From Zero to Hero, Pembalap F1 Indonesia Rio Haryanto


Pembalap Indonesia, Rio Haryanto, tinggal selangkah lagi bakal tampil di ajang balap mobil paling bergengsi, Formula 1 (F1). Kontrak dengan tim F1 Manor sudah diteken dan kepastian Rio terjun ke ajang ajang jet darat musim depan hanya tinggal menunggu hasil verifikasi dari otoritas tertinggi F1, FIA. Karena itulah, kini nama Rio menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Tentunya untuk bisa mencapai ke tahap ini, butuh perjuangan yang tidak mudah. Berikut suka duka Rio untuk bisa menjadi pembalap F1 internasional, seperti dilansir jadiBerita dari berbagai sumber.

Menurut sang ibunda, Indah Pennywati, keinginan Rio menggeluti dunia balap mobil tak terlepas dari pengaruh ayahnya Sinyo Haryanto dan kakak-kakaknya. Ayah Rio adalah mantan pembalap, begitu juga kakak-kakaknya. Darah balap mobil mengalir deras dalam darah Rio. Saat anggota keluarga Haryanto berkumpul, topik pembicaraan tak jauh-jauh dari balap mobil.

Rio saat menjadi pembalap gokart (kanan) (Bola)
Rio saat menjadi pembalap gokart (kanan) (Bola)

Sejak kecil, Rio sudah terbiasa diajak melihat balapan mobil oleh sang ayah. Dari sanalah muncul hasrat untuk menjajal gokart. Saat itu usianya masih sekitar 6 tahun. Rio kecil sangat rajin berlatih di Solo, Jawa Tengah, tentu saja didampingi sang ayah dan kakak-kakaknya.

Suatu ketika, Rio mengalami kecelakaan saat berlatih, hingga harus menjalani operasi di Singapura. Kebetulan saat itu pria yang kini berusia 22 tahun tersebut tak didampingi sang ayah, hanya beberapa pegawai kepercayaan keluarga Haryanto.

â??Suatu hari Rio pernah latihan gokart di Donohudan (kawasan perbatasan Boyolali dengan Solo). Saat itu sudah sore, sekitar pukul 17.30 WIB, sudah agak gelap. Dikiranya sudah tidak ada yang latihan lainnya. Jadi ya latihan biasa saja. Ternyata masih ada yang latihan balap motor,â? ujar Indah mengenang kembali kejadian sekitar 16 tahun silam itu.

Rio Haryanto (Beritaintrik)
Rio Haryanto (Beritaintrik)

â??Mobil gokart kan pendek banget. Jadi pengendara sepeda motornya melaju kencang dan tidak melihat di depannya ada Rio yang sedang mengendarai gokart. Ya akhirnya tabrakan tak terhindarkan dan Rio langsung pingsan saat itu,â? imbuh sang ibunda.

Akibat kecelakaan itu, Rio mengalami patah tulang tangan dan kakinya luka-luka. â??Jadi patahnya di bagian sikut. Saya takut nantinya tidak bisa ditekuk, bisa berbahaya untuk karier Rio. Makanya langsung kami bawa ke RS di Singapura, karena kami punya kenalan dokter di sana. Syukurlah semuanya bisa normal lagi,â? imbuh Indah.

Menurut sang ibunda, kecelakaan parah tersebut tak membuat pembalap kelahiran 22 Januari 1993 tersebut kapok berlatih gokart. Dia tetap bersemangat mengejar mimpinya menjadi pembalap mobil. Bahkan setelah itu, Rio berhasil memenangi sejumlah balapan gokart yang diikutinya.

Rio Haryanto (Goodnewsfromindonesia)
Rio Haryanto (Goodnewsfromindonesia)

Setelah berhasil memenangkan kejuaraan gokart, Rio pun mantap melangkahkan kakinya ke karir balap profesionalnya. Dia pertama kali mengikuti kejuaraan profesional pada tahun 2008, saat usianya 15 tahun. Dalam tahun yang sama, ia mengikuti tiga kejuaraan Asia, yakni Asian Formula Renault Challenge, Formula Asia 2.0 dan Formula BMW Pacific. Setelah menduduki peringkat ketiga di FAsia 2.0, Rio pun sukses menyabet gelar juara Formula BMW Pacific 2009.

