Today

Cara Menulis Daftar Pustaka yang Benar dan Gak Bingung Lagi

Tantri Widya

Halo JBers, kamu pernah nggak tiba-tiba panik mencari cara menulis daftar pustaka gara-gara deadline tugas makin mepet? Kalau iya, kamu nggak sendiri. Cara menulis daftar pustaka sering banget jadi momok bagi orang yang ngerjain makalah, skripsi, atau tugas ilmiah lainnya. Kadang kita sudah kutip satu dua sumber, terus bingung gimana menyusunnya biar rapi, konsisten, dan sesuai aturan kampus atau instansi.

Tenang, di artikel ini kita bakal ngobrol santai soal daftar pustaka — dari pengertian, fungsi, sampai format yang umum dipakai. Saya ajak kamu supaya setelah selesai baca kamu bisa langsung bikin daftar pustaka tanpa grogi lagi. Yuk, kita mulai!

Apa Itu Daftar Pustaka

Daftar pustaka adalah kumpulan referensi yang kamu pakai dalam tulisanmu — entah itu buku, artikel jurnal, internet, bahkan video. Tujuannya supaya pembaca bisa melacak sumbermu dan kamu menghargai karya orang lain.

Kalau kamu menggunakan suatu ide atau data dari sumber tertentu, maka sumber itu harus muncul di daftar pustaka. Tanpa itu, bisa dianggap plagiat.

Selain itu, daftar pustaka juga bikin tulisanmu makin kredibel. Dengan mencantumkan sumber, pembaca tahu kamu nggak asal-asal ngutip, melainkan berdasarkan bahan bacaan yang jelas.

Kenapa Kamu Harus Paham Cara Menulis Daftar Pustaka

  1. Menghindari plagiarisme
    Tanpa daftar pustaka yang benar, bisa muncul tuduhan kamu mencuri ide orang lain.
  2. Membantu pembaca verifikasi
    Pembaca bisa mengecek sendiri sumbermu kalau mereka ingin mendalami atau memeriksa ulang.
  3. Meningkatkan profesionalitas tulisan
    Tulisan yang dilengkapi daftar pustaka yang rapi terasa lebih serius dan bukan sekadar tugas seadanya.
BACA JUGA:  Strategi Trading Forex Paling Jitu untuk Kantong Maksimal di Tahun 2025

Gaya / Format Penulisan yang Umum Digunakan

Sebelum kita bahas cara praktisnya, penting kamu tahu bahwa ada berbagai gaya penulisan daftar pustaka. Beberapa yang sering dipakai:

  • Gaya APA (American Psychological Association) — populer di bidang psikologi, pendidikan, ilmu sosial.
  • Gaya Chicago / Turabian — sering dipakai di humaniora atau sejarah.
  • Gaya MLA — banyak dipakai di studi bahasa dan sastra.
  • Gaya kampus / instansi — kadang tiap universitas punya format sendiri, yang diadaptasi dari gaya di atas.

Intinya: yang penting konsisten. Setelah kamu memilih gaya (atau mengikuti aturan kampus), semua daftar pustaka harus ditulis sesuai gaya itu.

Elemen Penting dalam Daftar Pustaka

Setiap entri daftar pustaka umumnya terdiri dari beberapa informasi berikut:

  • Nama penulis (bisa satu, dua, atau lebih)
  • Tahun terbit
  • Judul karya (buku, artikel, dll)
  • Nama penerbit / lembaga penerbit
  • Kota penerbit (tergantung gaya)
  • Jika dari jurnal: nama jurnal, volume, nomor, halaman
  • Jika dari internet: URL dan tanggal akses
  • Jika dari sumber multimedia (video, audio): tambahan info durasi, jenis media, dan URL

Kalau ada informasi yang tidak diketahui (misalnya penulis anonim), kamu bisa memakai lembaga atau judul sebagai pengganti.

Cara Menulis Daftar Pustaka Berdasarkan Jenis Sumber

Berikut panduan praktis cara menulis daftar pustaka dari berbagai jenis sumber — tinggal sesuaikan gaya yang kamu pilih.

Buku

Format umum (contoh gaya “nama belakang, nama depan. Judul buku. Kota: penerbit, tahun”)
Contoh:

Kurniawan, Tri. Konsep Pertumbuhan Ekonomi. Yogyakarta: Media Nusantara, 2001.

Jika ada dua penulis:

Triyatno, A.H., dan Agung Barizi. Belajar Ilmu Statistika. Bandung: PT Gramedia, 2000.

Kalau lebih dari tiga: kadang dipakai “et al.” setelah nama pertama, tapi tergantung gaya.

BACA JUGA:  Aku Baru Baca Ide Gila Ini: Matahari Bakal Dipantulkan ke Bumi Saat Malam Hari

Jika buku disunting oleh orang (editor):

Lapian, A.B., dan Taufik Abdullah, ed. Indonesia dalam Arus Sejarah. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2007.

Artikel Jurnal

Format umum (nama penulis, tahun, “judul artikel”, nama jurnal, volume (no), halaman)
Contoh:

Sulismadi. “Model Penguatan Kapasitas Pemerintah Desa.” Jurnal Sosial Politik dan Humaniora 05, no. 2 (2017): 217.

