Dont be Captious
Jembatan cinta, pulau tidung

Romantisme Jembatan Cinta di Pulau Tidung

Siapa yang tidak mengenal Kepulauan Seribu yang tersohor akan keindahan wisata baharinya. Pulau Seribu merupakan salah satu destinasi wisata favorit saat akhir pekan maupun libur panjang. Selain memiliki kekayaan bawah laut yang eksotis, Pulau Seribu juga dikenal dengan wisata yang murah dengan waktu tempuh yang tidak terlalu lama.

Pada musim libur panjang yang lalu di bulan Agustus, tepatnya tanggal 15-16 Agustus 2015, saya berkesempatan untuk berlibur ke Pulau Tidung, yakni satu dari sekian ribu pulau yang ada di Kepulauan Seribu. Saat itu saya tidak sendiri, bersama teman rombongan lain kami melakukan perjalanan yang bersifat Open Trip. Tim rombongan saya dibagi menjadi tiga tim, yakni berasal dari Bogor, Bandung, dan Jakarta.

Jembatan cinta, pulau tidung
Jembatan cinta, pulau tidung

Sekitar pukul 07.00 pagi, rombongan kami yang berjumlah 25 orang berkumpul di area meeting point yakni Darmaga Kali Adem, Muara Angke. Bisa dibilang, ini pengalaman saya berangkat ke Pulau Seribu melalui darmaga ini. Dua perjalanan saya ke Pulau Seribu sebelumnya, selalu berkumpul di meeting point di wilayah Muara Karang. Namun semenjak dipindah ke Kali Adem, kapal-kapal berbaris dengan rapi, teratur, dan tertib. Tak perlu waktu lama menunggu di dermaga, hanya sekitar beberapa menit saja kapal sudah bisa diberangkatkan. Jika setahun lalu saya berangkat ke Pulau Harapan, kapal-kapal dari Muara Angke menunggu penuh dulu baru berangkat, kini penumpang dibatasi hanya maksimal 200 orang saja, dan kini ada peraturan tidak boleh lagi ada penumpang yang duduk di atap kapal (padahal tempat paling nyaman disitu hehe..)

Sekitar tiga jam saya terombang-ambing di lautan bersama penumpang lain. Saya lebih memilih tidur hingga kapal sampai di Pulau Tidung. Sesampainya di Tidung, saya beserta rombongan langsung menuju homestay yang letaknya tak jauh dari dermaga. Tempatnya nyaman, terdiri dari beberapa kamar. Sekitar pukul 13.00 siang, kami pergi ke spot snorkeling yang ada di Pulau Tidung, tempatnya asik banyak ikan warna-warni yang mendatangi ketika kami membawa potongan-potongan roti. Terumbu karangnya pun menari-nari dengan gemulai seakan mengajak perenang untuk menari bersama.

Pulau Tidung
Pulau Tidung

Setelah puas bersnorkeling ria, kami pun kembali ke pulau untuk beristirahat dan menikmati pemandangan sunset dari atas jembatan cinta. Ini dia sang ikon yang menjadi daya tarik khas Pulau Tidung. Banyak cerita yang beredar mengenai jembatan ini. Mungkin semua sudah tahu, atau mungkin ada juga yang belum tahu tentang mitos dari jembatan cinta ini.

Jembatan cinta, Pulau Tidung
Jembatan cinta, Pulau Tidung

Konon katanya, bagi yang jomblo jika melewati jembatan cinta ini akan bertemu dengan jodohnya. Akan tetapi jika yang sudah memiliki pasangan melewati jembatan cinta ini maka hubungan cintanya akan segera kandas. Beruntung banyak pasangan dari rombongan saya tidak ada yang mengalami putus cinta saat itu juga, bagaimanapun itu hanya sebuah mitos bukan? 😀

Jembatan cinta akan menarik pada malam hari, di sekelilingnya sengaja dipasang lampu warna-warni yang memberi kesan romantis pada jembatan tersebut. Semakin malam, jembatan ini pun akan semakin ramai dikunjungi para pasangan. Bagi yang jomblo, siap-siap gigit jari saja ya 😀

Pulau Tidung
Pulau Tidung

Hari kedua, tepatnya di hari Minggu 16 Agustus 2015, saya sengaja bangun-bangun pagi sekali agar tak kelewatan sunrise di Pulau Tidung, berjalan-jalan ke suatu pulau tentu tak lengkap rasanya jika tidak mengabadikan momen sunrise ini apalagi bagi yang hobi foto seperti saya.

Sekitar pukul lima subuh setelah ibadah subuh, saya dengan menggunakan sepeda bergegas menuju jembatan cinta. Sekitar 15 menit saya mengayuh, di pikiran saya adalah di jam-jam sepagi itu pastinya jembatan masih sepi, karena di jembatan cintalah spot paling enak menikmati sunrise. Ternyata tak sesuai ekspetasi. Jembatan cinta RAMAI! Yaampun ternyata banyak yang sepemikiran dengan saya rupanya, tapi tak apalah yang penting dapat sunrise.

Sekitar pukul enam, barulah sang mentari pagi muncul dari balik awan. Tak sia-sia perjuangan saya. Jika menurut orang jembatan cinta lebih menarik jika dikunjungi pada malam hari karena keromantisan yang ditawarkannya. Bagi saya, jembatan cinta justru lebih menarik dikunjungi pada pagi hari sekitar pukul 8.00 â?? 10.00. Karena lautan Pulau Tidung begitu jernih dan jelas terlihat dari atas jembatan. CANTIK!

Saya sangat gemas melihat pemandangan laut yang luas membentang, begitu jernih dan alami sehingga membuat saya ingin segera menyeburkan diri ke dalamnya, tapi apa daya diri tak bisa berenang hehehe.. saya hanya bisa mengabadikannya melalui bidikan lensa. Jepret! Jepret!

Bagi yang senang menguji adrenalin, rasain deh serunya melompat langsung dari jembatan cinta. Beberapa kawan saya ada yang memberanikan diri melompat langsung dan SERU. (jow)

Apa Komentarmu
Loading...