Cuma Modal Rp 2 Ribu, Pemuda Lumajang Ciptakan Komponen Sel Surya


Libur panjang pekan lalu dimanfaatkan pemuda bernama Dian Mart Shoodiqin untuk pulang kampung, ke kota yang terkenal sebagai penghasil buah pisang, yaitu Lumajang, Jawa Timur. Dosen jurusan fisika di kampus di Balikpapan Utara itu kemudian berbagi cerita tentang terobosan baru yang bermanfaat bagi daerah.

Dian berbagi cerita tentang kaca konduktif. Sebuah capaian yang menggembirakan karena belum ada kampus yang berhasil menciptakannya. Dosen jebolan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, itu tetap semangat menjelaskan proses penemuan kaca konduktifnya. Sebagai informasi dasar, ia mengatakan, ada dua komponen utama untuk menghasilkan sel surya. Yakni, kaca konduktif dan elektrolit sebagai pengantar listrik.

â??Bentuk rangkaian sel surya itu terdiri dari kaca konduktif, zat TiO2 atau bahan elektrolit dan kaca konduktif lagi. Ternyata selama ini, yang mampu diproduksi oleh beberapa kampus termasuk ITS masih bahan elektrolitnya saja,â? ujarnya seperti dikutip dari Prokalco, Selasa (10/5/2016).

Sehingga, meskipun penggunaan sel surya bukan hal baru di Indonesia, tetap saja untuk mendapatkan kaca konduktif harus mengimpor dari luar negeri. Harganya relatif mahal karena untuk kaca ukuran 50×50 cm saja dibanderol Rp 600 ribu.

Akhirnya, Dian berpikir untuk mencari metode pembuatan kaca konduktif tersebut. â??Beda lagi kalau elektrolit, hampir semua kampus sudah bisa mengembangkannya. Sehingga kita ambil angle yang berbeda, apalagi kaca konduktif itu bahan termahal yang dibutuhkan,â? ungkap pria kelahiran 21 Maret 1988 itu.

Ia menjelaskan, sebuah kaca dapat dikatakan sebagai kaca konduktif jika material itu memiliki nilai resivitas lebih rendah dari fungsinya sebagai isolator. Sehingga kaca dapat berubah fungsi menjadi semikonduktor.

Beberapa jurnal ilmiah sudah dilahap oleh Dian untuk memuluskan terobosannya. Mulai dari jurnal internasional hingga milik Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN). Semua itu untuk mendapatkan metode dan bahan yang cocok dalam menghasilkan kaca konduktif.

â??Banyak informasi yang saya dapatkan kalau di luar negeri sudah mengembangkannya dengan bantuan alat modern. Sedangkan itu tidak mungkin saya lakukan karena Indonesia sangat terbatas alatnya. Saya harus cari metode sederhana yang memungkinkan digunakan di sini,â? tuturnya.

Setelah melewati waktu 3 bulan, Dian berhasil mendapatkan metode yang pas, yakni metode spray (semprot). Dia hanya berbekal kaca preparat ukuran 5 x 2 sentimeter, bantuan kompor elpiji untuk memanaskan kaca, dan tenaga kompresor untuk menyemprot larutan seng oksida (ZnO).

Kaca preparat (Analissolo)
Kaca preparat (Analissolo)

Caranya, kaca yang sedang dipanaskan kemudian dilapisi larutan ZnO menggunakan metode penyemprotan. Hasil yang didapat adalah kaca memiliki resivitas lebih rendah dan mampu berfungsi sebagai konduktor. Logikanya adalah jika dalam kondisi panas, pori-pori kaca akan terbuka. Langkah selanjutnya mencari suhu yang pas, sehingga ketika terjadi pemuaian segera dilakukan penyemprotan dengan larutan ZnO.

â??Kalau sudah dapat gambaran metodenya, maka akan mudah bagi kami untuk mengembangkannya dalam skala lebih besar. Tinggal mengatur ukuran kaca, berapa variabel suhunya dan seberapa larutan ZnO yang dibutuhkan,â? jelasnya.

Pria berusia 28 tahun itu mengatakan, larutan ZnO juga sengaja dipilih tidak hanya karena murah, namun larutan ini dapat meneruskan cahaya matahari dan bersifat transparan. Sedangkan, misalnya menggunakan aluminium atau tembaga, maka hasil yang didapatkan tidak bening dan tidak bisa tembus pandang.

Sebelum mendapatkan metode spray, setidaknya ada tujuh metode yang harus dicoba oleh Kepala Pusat Campus Green Energy an Climate Change ITK tersebut. Antara lain metode perendaman, metode penetesan, metode pengolesan, dan metode spin coating.

â??Misalnya metode pengolesan, saya oleskan larutan ZnO dengan kuas, tapi ternyata setelah dipanaskan larutan tidak melengket. Begitu pula dengan metode penetasan, saya hanya meneteskan sekitar 3 mililiter, hasilnya kaca pecah karena massanya terlalu besar,â? ungkapnya.

Dengan metode yang digunakan ini, Dian mengaku jauh lebih hemat dan dapat menekan biaya produksi. Bayangkan saja, jika membeli kaca konduktif ukuran 5×5 cm bisa memerlukan uang  Rp 150 ribu. Namun, kaca yang berhasil diciptakan oleh dosen-dosen ITK ini hanya membutuhkan Rp 2 ribu untuk ukuran kaca 5×2 cm.

Modal Rp 2 ribu itu untuk membeli larutan ZnO dan kaca. Dia memperkirakan, kaca ukuran 5 x 2 cm hanya Rp 1.000 bahkan bisa didapat cuma-cuma karena ukurannya kecil. Sedangkan ZnO yang dibutuhkan kaca seukuran tersebut hanya setetes atau sekira 1 gram, dengan harga Rp 600. Harga ZnO per kilogramnya adalah Rp 600 ribu.

â??Kami memang belum target untuk produksi massal atau membuat ukuran kaca yang besar. Sebab, target awalnya menemukan metode pembuatan kaca konduktif dulu,â? sebutnya.

Kini, sambil melakukan penelitian zat elektrolit, Dian pun sedang dalam proses mencari bahan lain selain kaca untuk dijadikan konduktor. Misalnya seperti plastik elastis atau bahkan tisu.

Dian mengatakan, rencananya tahun ini penelitian akan segera dilanjutkan untuk menghasilkan bentuk prototipe sel surya secara utuh. Apabila teknologi itu dapat berfungsi untuk ITK, pastinya akan dapat dimanfaatkan untuk masyarakat Kota Minyak sebagai solusi energi listrik di Balikpapan. (tom)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
50
Love
OMG OMG
40
OMG
Yaelah Yaelah
70
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
60
Keren Nih
Ngakak Ngakak
90
Ngakak