Kisah Sukses Berkat Bisnis Makaroni Ngehe


Bisnis Makaroni Ngehe (viva)

Berawal dari ide yang cukup aneh, Ali Muharam justru berhasil menciptakan bisnis yang sangat menguntungkan baginya. Pria asal Tasikmalaya ini menjadi pemilik usaha makanan yang diberi nama Makaroni Ngehe.

Ali yang masih berstatus sebagai mahasiswa ini sudah menjalankan bisnis Makaroni Ngehe selama dua tahun. Kini, Ali patut berbangga diri atas usaha yang dirintisnya itu. Pasalnya, Ali telah membuka delapan cabang di kawasan Jakarta. “Jadi sampai sekarang berarti sudah berjalan dua tahun dan telah ada delapan cabang sekarang,â?? kata Ali, seperti dilansir Viva, Kamis (19/03/2015)

Hebatnya, bisnis itu berhasil meraup untung sebesar Rp 40 juta hanya dalam sehari saja. Apabila dijabarkan, bisnis Makaroni Ngehe di tiap cabangnya beromset Rp 3 hingga 5 juta per hari.

Bukan tanpa alasan Ali memberi nama unik untuk usaha makanannya. Diakui Ali, awal ide memberi nama Ngehe berasal dari kekesalan dengan pengalaman hidup yang pernah dia alami.

â??Kehidupan saya ngehe banget dulu, saya kan dari Tasik, kota kecil, lalu pindah ke Jakarta. Di Jakarta, saya sempat kerja di warteg, motong-motong sayur, dari jam tujuh pagi sampai jam tujuh malam, cuma dibayar lima ribu. Saya juga pernah terlunta-lunta tidak punya tempat tinggal, menumpang di rumah temen, tidur di emper toko, lalu tidur di masjid juga pernah dan untuk makan saja pernah hanya bertahan dengan jambu biji ibu kosan, karena memang tidak punya uang waktu itu,â? urainya.

Jika sebagian orang menilai kata ngehe sebagai ungkapan kekesalan, maka berbeda dengan Ali. Menurutnya, kata Ngehe merupakan motivasi yang bisa memberikan semangat untuknya.

â??Saya berpikir, jangan sampai hidup saya berbalik ke fase â??ngeheâ?? itu, dan akhirnya saya pakai nama â??ngeheâ?? itu untuk usaha saya, agar saya selalu terpacu untuk hardwork dansmartwork. Jadi, â??ngeheâ?? itu adalah sebuah motivasi bagi saya, meskipun agak nyeleneh,â? tandasnya.

Ali juga mengatakan bahwa kata ngehe menunjukkan level kepedasan dari produk makaroninya. Walaupun makaroni yang ia buat rasanya pedas, banyak pembeli yang tertarik mencobanya.

â??Respons pembeli itu pertama kali, mereka aneh melihat namanya, ini apa sih, namanya tengil banget gitu kan, ngehe gitu. Awalnya, merekanggak beli, Cuma berhenti lalu foto, berhenti lalu foto. Begitu kan. Saya menjualnya dulu cukup murah, harganya mulai dari Rp1.000 – 5.000. Tak lama, dari situlah mahasiswa Binus mulai datang,” ungkap Ali

Rasa pedas yang dihadirkan Makaroni Ngehe terbagi dari beberapa level yakni level sedikit pedas dengan jargon #ciwitbutina, level menengah, #kepretpakendang, dan level sangat pedas yaitu #pitnahbulilis.

Saat ingin memulai usahanya, Ali kerap dihadapkan dengan kendala yang cukup berat. Adapun kendala itu berasal dari modal dan lapak berjualan. â??Modal awal saya pinjam ke teman, jadi modal itu minus Rp20 juta, karena saya benar-benar nggak ada uang waktu itu, tetapi saya ingin menantang zona aman saya,â? imbuhnya

“Kendala mungkin nyari tempat ya, agak sulit. Tetapi, setelah beberapa hari saya nyari dikasih jalan, dapat tempat dan sewanya itu murah Rp1 juta per bulan. Jadi, saya itu modal awalnya meminjam ke teman sekitar Rp15-20 jutaan. Dengan modal minim, saya dapat juga tempat yang bayarnya nggak cukup besar juga,” sambungnya

Ternyata, ide usaha Makaroni Ngehe berasal dari makaroni yang sering dibuat oleh ibunya saat Lebaran. â??Sempat kepikiran mau usaha yang lain, kayak dagang gorengan, atau nggak pecel ayam, atau pecel lele gitu. Tetapi, saya lebih terinspirasi dari ibu saya. Jadi, makaroni ini dulunya ibu saya selalu goreng setiap Lebaran, dan tetangga itu nggak ada yang bikin. Terus ada tamu yangnyoba dan suka, lalu dua hingga tiga tahun, saudara juga mulai pada bikin. Tahun 2000-an, mulai ada yang jualan makaroni. Terus ibu saya bilang, coba kita ada insting bisnis, mungkin kita bisa bikin dagangan ini, sepertinya bisa lebih laris karena kita pelopor. Jadi, kalau saya sihpengen bikin bangga ibu,â? cetus Ali.

Harapan Ali di masa mendatang adalah ia berniat menambah 10 cabang di kota-kota lain di Indonesia. “Rencana tahun ini tambah 10 cabang, mudah-mudahan bisa terwujud. Jujur secara personal saya puas, tetapi saya ingin bertahan, semakin baik, cabangnya semakin banyak dan saya ingin mengatur strategi lebih ke pemberdayaan karyawan saya. Saya usahakan mereka itu, nggakada beban dalam bekerja. Saya usahakan hatinya senang, jadi dalam melayani pun mereka senang, mungkin saya membiasakan budaya keterbukaanlah dalam usaha, welcome, open minded,” tutup Ali.

(nha)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
40
Love
OMG OMG
30
OMG
Yaelah Yaelah
60
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
50
Keren Nih
Ngakak Ngakak
80
Ngakak