Mengenal Max Havelaar, Band Modern Rock Lokal dengan Lirik Puitis


Nama band Max Havelaar mungkin masih asing di telinga kamu. Namun, band ini memiliki potensi besar untuk menjadi band yang dikenal masyarakat luas, tak kalah dibandingkan band-band major label lainnya.

Setelah memperkenalkan diri melalui single â??Suara Kita Suara Tuhanâ? pada 2012 silam, dan single â??Tumaritisâ? yang dirilis 6 Januari lalu, band rock modern asal Jakarta, Max Havelaar telah meluncurkan album perdana mereka pada Februari 2016 lalu.

â??[Hal yang nggak gue suka di Indonesia] sudah pasti orang-orang yang menggunakan agama untuk memperjuangkan kepentingan mereka. Kedua, korupsi; kok bisa orang sebegitu serakahnya sampai yang dikorupsi itu [nggak habis] untuk tujuh keturunan. Kalau kedua hal itu bisa dikikis, kita akan lebih beradab dan maju,â? ungkap Muhammad Asranur, keyboardist grup modern rock asal Jakarta ini, seperti dikutip dari Rollingstonecoid, Kamis (12/5/2016).

Max Havelaar (Rolling Stone)
Max Havelaar (Rolling Stone)

Hal-hal yang diungkapkan Asra di atas, bersama vokalis sekaligus gitaris Dedidude, gitaris David Q Lintang, drummer Timur Segara, dan pemain bass Teddy Satrio, menjadi salah satu inspirasi mereka dalam melahirkan album debut berjudul sama dengan nama band, Max Havelaar. Mencampurkan ragam musik post-rock dan shoegaze secara modern, mereka kemudian membalutnya dengan lirik bahasa Indonesia yang puitis; membahas tentang politik, ketidakadilan, apresiasi, hingga asmara.

Dibentuk pada 2010, Max Havelaar dimulai oleh pertemuan di dunia maya antara Dedi dengan Asraâ??keduanya berprofesi sebagai fotograferâ??dan saling mengapresiasi karya satu sama lain.

â??Selain saling melihat karya masing-masing, kami juga ngobrolin musik. Nyambungnya saat membicarakan post-rock. Kalau gue sendiri, dari kecil, sudah dicekokin dengan progressive rock. Jadi ketika makin ke sini, ragam musik semakin banyak, gue bisa lebih luas [mencari tahu]. Gue masih suka prog-rock, tapi juga suka jazz, post rock, dan lainnya,â? ungkap Dedi.

Tidak hanya segi aransemen musik yang menjadi fokus utama Max Havelaar di album pertama mereka, tetapi ada dua hal lainnya, yaitu artwork dan lirik. Dalam album berisi 9 lagu dan berdurasi 51 menit ini, Max Havelaar mengajak sembilan ilustrator Indonesia (Saleh Husein, Monica Hapsari, Spencer Jeremiah, Rere, Ayu Dilamar, Lala Bohang, Dmaz Brodjonegoro, Indro Moektiono dan Dedi) untuk berkolaborasi membuat 9 sampul album yang mewakili masing-masing lagu.

Sementara itu bahasa Indonesia dipilih Max Havelaar untuk mengungkapkan segala kegelisahan di pikiran dan jiwa dalam bentuk lirik. Bahasa Indonesia menurut Dedi, sebagai penulis lirik utama di Max Havelaar, selain merupakan bahasa Ibu juga diharapkan bisa lebih mudah menjangkau pendengar yang luas.

“Kalau lirik menurut gue itu sebagai komunikasi di level terakhir sebuah lagu. Kalau gue walaupun penggunaan bahasa di dalam lirik lagu Max Havelaar lebih seperti lambang atau sedikit puitis, tapi gue mau pesannya itu bisa diterima oleh pendengar,â? kata Dedi.

Kamu bisa lihat video dari lagu “Tumaritis” berikut ini.

(tom)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
100
Love
OMG OMG
90
OMG
Yaelah Yaelah
20
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
10
Keren Nih
Ngakak Ngakak
40
Ngakak