Kenapa Kamu Harus Jauhi Truk Ketika Berkendara?

Faktanya 92 laporan dimana 33 laporan itu adalah kecelakaan yang melibatkan truk.

Jadiberitacom sopir truk 1

jadiberita.com – Jika ingin selamat, sebaiknya jauhi truk ketika berkendara. Ini juga adalah salah satu prinsip yang saya pegang ketika berkendara sehari-hari. Jadi untuk sekedar jaga-jaga, kalau truk bisa dijauhi kenapa harus saya di dekati?

Tulisan ini sengaja saya buat sebagai bentuk kepedulian saya terhadap kecelakaan truk yang marak terjadi belakangan ini. Apalagi kecelakaan truk di kawasan Muara Rapak, Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (21/1/2022) membuat saya semakin yakin bahwa dunia truk sedang tidak baik-baik saja.

Alasan kamu harus jauhi truk ketika berkendara pun menjadi beralasan. Menurut Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi, kecelakaan truk dan bus terus mengalami peningkatan sejak 2011. Bahkan kalau kita cek di tahun 2019, kecelakaan yang melibatkan kendaraan berat menduduki nomor dua setelah sepeda motor.

Saya pun mencoba browsing kesana-kemari untuk sama-sama kita memahami dari sudut pandang Sopir dan truk. Bahwa mereka memang wajib kita jauhi kalau ketemu di jalan raya.

1. Jauhi sopir truk agresif

Saya menemukan sebuah data investigasi dari KNKT yang di ambil mulai tahun 2007 – 2019.  Ada 92 laporan dimana 33 laporan itu adalah kecelakaan yang melibatkan truk. Dalam investigasi tersebut juga menyimpulkan kalau para pengemudi truk menjadi salah satu faktor utama kecelakaan. 

Jadiberitacom data truk
Sumber: Balitbanghub.dephub.go.id

Mulai dari sopir yang kurang antisipasi, lengah, mengantuk, bahkan mabuk adalah perilaku yang menjadi penyebab utama kecelakaan truk. Nah, kalo udah begini sebenarnya bukan hanya supir truk saja yang sering berperilaku seperti itu. Sopir kendaraan pribadi juga bisa saja berperilaku sama. 

Menurut saya pribadi, Sopir truk tetap jauh lebih berbahaya ketika berkendara di jalan raya. Dengan bobot kendaraan ditambah beban yang dibawa, jika terjadi kecelakaan, akibat yang di timbulkan tentu lebih besar.

2. Hindari Blind Spot (Titik Buta)

Setiap kendaraan sebenarnya memiliki Blind Spot masing-masing. Blind Spot adalah area yang berada di luar kendaraan. Area ini tidak bisa dilihat oleh Sopir. Sehingga kendaraan tidak terlihat oleh mata sopir pada area ini.

4 area Blind Spot pada kendaraan truk yang harus di jauhi
4 Area Blind Spot pada kendaraan truk

Truk adalah kendaraan yang memiliki Blind Spot terbesar. Ada 4 area yang tidak akan dilihat oleh Sopir. Jadi ketika kendaraan kamu berada di 4 area ini, kamu harus menjauh. 

3. Jauhi Truk Odol (Over Dimension dan Over Loading)

Truk ODOL juga wajib kamu jauhi saat kamu berkendara. Menurut Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi, dari 22 – 25 Des 2021, setidaknya ada 166 kendaraan yang mengalami masalah di Tol Jakarta-Cikampek. Parahnya sebagian besar adalah truk yang terindikasi ODOL.

Jadi kamu bisa bayangkan, Truk yang kelebihan muatan dan kelebihan beban (ODOL) ketika melintas di jalan raya tentu sangat meresahkan. Dengan banyaknya Truk ODOL otomatis kinerja mesin, rem, dan ban menjadi lebih berat. Akibatnya potensi terjadinya kecelakaan pun semakin tinggi.

Cerita Yosep Suryaningrat (Sopir Truk)

Jadiberitacom data yosep
Yosep Suryaningrat @chepsableng & Quora

Yosep Suryaningrat yang mengaku dirinya sebagai sopir truk sempat saya lihat komentarnya di aplikasi Quora. Saya rasa cukup menarik jika komentar Mas Yosep coba saya bagikan di tulisan ini.

Mas Yosep pernah mengalami rem blong saat mengemudikan truk, saat itu ia lebih memilih banting stir dan masuk ke jurang daripada lurus dan memakan banyak korban. Peristiwa itu terjadi di daerah cikalong, perbatasan kabupaten bogor dan cianjur. Truk sempat terperosok, ia loncat dan selamat.

Menurut Yosep, truk besar sistem transmisinya tidak mamakai gigi sinkromis karena rangkaian transmisinya sangat rumit apalagi truk 6 x 4, dan 6 x 8 dengan sistem kecepatan transmisi 12 speed dan 1 gigi mundur

Jika truk mengalami rem blong dalam posisi gigi rendah 6-10 tidak akan mungkin bisa melakukan engine brake langsung memindahkan ke posisi gigi rendah. Menurutnya, hal itu terjadi karena sistem transmisi truk tidak dilengkapi gigi sinkromis seperti transmisi mobil kecil.

Exhause brake (rem angin) tidak akan mampu menahan laju kendaraan karena rem angin hanya sekedar membantu rem inti dengan cara kerjanya menahan putaran mesin dengan angin. meskipun truk tersebut dilengkapi juga dengan rem retarder sama saja retarder tidak akan mampu menghentikan kendaraan. (jow)