Tempat Kuliner Unik, Bayar Pakai Sampah


Sampah biasanya sudah tidak diperlukan lagi oleh kita. Namun berbeda halnya dengan warung makan yang ada di Semarang, Jawa Tengah, sampah justru menjadi alat pembayaran di sana.

Sebuah warung menjual makanan di Semarang ini punya terobosan unik. Pemiliknya, Suyatmi (42) dan Sarimin (54), membolehkan pelanggannya membayar makanan dengan sampah plastik.

Kantin Gas Methan (Kompas)
Kantin Gas Methan (Kompas)

Warga Kota Semarang, Jawa Tengah itu membuka warung di Kawasan Tempat Pembuangan Ankhir (TPA) Jatibarang. Dibantu oleh pihak pengelola TPA Jatibarang, Suyatmi dan suaminya memanfaatkan warungnya bagi para pengepul atau pemulung memburu plastik di area Kota Semarang. Padahal, saat ini pemerintah getol mengurangi sampah plastik.

Cara berjualan dilakukan oleh pasutri itu tergolong unik. Setiap pembeli makanan atau minuman di kantinnya diwajibkan membawa sampah plastik.

“Setiap kilonya plastik tersebut ditimbang, dan dihargai di sini perkilonya Rp 400. Jika mereka sekali makan minimal harus membawa 20 kilogram sampah plastik, karena sekali makan mereka menghabiskan uang antara Rp 6000 sampai Rp 8000,” kata Suyatmi saat ditemui di warungnya, seperti dikutip dari Merdekacom, Jumat (18/3/2016).

Suyatmi mengatakan, sampah plastik bisa ditukarkan di warung miliknya hanya jenis sampah plastik bisa didaur ulang. Beberapa sampah plastik itu adalah gelas plastik dan botol bekas air mineral, tas plastik bekas, dan sejenisnya.

Kantin Gas Methan (Merdeka)
Kantin Gas Methan (Merdeka)

“Jika ada selisih antara hasil timbangan plastik yang mereka bawa ke sini dan harga pembelian makanan, maka sisa atau selisih nilai uangnya secara otomatis dianggap sebagai tabungan mereka (pembeli) di sini,” ujar Suyatmi.

Suami Suyatmi, Sarimin, menyatakan inisiatif mendirikan warung bernama ‘Kantin Gas Metana’ sejak dua bulan lalu, atau tepat pada 1 Januari 2016. Mereka juga tinggal di warung itu.

Lalu apa saja yang dihidangkan di Kantin Gas Methan? Menunya cukup sederhana, tapi tetap mengenyangkan, misalnya Nasi Rames dengan berbagai lauk, Nasi Telur, Nasi Lele, dan Nasi Mangut.

Apakah tidak rugi jika memakai metode penjualan seperti ini? Berapa keuntungan menerima sampah sebagai alat pembayaran? “Kami bisa untung lumayan karena gas metana ini gratis. Sebulan kantin sampah ini bisa untung Rp1,5 juta,” kata Suyatmi, sang istri.

Warga sedang menimbang sampah untuk membayar (Tribunnews)
Warga sedang menimbang sampah untuk membayar (Tribunnews)

Tergelitik informasi itu karena ada makanan kesukaannya, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi atau disapa Hendi, sengaja mengumpulkan sampah plastik. Setelah dirasa cukup, ia datangi warung Sarimin. Seperti pengunjung biasa, ia menimbang sampahnya dan makan dengan lahap. Kali itu, Hendi memilih menu nasi pindang dan sayur daun ubi jalar.

“Saya penasaran. Bagi saya ini inovatif. Pemerintah Kota Semarang akan support agar masyarakat  memahami pengolahan sampah menjadi barang yang lebih berguna,” kata Hendi.

Hendi menjelaskan ide makan dengan sampah plastik sebagai alat pembayaran itu akan diterapkan di daerah lain beriringan dengan peraturan plastik berbayar. Jika sudah terwujud, pemerintah membuat akses agar sampah-sampah plastik itu  dibeli oleh pengepul atau orang-orang yang mampu mendaur ulang menjadi barang bernilai jual. (tom)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
30
Love
OMG OMG
20
OMG
Yaelah Yaelah
50
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
40
Keren Nih
Ngakak Ngakak
70
Ngakak