5 Mualaf Paling Berpengaruh dalam Sejarah Islam


Agama Islam menjadi salah satu agama yang banyak dipelajari oleh umat manusia. Agama yang paling sempurna di mata Allah SWT ini mengajarkan kepada penganutnya mengenai segala sesuatu yang ada di alam semesta. Banyak orang yang juga tertarik untuk mempelajari agama Islam dan memilih menjadi mualaf. Dilansir dari Turntoislam, Senin (6/2/2017), berikut adalah 5 mualaf paling berpengaruh dalam sejarah Islam.

Berkhe Khan

Berke Khan (A-nevsky)

Berke Khan merupakan cucu dari Genghis Khan sang penakluk dari Mongol. Berke Khan adalah orang yang berpengaruh dalam sejarah Mongol, karena ia adalah raja Dinasti Golden Horde yang menjadi generasi pembawa masa keemasan bagi Mongol. Dirinya menganut paham Shamanisme, melakukan misi militer di kawasan pegunungan Kaukasus dan Tenggara Eropa serta wilayah Hungaria. Berke menunjukkan keingintahuannya dengan agama Islam tepatnya saat singgah di Bukhara. Hingga pada akhirnya ia mendengarkan penjelasan tentang Islam dari penduduk di sekitar wilayah tersebut. Setelah itu dirinya meyakini bahwa Islam adalah agama yang benar dan membuat jiwanya tenang. Hingga pada akhirnya Berke memeluk agama Islam.

Zaganos Pasha

Penaklukkan Konstantinopel oleh Zaganos Pasha (Wikimedia)

Zaganos Pasha menjadi salah satu mualaf yang berpengaruh dalam sejarah perkembangan Islam di dunia. Ia berasal dari Yunani yang kemudian direkrut menjadi Yenicheri, yakni korps elit kekaisaran Utsman.  Dirinya dibekali ilmu agama Islam, dan ditunjuk menjadi  mentor dan penasihat calon raja ketujuh Dinasti Utsmani Sultan Mehmed II atau yang lebih dikenal dengan Sultan Muhammad al-Fatih yang masih sangat muda pada saat itu. Ketika Mehmed menjadi sebagai raja di Utsmani, Zaganos pun diangkat menjadi menteri. Sepak terjangnya dalam urusan kenegaraan tidak perlu diragukan. Dirinya dilibatkan dalam rencana penaklukan Konstantinopel pada tahun 1953. Dalam misi ini, Zaganos diberi tugas untuk mengepung benteng Konstantinopel di bagian utara. Pasukan inilah yang berhasil menjadi rombongan pertama yang menyentuh dinding Konstantinopel.

Ibrahim Muteferrika

Ibrahim Muteferrika (Alchetron)

Ibrahim Muteferrika merupakan diplomat yang berasal dari Hungaria. Dirinya ditugaskan untuk menjembatani hubungan antara Utsmani dan Eropa, khususnya Prancis dan Swedia. Pada saat itu, Ibrahim Muteferrika berhasil menangkap peluang dari kebangkitan Eropa melalui penggunaan mesin cetak untuk menjadi budaya baru yang belum dioptimalkan masyakat saat itu. Ibrahim mulai mencetak serta menerbitkan atlas dunia yang berisi peta berbagai negara. Selain itu, dirinya juga mencetak kamus dan buku-buku lainnya. Karyanya yang paling terkenal ialah percetakan sebuah atlas yang dibuat oleh ahli geografi, Katib Celebi. Dalam atlas tersebut, tergambar peta dunia dengan tingkat detil dan presisi yang luar biasa. Selain itu, Ibrahim juga memiliki tulisan mengenai sejarah, teologi, sosiologi dan astronomi.

Alexander Russell Webb

Alexander Russell Webb (Yedikita)

Pada tahun 1893, Alexander Russell Webb mengundurkan diri dari dunia diplomatik dan memilih untuk kembali ke Amerika Serikat. Saat berada di sinilah Alexander memulai dakwahnya mengenai agama Islam. Lewat kemampuan jurnalistik yang dimilikinya, ia berhasil menulis beberapa buku dan kolom-kolom opini di media massa mengenai agama Islam. Pada awal abad 20, dirinya semakin dikenal sebagai seorang muslim yang giat mendakwahkan agama Islam di AS. Bahkan Sultan Utsmani, Sultan Abdul Hamid II memberikan gelar kehormatan dari kerajaan kepada dirinya.

Malcolm X

Malcolm X (HDpics)

Malcolm X merupakan tokoh muslim Afrika-Amerika yang menjadi aktivis hak asasi manusia. Dia pernah dipenjara selama 8 sampai dengan 10 tahun. Pada masa inilah dirinya bertemu dengan John Bembry yang menjadikannya sebagai kutu buku. Keluarganya, tepatnya saudara-saudaranya kerap berkirim surat dengannya, dimana surat tersebut kebanyakan berisi tentang ajaran-ajaran Nation of Islam (NoI). Ternyata ajaran yang diberikan oleh NoI itu berkesan dan sesuai dengan dirinya. Hingga pada suatu hari, pada tahun 1950an, dirinya mengirim surat kepada pimpinan NoI, Elijah Muhammad. Dalam balasannya, Elijah menyarankan Malcolm untuk meninggalkan masa lalunya, dengan rendah hati membungkuk dalam doa kepada Allah, dan berjanji untuk tidak terlibat dalam perilaku merusak lagi. Akhirnya Malcolm terus mempelajari agama Islam. Pada tahun 1964 Malcolm X mampu menunaikan ibadah haji. Saat inilah Malcolm menganggap Islam sebagai sarana dan solusi untuk masalah rasial. (tom)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
10
Love
OMG OMG
100
OMG
Yaelah Yaelah
30
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
20
Keren Nih
Ngakak Ngakak
50
Ngakak