BAGIKAN

Sampah memang menjadi masalah pelik. Tidak hanya di perkotaan, tapi juga di tempat wisata, seperti di Alam Lingkok Kuwieng yang terletak di pedalaman hutan Kabupaten Pidie, Aceh.

Bermula dari kekhawatiran rusaknya keindahan tempat wisata alam dan lingkungan pedalaman hutan karena sampah plastik, seorang traveler bernama Yose Rizal di Kabupaten Pidie kerap melakukan perjalanan ke tempat wisata untuk mengumpulkan sampah lalu membawanya pulang.

Karena kegiatannya itu, ia sempat dianggap ‘gila’ oleh teman-temannya. Meskipun diremehkan, semangatnya tidak pernah padam. Dia terus mengampanyekan kegiatan itu dengan mengunggah foto atau video di media sosial agar semua orang tergerak mengikuti jejaknya.

Pada satu waktu, Yose Rizal tampak sibuk. Dari tangan kirinya sebuah kantong kresek merah dijinjing. Isinya berupa plastik bekas bungkusan makanan ringan dan puntung rokok. Tangan kanannya tak pernah diam. Dengan sigap, ia terus meraba sampah plastik yang berserakan di tebing bebatuan Lingkok Kuwieng.

Satu persatu sampah plastik diambil, kemudian Yose Rizal memasukkannya ke dalam kantong kresek. Tidak hanya satu kantong kresek, Yose Rizal berulang kali membuka tas miliknya mengambil kantong kresek lain.

Berselang satu jam, lima kantong kresek telah penuh terisi sampah plastik. Tempat wisata alam Lingkok Kuwieng, berada di pedalaman hutan Pidie, Aceh, yang awalnya berserakan sampah plastik, kini terlihat bersih.

Kantong-kantong kresek itu pun diletakkan di suatu tempat. Selanjutnya Yose mengaitkan kantong kresek itu di bagian belakang tas miliknya. Tidak hanya kantong kresek berisi sampah plastik, beberapa botol minuman bekas pun turut dikaitkan dengan seutas tali di bagian atas tas miliknya.

Sampah plastik itu nantinya akan dibawa pulang Yose dan dibuang ke tempatnya. Ia tidak membakar sampah tersebut di hutan. Sebab, menurutnya, meskipun dibakar sampah plastik tetap menyisakan bekas yang sulit terurai oleh tanah.

Setelah selesai dikaitkan di tas, pria asal Desa Masjid Runtoh, Kecamatan Pidie, itu kemudian mengangkut sampah tersebut untuk dibawa pulang dan dibuang ke tempat pembuangan sampah.

Bukan hanya Lingkok Kuwieng, Yose sudah melakukan hal tersebut di sejumlah tempat wisata alam. Kebanyakan tempat yang dijajaki Yose adalah lokasi wisata berada di pedalaman hutan dan sulit dijangkau dengan payahnya infrastruktur ke sana.

“Pernah ada orang bertanya kepada saya, kenapa tidak dibakar saja? Saya jawab membakar sampah tetap meninggalkan bekas, apalagi yang dibakar adalah plastik,” ujar pria 24 tahun itu, seperti dikutip dari Rapplercom, Senin (17/7/2017).

Selain bakar sampah, warga yang melihat aksi Yose juga menyarankan hal lain, seperti meletakkan tong sampah di tempat wisata alam. Namun, Yose tetap ramah menjawab saran tersebut. “Saya bilang, memang solusi dia tidak salah. Oke lah meletakkan tong sampah di tempat wisata alam, tetapi kalau sudah penuh siapa nanti yang bertugas membawa sampah itu ke kota (tempat pembuangan sampah). Kalau menumpuk sampah dalam tong sampah kan sama juga tidak ada hasilnya,” lanjut mahasiswa Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala itu.

Yose memulai kegiatan mengumpulkan sampah dan membawa pulang dari tempat wisata alam sejak 10 Januari 2016 di pendakian gunung Burni Telong, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Berawal dari kekhawatiran banyaknya sampah di puncak Burni Telong, Yose kemudian mengumpulkan sampah di sana. Selanjutnya mengaitkan sampah-sampah itu di tas lalu mengangkutnya pulang.

“Saya sering kali ke tempat wisata dan di setiap tempat yang saya kunjungi pasti ada sampah. Oleh karenanya, saya memutuskan untuk memungut sampah itu sebanyak yang sanggup saya angkut pulang,” kata pria berambut gondrong itu.

Hari ini tanggal 26 febuari 2017 adalah hari bebas sampah nasional. Aceh bebas sampah 2020. KATA ALAM. Aku tercipta untukmu wahai manusia, rawat dan jagalah agar kamu tetap hidup karena Jika kau merawat aku hari ini artinya kau menyiapkan kehidupanmu 20 tahun ke depan. #yosetheexplore Loc: air terjun kuta malaka. Samahani. Aceh besar. Aceh. #instagram #wisataaceh #ig_aceh #acehinfo #enjoyaceh #geoaceh #fotoaceh #natgeo #indonesiajuara #remajaaceh #indonesiatraveler #pesonaindonesia #exploreindonesia #instanusantara #lingkarindonesia #kabut_lembut #enakdisini #discoverindonesia #ayodolan #instasunda #indonesiarepost #parapejalan #hellonusantara #mdplindonesia #indoflashlight #idpetualang #paimalala #wonderfulindon#indonesia

A post shared by yose rizal (@yose8rz) on

“Saya menginginkan kegiatan seperti ini akan menjadi trend di media sosial dan dari video seperti ini, orang-orang akan tergerak untuk peduli terhadap lingkungan. Dengan saya posting foto atau video itu, orang pun tau bahwa tempat wisata itu sangat kotor, ditakutkan akan hilang keindahannya,” ujar pemilik akun Instagram @yose8rz. Akunnya itu pun sudah diikuti oleh belasan ribu orang.

Ia berharap semua orang tergerak hatinya untuk mengikut jejaknya, minimal tidak membuang sampah sembarangan. “Jika pun berwisata alam ke pedalaman hutan, hendaklah sampah plastik yang dibawa ke lokasi agar diboyong pulang,” lanjutnya.

“Saya harap semua kita sudah seharusnya sadar betapa pentingnya kepedulian terhadap tempat wisata alam, terutama masalah kebersihan. Baiknya memang jangan di tempat wisata alam saja, tapi di semua tempat kita harus peduli dengan tidak membuang sampah sembarangan,” kata Yose. (tom)

Apa Komentarmu