Mengenal Lebih Dalam Fenomena Alam Equinox yang Terjadi Hari Ini


Hari ini, Indonesia mengalami fenomena Equinox. Menurut kabar yang beredar melalui pesan berantai WhatsApp, fenomena Equinox akan menaikkan suhu di beberapa negara Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia dan Indonesia, mencapai 40 derajat Celsius dalam 5 hari ke depan. Untungnya, hal itu tidak benar.

Beragam penjelasan membantah kabar ini, termasuk dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lembaga pemerintah non departemen yang mengurusi perikliman. BMKG mengklarifikasi bahwa fenomena tersebut tidak akan berpengaruh bagi masyarakat Indonesia.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Dr. Yunus S Swarinoto menjelaskan bahwa Equinox adalah fenomena alam yang biasa terjadi. Equinox merupakan salah satu fenomena astronomi saat matahari melintasi garis khatulistiwa.

“Fenomena ini secara periodik berlangsung 2 kali dalam setahun, yaitu pada tanggal 21 Maret dan 23 September,” kata Yunus dalam keterangannya, seperti dikutip dari Detikcom, Senin (21/3/2016).

Saat fenomena ini berlangsung, durasi siang dan malam di seluruh bagian bumi hampir relatif sama, termasuk wilayah yang berada di subtropis di bagian utara maupun selatan.

“Keberadaan fenomena tersebut tidak selalu mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis, di mana kita ketahui rata-rata suhu maksimal di wilayah Indonesia bisa mencapai 32-36 derajat celcius,” jelas Yunus.

Siklus Equinox (BMKG)
Siklus Equinox (BMKG)

Memang ada peningkatan suhu udara saat terjadi fenomena Equinox. Namun tak akan sampai mencapai 40 derajat celcius seperti isu yang beredar. “Equinox bukan merupakan fenomena seperti Heat Wave yang terjadi di Afrika dan Timur Tengah yang dapat mengakibatkan peningkatan suhu udara secara besar dan bertahan lama,” imbuh Yunus.

“BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak perlu mengkhawatirkan dampak dari Equinox sebagaimana disebutkan dalam isu berkembang,” sambungnya.

Secara umum, lanjut Yunus, kondisi cuaca di beberapa wilayah Indonesia cenderung kering. Beberapa tempat seperti Sumatera bagian utara mulai memasuki musim kemarau. Maka ada baiknya masyarakat tetap mengantisipasi kondisi cuaca yang cukup panas dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan tetap menjaga kesehatan keluarga serta lingkungan.

Istilah “Equinox” sendiri berasal dari bahasa Latin aequus, yang berarti setara, dan nox, yang berarti malam. Kata yang dikenal sejak abad ke-14 ini dimaknai “malam yang setara”. Meski secara umum dipahami durasi malam dan siang akan sama persis 12 jam, namun faktanya tidak demikian.

Momen durasi malam dan siang yang persis sama 12 jam disebut Equilux. Istilah ini untuk membedakan dengan Equinox, karena momennya berlangsung tidak bersamaan. Equilux muncul beberapa hari sesudah atau sebelum Equinox, tergantung lokasi dan jenis Equinox-nya. Pada Equinox Maret, biasanya Equilux akan hadir lebih dulu, tapi pada Equinox September, momen ini akan muncul belakangan.

Fenomena Equinox muncul karena sumbu utara-selatan Bumi tidak tegak lurus terhadap garis lintasan orbit Bumi terhadap Matahari. Sumbu Bumi yang tegak lurus terhadap garis khatulistiwa, menyimpang 23,5 derajat dari lintasan orbitnya. Karena itu, saat Bumi berputar mengelilingi Matahari terkadang ada daerah di belahan utara yang terpapar lebih banyak sinar Matahari, dari daerah di belahan selatan.

Jadi, Equinox pada dasarnya adalah saat kutub utara maupun kutub selatan Bumi tidak condong ke arah Matahari. Karena itulah, terpaan sinar matahari di bagian utara dan selatan bumi pada saat bersamaan cakupannya relatif sama. Berbeda dengan daerah beriklim subtropis, Indonesia tak mengalami perubahan yang drastis saat Equinox. (tom)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
30
Love
OMG OMG
20
OMG
Yaelah Yaelah
50
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
40
Keren Nih
Ngakak Ngakak
70
Ngakak