Kalau dari jurnal elektronik, bisa ditambahkan URL di akhir.

Internet / Website

Kalau kamu ambil artikel dari web, format umum:

Nama belakang, nama depan. “Judul artikel.” Nama situs. Diakses tanggal x bulan y tahun. URL

Contoh:

Ridlo, Muhamad. “Canggihnya Pilkades Sistem E-voting di Pemalang.” Liputan6.com. Diakses 11 Oktober 2019.

Kalau tidak ada nama penulis:

“Manfaat Menanam di Pekarangan Rumah.” Dinas Pertanian Kota Bandung. Diakses 10 Mei 2025.

Skripsi, Tesis, Disertasi, Karya Ilmiah Lain

Format umum:

Nama belakang, nama depan. “Judul.” Jenis karya ilmiah, institusi, tahun.

Contoh:

Nanda, Galang Kris. “Strategi Pemenangan Sigit Pujiono dalam Pemilihan Kepala Desa Bulakan Tahun 2018.” Skripsi, Universitas Jenderal Soedirman, 2021.

Jika akses secara daring, tambahkan URL setelah tahun terbit.

Koran / Majalah / Media Cetak

Untuk koran:

Wahyudi, Johan. 2013. “Protes Cerdas Pendidik.” Suara Merdeka. 3 Oktober 2013.

Untuk media online versi koran atau majalah: sertakan URL dan tanggal akses.

Sumber Multimedia (Video, Audio, Musik)

Misalnya video YouTube:

Nama kanal. Judul video [Video]. Tanggal publikasi. Durasi. URL

Contoh:

Jabar Digital Service. Masa Depan Jawa Barat: Digitalisasi yang Berkelanjutan untuk Semua [Video]. 2024. Durasi: x menit.

Tips Supaya Daftar Pustaka Kamu Gak Acak-acakan

  • Urutkan entri berdasarkan abjad nama belakang penulis (atau kalau anonim, judulnya).
  • Gunakan indentasi gantung (baris kedua dan seterusnya menjorok ke kanan) agar lebih rapi.
  • Pastikan semua sumber yang kamu kutip (di teks) muncul di daftar pustaka, dan sebaliknya (kecuali kamu memang buat “bibliografi tambahan”).
  • Jangan campur gaya — misalnya jangan ada yang pakai menit, ada yang nggak; jangan ada yang judul miring, ada yang diapit kutip, semua harus sesuai gaya.
  • Jika ada lebih dari satu karya dari pengarang yang sama, urutkan berdasarkan tahun terbit, dari yang terlama ke terbaru.
  • Periksa kembali ejaan nama penulis, tahun, URL — kesalahan kecil bisa membuat sumber sulit dilacak.
BACA JUGA:  Netflix Mulai Serius Pakai AI, Tapi Tetap Percaya Kreativitas Manusia

Contoh Skenario Praktis

Bayangkan kamu menulis makalah tentang pengaruh literasi digital di kalangan remaja, dan kamu memakai:

  • Buku dari seseorang bernama Sari Dewi terbit 2020
  • Artikel jurnal dari Andi Setiawan (2022)
  • Artikel internet dari situs edukasi yang tidak punya nama penulis (misalnya “Literasi untuk Semua”)
  • Video wawancara YouTube

Maka daftar pustakanya kira-kira akan seperti ini (asumsi gaya kampus mengikuti format umum):

Andi Setiawan. “Peran Literasi Digital dalam Pembentukan Karakter Remaja.” *Jurnal Pendidikan & Teknologi* 10, no. 1 (2022): 45–60.  
Dewi, Sari. *Literasi Digital Remaja*. Bandung: Pustaka Remaja, 2020.  
“Literasi untuk Semua.” Edukasi.id. Diakses 5 September 2025. https://edukasi.id/literasi-untuk-semu a  
Kanal Edukasi. *Wawancara: Pandangan Guru tentang Literasi Digital* [Video]. 2023. Durasi: 15:30. https://www.youtube.com/…  

Kalau kampusmu punya format khusus, tinggal menyesuaikan elemen dan tanda baca sesuai pedoman kampus.

Kesalahan Umum yang Sering Terjadi

  • Melupakan tanggal akses untuk sumber daring.
  • Menuliskan URL tapi lupa menyertakan “diakses tanggal …”.
  • Menggunakan gaya yang tidak konsisten dalam satu daftar pustaka.
  • Lupa mencantumkan nama penulis atau salah ejaannya.
  • Menyisipkan URL yang terlalu panjang (terkadang kampus meminta versi pendek atau tanpa http).
  • Tidak menyertakan halaman jurnal atau volume kalau itu diperlukan.

Penutup

Nah, JBers, sekarang kamu punya panduan cara menulis daftar pustaka yang jelas dan bisa langsung dipraktikkan. Jangan sampai kamu gagal nilai karena daftar pustaka berantakan. Ingat, format itu penting, tapi konsistensi dan kesesuaian dengan aturan kampus lebih penting lagi.

Semangat menyusun daftar pustakanya!

Kalau artikel ini bermanfaat, jangan lupa share ke teman kamu yang juga sering galau gara-gara daftar pustaka ya!

Share:

Related News