Mahasiswa Universitas Surabaya Bikin Robot untuk Penderita Autis

a8adb5c3 708b 4617 b2b7 a01a120075ab 169

Makin banyak anak bangsa yang berkontribusi dalam membuat Indonesia menjadi lebih baik lagi. Seperti misalnya dua mahasiswa Universitas Surabaya ini.

Dua mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) menciptakan robot terapi autis dalam tugas akhirnya. Robot yang diberi nama SPARK (Special Autism Robot for Kids) itu akan dikendalikan menggunakan smartphone.

Kedua mahasiswa itu yakni You Natan mahasiswa Fakultas Teknik jurusan Teknik Elektro yang berkolaborasi dengan Michelle Angelia Siswanto mahasiswi Fakultas Psikologi Magister Psikologi Ubaya.

You Natan berharap, karya robotnya bisa membantu anak penyandang autis untuk memahami dalam menghadapi kehidupan sosial serta situasi dengan meniru berbagai gerak, ekspresi emosi kebahagian ataupun kesedihan, anak penyandang autis kesulitan untuk memahami.

“SPARK media pengajar untuk anak penyandang autis, dikendalikan oleh terapis untuk membuat suatu gerakan tertentu dengan menggunakan smartphone,” katanya disela sela mempraktekan tugas akhirnya, seperti dikutip dari Detikcom, Kamis (11/2/2016).

SPARK (RRI)
SPARK (RRI)

 

Pembuatan robot yang dikerjakan sekitar 1 tahun ini dimulai dari mencari komponen dan beberapa kali try and error. SPARK sendiri, kata You Natan menggunakan software seperti pemrograman C++, QT, dan Android Studio.

Pemuda asli Sulawesi Selatan ini mengungkapkan SPARK menggunakan empat metode terapi yaitu Imitation, Joint Attention,Face Recognition, dan Vocalization. Pada metode Imitation SPARK akan menjadi model bagi anak autis untuk mengajarkan anak gerakan mengangguk, menggeleng, makan, minum, tidur, mengangkat tangan, melambaikan tangan, dan tepuk tangan.

“SPARK akan mengajarkan anak untuk fokus pada objek dengan pada metode Joint Attention juga membantu mengarahkan fokus anak pada objek dengan gerakan kepala dan lengan serta mengajarkan anak untuk membedakan berbagai ekspresi pada metode Face Recognition,” ungkapnya lagi.

Menurut Natan, robot ini diperuntukkan bagi anak penderita autis umur 4-9 tahun. Namun, robot ini juga masih bisa dipakai untuk anak yang normal.

Sementara itu, dosen pembimbing mereka, Henry Hermawan, ST M.Sc mengaku hasil karya kedua mahasiswanya sangat menarik dan anak penyandang autis mudah tertarik. “Yang perlu diperbaiki hanya tampilannya masih terlihat kaku, bisa juga diberikan baju yang akan menjadikan robot lebih manis,” ujarnya. (tom)

Written by Hutomo Dwi

Cowok penyuka Jepang, dari bahasa, musik, sampai film dan animenya.