Pada tahun 2010, Rio pun merambah ke kejuaraan Eropa yang cukup bergengsi, yakni GP3 Series di bawah bendera Manor. Selama dua musim turun di kejuaraan ini, Rio sukses mengoleksi tujuh podium, termasuk tiga kemenangan. Prestasi ini cukup membuatnya naik ke kejuaraan GP2 Series 2012, yakni kejuaraan single seater di bawah F1.

Rio Haryanto (Harian Aceh)
Rio Haryanto (Harian Aceh)

Meski demikian, pembalap kelahiran Solo ini tak selalu dinaungi Dewi Fortuna. Ada beberapa peristiwa tak mengenakkan dialaminya. Salah satunya, adalah saat ia masih turun di GP3 Series 2010. Rio sempat mendapatkan tindakan diskriminasi dari panitia balap setelah menapaki tangga podium usai finis kedua dalam feature race di Silverstone Inggris. Kesuksesan Rio ini membuat panitia curiga bahwa Rio dan Manor menggunakan turbo yang tak sesuai dengan regulasi balap.

Alhasil, panitia membongkar mobilnya, namun tak menemukan kejanggalan. Sayang, pembongkaran mobil Rio ini tidak diiringi dengan tanggung jawab panitia untuk mengembalikan bagian mobil dengan benar. Bagian turbo mobil Rio pun mengalami kerusakan hingga tak bisa tampil baik di sprint race, di mana ia harus gagal finis.

Namun, Rio tetap berjuang keras mengharumkan nama bangsa, dan membayar kegagalan ini saat menjalani balapan di Monza, Italia, di mana ia finis ketiga dan menapaki tangga podium.

Rio Haryanto (Rioharyanto)
Rio Haryanto (Rioharyanto)

Selama empat musim di GP2, Rio membela empat tim berbeda, yakni Marussia Carlin (Manor), Addax Barwa, EQ8 Caterham dan Campos Racing. Secara keseluruhan, Rio berhasil mengemas tujuh podium dengan tiga kemenangan. Musim terbaiknya adalah musim 2015, yakni ketika ia membela Campos Racing.

Rio berhasil mengakhiri musim 2015 di peringkat keempat pada klasemen pembalap, di belakang tiga pebalap papan atas GP2, yakni Stoffel Vandoorne, Alexander Rossi dan Sergey Sirotkin. Rio mengumpulkan 138 poin, hanya tertinggal satu poin dari Sirotkin.

Pada bulan Juli 2015, Rio kemudian menceritakan kalau dirinya pernah didekati oleh 3 tim Formula 1 agar bisa tampil di F1 2016, yang kemudian terungkap kalau salah satunya adalah Manor. Manor sendiri sudah terasosiasi dengan dirinya sejak masih di GP3.

Dengan usianya yang sudah mencapai 23 tahun, maka Rio bisa dikatakan ideal untuk masuk ke F1, apalagi ia telah mendapatkan Super License sejak berusia 17 tahun. Manor pun bersedia memberi salah satu mobil balapnya untuk Rio, asal ia bisa membawa dana balap sejumlah 15 juta euro (Rp 228 miliar).

Pada bulan Desember 2015, BUMN PT Pertamina pun menyatakan bersedia mengucurkan dana sebesar 5 juta euro (Rp 76 miliar), sementara pada bulan Januari 2016, Kemenpora telah bersedia memberikan dana sebesar Rp 100 miliar (6,6 juta euro) melalui Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Kini tinggal masalah pencairan dana saja bagi Rio untuk akhirnya bisa menuju ke panggung balap dunia.

Meski penuh lika-liku, semoga saja nantinya Rio bisa mengharumkan nama Indonesia lewat prestasinya. (tom)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
20
Love
OMG OMG
10
OMG
Yaelah Yaelah
40
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
30
Keren Nih
Ngakak Ngakak
60
Ngakak