G-WARS, Solusi Krisis Air Bersih Ciptaan Mahasiswa Universitas Brawijaya


Air bersih sudah menjadi masalah yang mengiringi laju pertumbuhan penduduk di Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistika (2013), terjadi peningkatan penduduk sekitar 1,2% atau sekitar 3 juta jiwa per tahunnya. Pertumbuhan penduduk yang tinggi tersebut mengakibatkan kebutuhan air bersih di Indonesia pastinya akan mengalami peningkatan.

Namun peningkatan kebutuhan air bersih tersebut belum dapat terpenuhi karena terjadi penurunan kualitas air akibat pencemaran lingkungan. Pencemaran telah menyebabkan menurunnya penyediaan sumber air bersih seperti air sungai, waduk, dan danau. Pencemaran lingkungan yang terjadi didominasi oleh kegiatan domestik atau limbah cair rumah tangga yang dibuang langsung ke sungai tanpa adanya pengolahan terlebih dahulu.

Krisis air bersih (Kaskus)
Krisis air bersih (Kaskus)

Menjawab permasalah itu mahasiswa program studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya menghasilkan produk kreatif. G-WARS (Grey Water Recycle System) rancang bangun teknologi daur ulang limbah domestik untuk solusi penyediaan kebutuhan air bersih yang berkelanjutan, menjadi jawaban permasalahan air bersih.

Teknologi ini merupakan hasil dari Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM KC) yang diselenggarakan oleh DIKTI yang mampu menjawab permasalahan air bersih. Tim mahasiswa yang menggagas program kreatif ini adalah M. Reza Firmansyah, Guntur Ibnu Haq, Prieskarinda Lestari, Ratnasita Alwiyah Uzla, dan Rahmanda Lintang.

Para mahasiswa ini menelurkan ide dengan mengaplikasikan gabungan pengolahan secara biologis dan secara fisika. Kelebihan teknologi ini adalah pengoperasiannya mudah, lumpur yang dihasilkan sedikit, dapat digunakan untuk pengolahan air limbah dengan konsentrasi rendah maupun konsentrasi tinggi, tahan terhadap fluktuasi jumlah air limbah maupun fluktuasi konsentrasi, serta pengaruh suhu, ekonomis serta mampu meminimalisir beban pencemaran ke lingkungan mulai dari sumber limbah pertama (rumah tangga) sehingga tidak langsung dibuang ke lingkungan.

Teknologi ini teruji sangat cocok diaplikasikan pada masyarakat untuk mewujudkan sanitasi yang layak dan penyediaan air bersih yang berkelanjutan. G-WARS dapat mendaur ulang limbah cair domestik (grey water) menjadi air bersih kelas III.

Air keran (Liputan6)
Air keran (Liputan6)

Dilansir dari Tribunnewscom, Rabu (25/5/2016), pada teknologi G-WARS ini, limbah cair domestik (grey water) sebagai influent akan dialirkan menuju bak penampung. Pada bak ini grey water akan ditampung dalam keadaan tertutup sehingga selain sebagai penampung, pada bak ini juga terjadi proses anaerob, dimana zat-zat polutan akan terdegradasi oleh bakteri-bakteri yang terdapat pada limbah tanpa adanya oksigen.

Selanjutnya air akan dialirkan menuju reaktor aerob. Pada reaktor aerob digunakan proses biologis berupa aklimatisasi dan penumbuhan biofilm yang mampu mengolah influent secara biologis dan dibantu dengan aerasi agar meningkatkan proses penumbuhan biofilm dan menambah kandungan oksigen.

Biofilm yang terbentuk merupakan bakteri aerob yang akan melekat pada media sarang tawon yang terbuat dari pipa PVC.

Air pada bak reaktor aerob akan mengalir menuju bak selanjutnya, yaitu bak reaktor anaerob. Pada bak reaktor anaerob tidak diberikan suplai oksigen namun tetap menempatkan media pertumbuhan biofilm. Sehingga bakteri yang hidup adalah bakteri anaerob yang hidup secara melayang.

Air kotor dan air bersih (Teknonetwork)
Air kotor dan air bersih (Teknonetwork)

Reaktor terakhir menggunakan proses fisika berupa proses filtrasi yang berfungsi untuk menyaring grey water. Susunan filter pada reaktor ini ialah: ijuk, zeolit arang, ijuk dan pasir. Ijuk berfungsi untuk menyaring partikel yang tidak terlalu halus. Zeolit berfungsi untuk mengikat kation dalam air yang mengandung besi, zat aluminium dan magnesium. Arang berfungsi untuk menghilangkan bau, warna dan rasa. Semengara pasir berfungsi untuk menyaring partikel halus.

Efluent yang didapatkan berupa air bersih selama 12 jam, kemudian agar efluent yang dihasilkan lebih baik lagi kualitasnya, maka diterapkan proses secara sirkulasi, sehingga selama 24 jam diharapkan didapatkan air bersih yang mampu digunakan sesuai peruntukannya pada air bersih kelas III. (tom)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
90
Love
OMG OMG
80
OMG
Yaelah Yaelah
10
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
100
Keren Nih
Ngakak Ngakak
30
Ngakak