Today

Video Pendek Bisa Pangkas Fokus Anak, Kata Pendiri YouTube

Jowant

Foto: JB Internal

Fenomena video pendek seperti TikTok dan Instagram Reels kembali jadi sorotan. Kali ini, kritik datang dari Steve Chen, salah satu pendiri YouTube.

Ia menilai konsumsi konten berdurasi sangat singkat berpotensi memengaruhi rentang perhatian anak. Bagi orang tua di Indonesia yang anaknya akrab dengan ponsel sejak SD, peringatan ini relevan untuk dipertimbangkan.

Singkatnya, bukan soal melarang total, tapi soal bagaimana anak terpapar dan seberapa lama mereka menghabiskan waktu di sana.

Pendiri YouTube Ikut Mengkritik Tren Short-Form

Steve Chen, yang dulu menjabat sebagai Chief Technology Officer YouTube sebelum diakuisisi Google pada 2006, menyampaikan kekhawatirannya dalam sebuah diskusi di Stanford Graduate School of Business tahun lalu.

Menurut laporan yang dilansir Fortune pada 1 Maret 2026, Chen menyebut video pendek identik dengan hiburan instan.

Ia menyebut format seperti TikTok lebih fokus pada kesenangan sesaat. Dalam pandangannya, pola konsumsi seperti ini bisa membuat anak terbiasa dengan rangsangan cepat dan sulit bertahan menonton konten berdurasi lebih panjang.

Chen sendiri mengaku tidak ingin kedua anaknya hanya mengonsumsi video singkat. Ia khawatir jika anak terbiasa dengan durasi 15–60 detik, mereka akan kesulitan menikmati video berdurasi lebih dari 15 menit.

BACA JUGA:  Ini Rekomendasi Tools Layanan Sewa WA Profesional untuk Promosi Bisnis

Beberapa orang tua yang ia kenal bahkan sengaja membatasi paparan konten penuh warna dan efek visual mencolok di awal, agar anak tetap nyaman dengan tontonan berdurasi lebih panjang dan tempo lebih lambat.

Bukan Cuma Soal Hiburan, Tapi Pola Otak

Dalam praktiknya, video pendek dirancang untuk:

  • Cepat menarik perhatian
  • Memberi “hadiah” instan dalam hitungan detik
  • Memicu keinginan untuk scroll lagi dan lagi

Sejumlah studi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya korelasi antara konsumsi video pendek dengan masalah perhatian dan kesehatan mental. Bahkan, ada gugatan hukum di Amerika Serikat dari seorang pengguna muda terhadap Meta, yang menuduh produknya membuat kecanduan dan berdampak pada kesehatan mental.

Konsep yang sering disebut adalah “dopamine hit” — lonjakan rasa senang singkat yang muncul setiap kali kita menemukan konten menarik. Jika terjadi terus-menerus, otak bisa terbiasa dengan pola ini.

Ibaratnya seperti terus-menerus makan camilan manis: cepat menyenangkan, tapi belum tentu baik jika jadi pola utama.

Platform Perlu Pasang Rem untuk Anak

Platform Perlu Pasang Rem untuk Anak Video Pendek Bisa Pangkas Fokus Anak, Kata Pendiri YouTube
Foto: JB Internal

Chen juga menyoroti tanggung jawab perusahaan teknologi. Menurutnya, platform distribusi video pendek — termasuk YouTube — perlu menambahkan pengaman bagi pengguna muda.

BACA JUGA:  3 Chatbot Disimulasikan Perang, 95% Pakai Nuklir

Beberapa langkah yang ia usulkan:

  • Pembatasan usia penggunaan aplikasi
  • Batas waktu pemakaian harian
  • Fitur kontrol orang tua yang lebih ketat

Ini penting karena perusahaan teknologi saat ini berada di posisi sulit: antara mengejar monetisasi dan perhatian pengguna, atau memastikan kontennya benar-benar bermanfaat.

Sejauh ini belum ada detail resmi tentang regulasi baru yang akan diterapkan secara global terkait short-form video khusus anak. Namun diskusi soal pembatasan terus menguat, termasuk di Amerika Serikat dan Eropa.

Para Tokoh Teknologi Mulai Angkat Bicara

Chen bukan satu-satunya tokoh teknologi yang menyuarakan kekhawatiran.

  • Investor awal Facebook, Peter Thiel, membatasi penggunaan layar anaknya hanya sekitar 1,5 jam per minggu.
  • CEO OpenAI, Sam Altman, menyebut scrolling media sosial bisa berdampak mendalam pada perkembangan otak anak.
  • Elon Musk, pemilik X (sebelumnya Twitter), bahkan mengakui mungkin kurang membatasi penggunaan media sosial anak-anaknya.

Ini menunjukkan ada pergeseran sikap di kalangan eksekutif teknologi sendiri.

Dampaknya untuk Orang Tua dan Anak di Indonesia

Di Indonesia, akses ke video pendek sangat mudah. Anak-anak bisa mengakses TikTok, YouTube Shorts, atau Reels hanya lewat ponsel orang tua.

Yang perlu diwaspadai:

  • Anak jadi cepat bosan saat belajar atau membaca
  • Sulit fokus pada pelajaran lebih dari beberapa menit
  • Ketergantungan pada hiburan visual yang intens
BACA JUGA:  Cara Download Photoshop Gratis Resmi, Aman & Full Fitur

Namun penting dicatat, hingga kini belum ada konsensus ilmiah yang menyatakan video pendek pasti menyebabkan gangguan perhatian. Banyak studi masih menunjukkan korelasi, bukan hubungan sebab-akibat langsung.

Artinya, faktor lain seperti pola asuh, durasi screen time total, dan lingkungan juga berperan.

Yang Bisa Dilakukan Sekarang

Jika kamu orang tua, beberapa langkah praktis yang bisa dipertimbangkan:

  • Aktifkan fitur kontrol orang tua di TikTok atau YouTube
  • Batasi durasi screen time harian
  • Dampingi anak saat menonton
  • Seimbangkan dengan aktivitas offline: membaca, olahraga, interaksi sosial
  • Perkenalkan konten berdurasi lebih panjang sejak awal

Kamu juga bisa mengecek riwayat tontonan anak untuk melihat apakah sebagian besar konten berdurasi sangat singkat.

Dalam praktiknya, keseimbangan lebih realistis dibanding larangan total.

Penutup

Peringatan dari Steve Chen menambah daftar panjang tokoh teknologi yang mengkritisi dampak media sosial terhadap anak. Video pendek memang praktis dan menghibur, tapi pola konsumsinya perlu dikontrol.

Ke depan, kemungkinan akan ada lebih banyak regulasi dan fitur pembatasan untuk pengguna muda. Sambil menunggu, peran orang tua tetap jadi kunci.

Kalau menurut kamu topik ini penting, bagikan artikel ini agar makin banyak orang tua sadar dan bisa mengambil langkah yang tepat.

Share:

Related News