Ini Penyebab Film Indonesia Pemainnya Itu-itu Saja


Kalau kamu perhatikan, belakangan ini film Indonesia dibintangi oleh aktor atau aktris yang belum lama sebelumnya juga membintangi film lain. Bisa dibilang kalau Indonesia ini minim aktor atau aktris baru. Kenapa demikian?

Pemilihan aktor atau yang dalam bahasa kerennya disebut casting adalah hal yang cukup krusial dalam pembuatan film. Dari sudut pandang sutradara dan penulis, pemilihan aktor akan menentukan apakah film tersebut bakalan punya nyawa atau tidak. Dari sudut pandang produser, pemilihan aktor juga bisa menentukan apakah film tersebut akan berpotensi untuk mendatangkan ABG ke bioskop atau tidak.

Mungkin kamu menganggap pemilihan aktor ini sederhana, namun kenyataannya tidaklah demikian. Terkadang, pemilihan pemain film juga terkadang tidak pas. Seperti contohnya film “Gangster” yang dibintangi oleh Hamish Daud. Bisa dilihat, kalau Hamish Daud bertampang bule, tapi dalam film, sang ayah ternyata bermuka Indonesia.

Film Gangster (Neighbourlist)
Film Gangster (Neighbourlist)

 

“Gangster adalah” salah satu contoh dari sekian banyak kasus yang terjadi dalam pemilihan aktor di Indonesia. Ada juga film seperti “Wa’alaikumussalam, Paris”, yang dirilis beberapa bulan lalu, yang menceritakan tentang cewek lokal kampung (yang diperankan oleh Velove Vexia) nikah dengan bule Prancis (yang diperankan oleh Nino Fernandez). Velove Vexia mungkin bisa meyakinkan orang kalau dia kampung. Tapi orang tuanya ternyata diperankan oleh Lidya Kandou dan Joe P Project.

Wa'alaikumussalam Paris (Dotsemarang)
Wa’alaikumussalam Paris (Dotsemarang)

 

Apakah pemilihan aktor dan aktris ini karena memang sutradaranya minta begitu atau karena permintaan produser yang mikir bahwa Hamish Daud akan menghadirkan jutaan penonton? Indonesia sebenarnya tak punya satu pun aktor yang punya brand sekuat itu.

Reza Rahadian, Nicholas Saputra, Vino G. Bastian, Rio Dewanto, Chicco Jerikho adalah nama-nama aktor yang sudah sering kamu lihat filmnya di poster bioskop. Tapi setenar-tenarnya mereka, nama mereka bukan jaminan bahwa film yang mereka bintangi akan jadi box office. Karena apa? Karena kalau misalnya mereka benar-benar punya star power, 75% film mereka harusnya box office. “Pendekar Tongkat Emas”, yang ada Reza Rahadian bahkan Nicholas Saputra, harusnya jadi salah satu film paling populer dua tahun lalu. Kenyataannya, film tersebut tidak masuk 10 besar box office Indonesia.

Pendekar Tongkat Emas (Twitter)
Pendekar Tongkat Emas (Twitter)

Selain nama-nama yang telah disebutkan tadi, sebenarnya masih banyak aktor atau aktris lainnya yang baru atau belum terkenal, namun dengan kualitas akting menyerupai atau bahkan melebihi aktor/aktris terkenal. Kenapa mereka jarang ada di film-film kita sebagai pemeran utama? Karena produser kita masih takut. Bikin film di negara ini bisa dianggap judi. Presentase antara film sukses dengan gagal total terbilang jauh. Bisa balik modal mungkin bisa bikin para produser syukuran, apalagi bisa lewat jutaan penonton seperti “AADC 2” atau “My Stupid Boss”. Karena itu, bagi para produser, daripada gambling memakai aktor yang kurang terkenal tapi aktingnya mumpuni lebih baik pakai aktor yang setidaknya sudah dikenal tapi aktingnya biasa saja. Paling tidak ada selling point.

AADC 2 (AADC2)
AADC 2 (AADC2)

Akibatnya, film Indonesia dipenuhi oleh aktor dan aktris yang itu-itu saja, tidak ada perombakan dan tidak ada generasi baru. Masih sedikit yang berani untuk memakai talenta-talenta baru. Sehingga tak heran kalau satu orang aktor bisa tahunan mendapat nominasi Piala Citra.

Semoga saja untuk waktu mendatang ada produser yang berani mengambil resiko untuk memakai aktor dan aktris baru, supaya penonton bisa lebih ‘segar’. Dengan penduduk Indonesia yang lebih dari 250 juta, sangat mungkin untuk bisa menemukan Reza Rahadian atau Dian Sastro berikutnya. (tom)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
10
Love
OMG OMG
100
OMG
Yaelah Yaelah
30
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
20
Keren Nih
Ngakak Ngakak
50
Ngakak