Inovatif, Mahasiswa Universitas Brawijaya Ciptakan Aplikasi Belajar Bahasa Isyarat


Menyadari orang-orang berkebutuhan khusus (difabel) memiliki kesempatan yang sama dalam bidang pendidikan, sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) telah merevisi persyaratan masuk bagi difabel pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Kebijakan ini membuka peluang mereka yang berkebutuhan khusus untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi layaknya mahasiswa yang masuk dari jalur reguler. Universitas Brawijaya (UB) mulai membuka jalur seleksi calon mahasiswa berkebutuhan khusus atau difabel sejak 2012 dengan nama Seleksi Program Khusus Penyandang Disabilitas (SPKPD).

Berbaurnya mahasiswa dari program reguler dengan mahasiswa difabel menuntut adanya sebuah komunikasi yang jelas agar kedua belah pihak dapat saling berinteraksi. Celah inilah yang kemudian menginspirasi Bambang Cahyo Soetrisno, mahasiswa Informatika Universitas Brawijaya membuat Aplikasi Edukasi Belajar Bahasa Isyarat Indonesia.

Bambang Cahyo Soetrisno (Merdeka)
Bambang Cahyo Soetrisno (Merdeka)

Bambang harus sering berinteraksi dengan rekannya yang menyandang tuna rungu. Dia kemudian belajar bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) dan mentransformasi menjadi sebuah aplikasi.

“Aplikasi yang dibuat untuk dioperasikan pada perangkat android dengan beberapa fitur, yaitu pencarian suara, pencarian teks dan fitur daftar kosa kata dasar,” kata Bambang seperti dikutip dari Merdekacom, Kamis (21/7/2016).

Setiap fitur dibuat dengan tujuan membantu pengguna mencari kata yang ingin dipelajari bahasa isyaratnya. Setiap fitur menyuguhkan metode pencarian yang berbeda.

Fitur pencarian suara, pengguna tinggal mengucapkan kata yang ingin dicari dengan menggunakan perangkat microphone. Maka kemudian akan muncul kata yang diinginkan beserta video cara memperagakan bahasa isyaratnya.

Aplikasi belajar bahasa isyarat (Merdeka)
Aplikasi belajar bahasa isyarat (Merdeka)

Pada fitur pencarian teks, pengguna aplikasi tinggal mengetik kata yang dikehendaki dan tekan tombol cari. Maka akan keluar kata yang diinginkan beserta video peragaan bahasa isyaratnya.

Sementara pada fitur daftar kosa kata, pengguna aplikasi tinggal memilih kata yang diinginkan dari daftar yang ada. Lewat satu sentuhan dapat memunculkan video peragaan bahasa isyaratnya. Dalam pengembangan aplikasi ini, dia mengaku banyak terbantu oleh teman-temannya penyandang difabel. Salah satunya dari Marquel Dwi Putranto, mahasiswa penyandang tuna rungu yang menjadi model untuk video peragaan bahasa isyarat pada aplikasi ciptaannya.

Aplikasi belajar bahasa isyarat (Merdeka)
Aplikasi belajar bahasa isyarat (Merdeka)

“Dari hasil survei pada teman-teman difabel, saya sudah mendapatkan daftar 400 kata yang menurut mereka biasa atau sering digunakan sehari-hari. Tapi baru 200 kata yang sudah dibuat videonya dan bisa diakses di aplikasi. Teman-teman saat dimintai bantuan langsung merespon positif. Jadi tidak ada kesulitan,” ungkapnya.

Bambang menuturkan, aplikasi ciptaannya ini masih harus dikembangkan lagi. Selain membutuhkan tambahan kosa kata, juga perbaikan kualitas video peraga serta perbaikan sistem untuk kenyamanan pengguna.

Bambang Cahyo Soetrisno (Merdeka)
Bambang Cahyo Soetrisno (Merdeka)

Aplikasi ini telah diakui keunggulannya dengan dinobatkan sebagai juara 2 dalam ajang Hackathon Indonesia Android Kejar 2016 pada 25 dan 26 Mei lalu. Kompetisi tersebut digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang ditujukan khusus bagi para pengembang aplikasi di Indonesia dengan dukungan Google Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Bukalapak. (tom)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
40
Love
OMG OMG
30
OMG
Yaelah Yaelah
60
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
50
Keren Nih
Ngakak Ngakak
80
Ngakak