ITS Bikin Motor Listrik, Ini Kecanggihannya


Mimpi Garansindo membuat kendaraan nasional semakin mendekati kenyataan. Lewat sebuah kontrak kerjasama dengan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, keduanya berhasil membuat sepeda motor bertenaga listrik dengan komponen lokal hingga 90 persen.

Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Kepala Peneliti Kendaraan Listrik ITS, Muhammad Nur Yuniarto. â??Kita pakai komponen lokal hampir seluruhnya. Yang masih impor adalah baterai, yang didatangkan dari Jepang. Jadi sekitar 90 persen itu menggunakan komponen lokal,â? ungkap Muhammad seperti dikutip dari Vivacoid, Kamis (7/4/2016).

Motor ITS (Harianindo)
Motor ITS (Harianindo)

Jika data yang disampaikan benar maka bisa dibilang bahwa motor listrik karya anak bangsa ini memiliki kandungan lokal lebih tinggi dibanding low cost green car (LCGC) yang dijual saat ini, yang angkanya sebesar 88 persen.

Selain masih diimpor, baterai juga menjadi komponen yang paling mahal harganya. Bahkan nyaris setengah dari biaya produksi motor itu sendiri. â??Harga baterai itu paling mahal. Kontribusinya bisa sampai 40 persen,â? jelasnya.

Meski sudah dipamerkan melalui sebuah video yang diunggah di media sosial, Muhammad mengatakan, motor masih belum diuji coba untuk menempuh perjalanan jauh.

â??Motor ini merupakan kerja keras kawan-kawan di ITS dan dukungan dari Garasindo. Kita belum uji untuk perjalanan jauh, hanya baru uji di sekitar kampus. Kita masih terus melakukan riset. Tapi, saya yakin motor ini tidak kalah kualitasnya dengan motor konvensional yang ada di pasaran,â? katanya.

Motor listrik buatan ITS dan Garansindo tidak hanya memiliki tampilan keren dan harga terjangkau. Teknologi yang diterapkan pada motor model skutik itu pun mengikuti perkembangan zaman. Salah satunya yakni penggunaan smartphone pada speedometer.

Penggunaan smartphone tersebut untuk menggantikan fungsi speedometer konvensional yang biasa terdapat pada kebanyakan motor saat ini. Lewat aplikasi, pengguna motor listrik ITS dapat melihat tampilan kecepatan maupun status baterai dengan tampilan digital.

Tampilan speedometer di smartphone (Detik)
Tampilan speedometer di smartphone (Detik)

Pengembang aplikasi pada motor listrik ITS-Garansindo, Grangsang Sotyaramadhani mengatakan aplikasi bernama IVC Droid tersebut berisi data dan informasi yang dibutuhkan oleh pengemudi selama berkendara. Smartphone yang saat ini sudah banyak dimiliki oleh masyarakat, dimanfaatkan sebagai speedometer untuk menampilkan informasi.

“Jadi seluruh informasi yang direkam dan diolah untuk keperluan mengemudi seperti kecepatan motor, status baterai, dan indikator seperti itu. Kita memanfaatkan apa yang dimiliki konsumen. Fungsinya sudah kita uji coba seperti transmisi data dan modul,” kata Grangsang ke Detikcom.

Untuk sementara ini, aplikasi tersebut dapat digunakan pada smartphone berbasis Android. Mahasiswa ITS ini menambahkan jika uji coba motor listrik di jalan tidak mengalami kendala, ia akan mengembangkan aplikasi tersebut pada sistem operasi lainnya seperti iOS.

Keunggulan lain dari motor ini adalah biaya operasional motor lebih murah dari motor berbahan bakar bensin. “Dari hitungan kami, konsumsi atau biaya operasionalnya di bawah bensin, sekitar 30-50 persen lebih murah,” ujar CEO Garansindo Inter Global Muhammad Al Abdullah atau akrab disapa Memet.

Durasi untuk pengecasan baterai motor ini bisa 2 sampai 3 jam. Setelah diisi ulang, motornya bisa menempuh jarak dari 70 sampai 100 km. “Sekali isi baterai bisa untuk 70-100 km, kecepatan maksimumnya hampir sama lah dengan motor 125 cc, tapi torsinya lebih besar karena ini motor listrik,” ujarnya.

Garansindo berjanji motor listrik ITS Garansindo akan mudah diisi baterainya. Masyarakat tak perlu khawatir kehabisan baterai di tengah jalan. Jika pun kehabisan baterai, baterai bisa ditukar dengan yang baru di SPBU-SPBU atau minimarket.

Motor ITS (YouTube)
Motor ITS (YouTube)

“Nanti kalau sudah mulai dijual, kami akan menyediakan fasilitas battery swap. Tinggal buka baterai yang sudah habis di motor, ganti dengan yang baru di SPBU atau swalayan. Jadi disebar baterainya, tidak cuma hanya bisa diisi baterainya,” ujar Memet.

“Cukup ngecas baterai di rumah, kalau enggak sempat juga, bisa di-swap di SPBU tinggal diangkat baterainya. Jadi tukar tambah kayak tukar isi air minum galon, atau gas. Anda bayar langsung jalan lagi motornya,” jelasnya.

Dengan demikian masyarakat yang mengendarai motor listrik seharga Rp 15 juta ini tidak akan kehabisan baterai. “Kalau ganti baterai di SPBU seperti ini paling dalam hitungan menit ya,” ujarnya.

Kamu bisa tonton video demonstrasi motornya berikut ini.

(tom)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
100
Love
OMG OMG
90
OMG
Yaelah Yaelah
20
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
10
Keren Nih
Ngakak Ngakak
40
Ngakak