Mahasiswa UGM Ciptakan BBM dari Minyak Jelantah


Prestasi membanggakan kembali diraih oleh anak bangsa. Mahasiswa UGM berhasil mengembangkan bahan bakar minyak (BBM) setara pertamax, menggunakan bahan baku minyak goreng sisa penggorengan atau minyak jelantah.

Abdul Afif Almuflih dan Khoir Eko Pamudi dari Faklutas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM serta Endri Geovani dari Fakultas Pertanian UGM berhasil mengembangkannya setelah melakukan penelitian selama sekitar setahun.

Tim Mahasiswa UGM (Detik)
Tim Mahasiswa UGM (Detik)

“Minyak jelantah ini merupakan minyak goreng yang dipakai secara berulang-ulang yang jika digunakan terus menerus untuk memasak bisa menimbulkan efek buruk bagi tubuh,” jelas Afif seperti dikutip dari Tribunnewscom, Jumat (25/3/2016).

Abdul Afif mewakili teman-temannya mengungkapkan penelitian mengenai pemanfaatan minyak jelantah sebagai biogasoline dilakukan karena Indonesia merupakan negara dengan konsumsi minyak goreng yang cukup tinggi. Selain itu menjadi salah satu negara dengan perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia.

“Limbah minyak jelantah dari rumah tangga hanya dibuang begitu saja dan belum ada yang memanfaatkan. Selain itu, minyak jelantah juga tidak baik untuk kesehatan,” katanya.

Menurut dia, penelitian mengenai Biogasoline dari bahan dasar minyak jelantah ini bisa digunakan untuk bahan bakar kendaraan yang ramah lingkungan. Dalam mengkonversi minyak jelantah menjadi biogasoline maka dirinya dan teman-temannya menggunakan metode reaksi hydrocracking dengan menggunakan tanah liat atau bentonit yang terpilar alumina dan diaktifkan dengan logam kadium sebagai katalisatornya.

Proses mencari formulasi yang tepat sendiri memakan waktu cukup lama, berbagai macam trial dan eror dilakukan selama sekitar 1 tahun sebelum mendapat formulasi yang tepat.

Produksi biogasoline dimulai dengan pembuatan katalis sebagai media konversi minyak jelantah. Selanjutnya proses produksi dilakukan melalui proses hydrocracking. Minyak jelantah dipanaskan dalam tanur listrik kemudian akan menguap mengalir melewati katalis. Setelah itu hasilnya akan menetes menjadi campuran biogasolin dan biodiesel yang selanjutnya dipisahkan menggunakan metode destilasi.

Salah satu Tim Mahasiswa UGM (Ristekdikti)
Salah satu anggota Tim Mahasiswa UGM (Ristekdikti)

“Hasilnya bisa memproduksi sekitar 42 persen biogasoline (bensin) dan 29  persen biodiesel (biosolar). Sehingga dalam 1 liter minyak bisa memproduksi sekitar 420 ml yang terdiri dari 240 ml biogasoline dan 180 biodiesel,” katanya.

Endri Geovani menambahkan katalis yang mereka kembangkan menggunakan tanah liat ini dapat digunakan secara berulangkali. Dengan demikian memungkinkan masyarakat untuk memproduksi sendiri biogasoline atau biodiesel dari minyak jelantah maupun minyak goreng fresh.

“Pembuatannya lebih simpel dan proses produksi lebih cepat. Karena dalam proses pembuatannya hanya melalui dua tahap, yakni pembuatan katalis dan proses produksi menggunakan metode hydrocracking,” kata Endri Geovani.

Dia berharap hasil penelitian yang mereka lakukan ke depan bisa dikembangkan lebih lanjut. Selain itu dapat diproduksi sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan. (tom)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
90
Love
OMG OMG
80
OMG
Yaelah Yaelah
10
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
100
Keren Nih
Ngakak Ngakak
30
Ngakak