Mahasiswa Padang Inovasikan Sepeda Listrik Bertenaga Surya


Banyak inovasi telah dihasilkan sejumlah mahasiswa berprestasi di berbagai daerah di Tanah Air. Kali ini tiga mahasiswa Program Studi Teknik Listrik, Politeknik Negeri Padang (PNP), Sumatera Barat, yang berhasil menciptakan inovasi. Inovasinya adalah menciptakan sepeda listrik bertenaga surya.

Sepeda ini dirancang untuk memudahkan sarana transportasi, namun tidak merusak lingkungan akibat polusi seperti yang disebabkan oleh kendaraan bermotor, jadi sepeda ini sangat ramah lingkungan,” kata Ketua Tim, Azhari Alriza, seperti dilansir dari Liputan6com, Senin (1/8/2016).

Sepeda listrik (Liputan6)
Sepeda listrik (Liputan6)

Menurut Azhari, sepeda listrik tersebut memanfaatkan sinar matahari sebagai pasokan daya listrik setelah itu disimpan di aki atau baterai, kemudian untuk mengatur pengisian arus ke batrai digunakan Solar Charge Controller yang berfungsi agar baterai tidak kelebihan arus.

Untuk urusan desain, di bagian belakang atau boncengan diletakkan panel surya berukuran panjang 125 cm dan lebar 80 cm, batang sepeda diletakkan motor, bagian depan dipasang charge controller agar dapat dilihat langsung bagaimana status baterai.

Azhari menjelaskan, ketika berkendara siang hari dengan sepeda listrik ini maka baterai akan diisi secara otomatis, dan ketika malam hari akan menggunakan cadangan energi yang sudah terisi siang hari.

Ilustrasi sepeda listrik tenaga surya (Tenagasuryaku)
Ilustrasi sepeda listrik tenaga surya (Tenagasuryaku)

Pada dasarnya cara kerja dari sepeda listrik tersebut adalah panel surya sebagai penangkap energi disimpan oleh baterai yang dikontrol Solar Charge Controller kemudian baru digunakan sebagai catu daya untuk menghidupkan motor arus searah 24 volt. Proses berjalannya sepeda motor yang dikontrol dengan Pulse Width Modulation (PWM) akan dipasang di setang untuk mengatur kecepatan sepeda agar pengendara dapat menyesuaikan kecepatan yang diinginkan.

“Dari motor arus searah tersebut diatur dengan PWM yang akan mengontrol kecepatan sepeda ketika sudah berjalan,” ia menambahkan.

Lebih lanjut, Azhari beserta rekannya berharap karya yang mereka buat ini dapat dipatenkan, sehingga jerih payahnya dapat dihargai. “Tentu saja kami ingin alat ini dipatenkan atau ada orang yang dapat membiayai penelitian lebih lanjut, untuk biaya pembuatan sepeda listrik ini kami menghabiskan dana lebih kurang Rp 5,5 juta,” ia mengungkapkan.

Sepeda ontel (Kompas)
Sepeda ontel (Kompas)

Sementara itu, salah seorang dosen Program Studi Teknik Listrik, Tri Artono, mengatakan untuk dapat mematenkan karya yang dibuat oleh mahasiswa harus melalui beberapa proses. Misalnya, alat tersebut merupakan teknologi tepat guna atau bukan. Serta, dari segi biaya serta fungsi juga harus diperhatikan.

Ia juga berharap akan ada investor yang datang dan melihat karya-karya mahasiswa PNP. Dengan demikian, karya tersebut tidak berhenti saja saat mereka tamat kuliah.

“Selama ini kami sudah mencoba untuk mendapatkan hak paten dan pendanaan penelitian lebih lanjut, namun belum ada yang tembus, kami akan berusaha lebih baik lagi untuk mengoptimalkan penemuan dan karya dari mahasiswa kami,” kata dosen Politeknik Negeri Padang itu. (tom)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
70
Love
OMG OMG
60
OMG
Yaelah Yaelah
90
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
80
Keren Nih
Ngakak Ngakak
10
Ngakak