Darwin-OP2, Robot Canggih Sahabat Anak Autis


Peneliti Jurusan Teknik Biomedikal University George Washington, Amerika Serikat berhasil menciptakan robot yang bisa berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak-anak penderita autis. Robot canggih itu dinamakan dengan Darwin-OP2.

Dilansir dari Tech Times, Selasa (3/5/2016), Chung Hyuk Park, salah satu peneliti menjelaskan, Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan kondisi gangguan neurobehavioral yang menghampiri anak-anak di usia dini. Gangguan ini, ditandai dengan gangguan interaksi sosial dan kesulitan dalam berkomunikasi, serta membentuk hubungan dengan orang lain.

Darwin-OP2 dan Chung Hyuk Park (Usatoday)
Darwin-OP2 dan Chung Hyuk Park (Usatoday)

Dengan bantuan robot Darwin-OP2 ini, ia mengatakan, anak penderita autis bisa mengalami perubahan komunikasi, interaksi dan bersosialiasi jadi lebih baik. Pada tahap awal ini, kata Park, robot yang mereka ciptakan itu masih diperuntukkan bagi anak usia 5hingga 10 tahun. Tapi perkembangan terbaru, Park menuturkan, Darwin-OP2 juga bisa berinteraksi dengan balita berusia 3 tahun.

Dia menambahkan, penderita autis memiliki karakteristik gangguan yang berbeda-beda. Namun yang umum, biasanya anak menderita autis ini cenderung menghindari kontak mata. Otomatis, itu bisa menghambat kemampuan mereka berinteraksi dengan sekitar, termasuk anggota keluarganya sendiri.

â??Namun, ditemukan bahwa anak-anak autis lebih nyaman menjangkau robot, karena tindakan (robot), mereka (anak-anak) dapat mengontrol dan memprediksi, dibandingkan dengan manusia,â? kata Park.

Dalam seri eksperimen terhadap Darwin-OP2, Park mengatakan, mereka membuatnya dalam tiga varian ukuran tubuh, yaitu mini, menengah dan besar. Kategori mini dan menengah dikhususkan mampu menampilkan emosi wajah dan tindakan fisik anak. Sementara kategori besar, mengajari anak-anak lebih interaktif dalam tindakan fisik, seperti bermain, bahkan olah raga.

Bagian belakang Darwin-OP2 (Robotis)
Bagian belakang Darwin-OP2 (Robotis)

Selain itu, peneliti juga menyematkan kecerdasan buatan (AI) pada Darwin-OP2, sehingga robot tersebut bisa menganalisis perilaku anak. Data yang diperoleh, kemudian dibaurkan untuk menemukan cara yang berbeda dan tepat agar anak-anak bisa berinteraksi.

Park berharap kalau nanti robot buatannya ini bisa dikembangkan lebih lanjut, sehingga bisa menjadi mirip manusia, sehingga bisa digunakan oleh seluruh keluarga yang anak-anaknya menderita autis. (tom)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
100
Love
OMG OMG
90
OMG
Yaelah Yaelah
20
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
10
Keren Nih
Ngakak Ngakak
40
Ngakak