkutuk ini? Bagaimana mungkin saya ketakutan ketika hal-hal terlarang ini hilang atau jauh dari genggaman tangan? Bagaimana mungkin saya seolah tak pernah mendengar ucapan Nabi saya sendiri, â??Kemiskinan adalah kebanggaankuâ??

Saya termasuk orang yang tertib menjalankan puasa Ramadhan.

Sejak akil baligh, bolong puasa bisa dihitung dengan jari. Itu pun hanya karena sakit atau dalam perjalanan sangat jauh.

Setiap Ramadhan berakhir, saya bahagia; menyambut Idul Fitri dengan keceriaan; merasa diri sebagai orang-orang yang menang.

Tapi, apakah saya sudah menang dalam setiap puasa Ramadhan? Sementara, hati dan nafsu belum mampu dikendalikan. Sementara, membeli baju baru untuk anak menjelang lebaran seolah sebuah kewajiban. Sementara, saya masih sering mengeluh kekurangan dalam segala hal.

Saya teringat kisah seorang sufi yang berjalan menitikkan air mata menjelang keberangkatannya menuju Salat Ied. Kala semua orang bergembira dengan pakaian baru, ia menangis sesenggukan.

Sahabatnya berkata, â??Mengapa kau menangis? Apakah kau takut tak bertemu dengan Ramadhan tahun depan?â?

Ia menjawab, â??Bukan itu masalahnya. Kehidupan dan kematian adalah urusan Allah.â?

Sahabatnya mendesak, â??Lalu, mengapa air matamu tak mau berhenti?â?

Sang sufi menjawab, â??Aku takut, ketika kepuasan batin menggelegak setelah berpuasa Ramadhan sebulan, justru kelalaian-kelalaianku yang ada di depan mata, tertutupi kepuasan batin tadi. Aku takut, ketika menyebut diri sebagai orang yang menang, sesungguhnya aku senantiasa kalah dan serbakekurangan. Aku takut menganggap diri pantas merayakan Hari Raya Suci (Iedul Fitri) sedangkan di mata Allah diri ini tak pantas merayakannya; takut bahwa diri ini hanyalah pengaku yang bahkan tidak tahu kebobrokan jiwanya sendiri.â?

Bahkan, saya mengaku sudah bersyahadat “Tiada Tuhan Selain Allah”

Tapi masih saja mau menang sendiri dalam segala hal. Tapi masih saja menertawai orang lain meski hanya dalam hati. Tapi masih saja puas ketika musuh tertimpa musibah. Tapi masih saja bisa tertawa saat orang lain di sebelah menangis. Tapi, masih bisa membanggakan diri.

Salah satu makna dasar Islam adalah upaya penyerahan diri secara total kepada Allah; menganggap diri sebagai bukan siapa-siapa. Tapi, masih saja saya bertindak karena ingin surga dan menjauhi neraka seolah saya adalah â??siapa-siapanyaâ? Tuhan sehingga berhak â??memaksaâ?-Nya.

Entah Tuhan saya yang “sebenarnya” adalah Allah atau diri sendiri.

Saya memang mengaku muslim, tapi apakah saya benar-benar muslim,

Saya tidak pernah mengetahuinya.


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
90
Love
OMG OMG
80
OMG
Yaelah Yaelah
10
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
100
Keren Nih
Ngakak Ngakak
30
Ngakak