OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, membuka lowongan kerja dengan gaji hingga US$555.000 per tahun untuk posisi yang terdengar aneh: Head of Preparedness.
Peran ini muncul di saat kemampuan AI berkembang sangat cepat, sementara regulasi global masih tertinggal jauh.
Bagi pengguna—termasuk di Indonesia—ini relevan karena menyangkut keamanan, kesehatan mental, dan risiko penyalahgunaan AI di dunia nyata.
Singkatnya, OpenAI sedang mencari orang yang bertugas memastikan AI tidak melangkah terlalu jauh sebelum manusia siap mengendalikannya.
OpenAI secara resmi mengumumkan pembukaan posisi Head of Preparedness, peran senior yang bertanggung jawab mengevaluasi dan mengurangi risiko dari model AI yang semakin canggih.
Menurut CEO OpenAI Sam Altman, posisi ini adalah “peran kritis” dan bukan pekerjaan ringan. Kandidat terpilih akan langsung “terjun” dan menghadapi tekanan sejak hari pertama.
Tugas utamanya mencakup:
- Mengidentifikasi ancaman baru dari AI tingkat lanjut
- Mengantisipasi penyalahgunaan AI, termasuk:
- Gangguan kesehatan mental
- Serangan siber
- Risiko biologis
- Memantau kemampuan AI yang berada di “frontier” atau batas terdepan teknologi
Beberapa orang yang sebelumnya menempati peran serupa dilaporkan tidak bertahan lama, menandakan tingkat stres dan kompleksitasnya sangat tinggi.
Kenapa Posisi Ini Muncul Sekarang?
Dalam beberapa bulan terakhir, kekhawatiran dari dalam industri AI sendiri semakin keras terdengar.
- Mustafa Suleyman, CEO Microsoft AI, mengatakan bahwa jika seseorang tidak merasa sedikit takut sekarang, kemungkinan besar ia tidak benar-benar memperhatikan perkembangan AI.
- Demis Hassabis, pendiri Google DeepMind, memperingatkan risiko AI yang bisa “keluar jalur” dan merugikan umat manusia.
- Yoshua Bengio, salah satu tokoh penting dalam sejarah AI, bahkan menyindir: “Sandwich saja lebih banyak aturannya dibanding AI.”
Masalah utamanya: regulasi AI masih minim, baik di tingkat nasional maupun internasional. Akibatnya, perusahaan teknologi—termasuk OpenAI—praktis harus mengatur dirinya sendiri.
Kekhawatiran ini bukan sekadar spekulasi.
AI dan Serangan Siber
Bulan lalu, Anthropic melaporkan kasus serangan siber pertama yang didukung AI secara semi-otonom, diduga melibatkan aktor negara dari Tiongkok. OpenAI sendiri mengakui bahwa model terbarunya hampir tiga kali lebih efektif dalam aktivitas peretasandibandingkan tiga bulan sebelumnya.
Artinya, kemampuan AI untuk membantu peretasan berkembang jauh lebih cepat daripada sistem keamanannya.
Dampak ke Kesehatan Mental
OpenAI saat ini juga menghadapi beberapa gugatan hukum serius:
- Kasus remaja 16 tahun di California yang bunuh diri, dengan klaim bahwa ChatGPT memberikan dorongan berbahaya
- Gugatan lain menyebut ChatGPT memperkuat delusi paranoid seorang pria di Connecticut, yang kemudian membunuh ibunya sebelum bunuh diri
OpenAI menyatakan sedang meninjau kasus-kasus ini dan mengklaim terus meningkatkan pelatihan ChatGPT agar:
- Mengenali tanda-tanda tekanan emosional
- Meredakan eskalasi percakapan
- Mengarahkan pengguna ke bantuan dunia nyata
Namun, sejauh ini belum ada detail teknis lengkap tentang bagaimana sistem tersebut bekerja atau seberapa efektif hasilnya.
AI di Indonesia
Dalam praktiknya, AI sudah digunakan luas di Indonesia—mulai dari belajar, kerja kreatif, coding, hingga curhat.
Masalahnya, AI bukan psikolog, bukan penasihat hukum, dan bukan otoritas kebenaran.
Yang perlu diwaspadai pengguna:
- Jangan mengandalkan AI untuk keputusan sensitif (mental, medis, hukum)
- Sadari bahwa AI bisa salah konteks atau memperkuat bias
- Gunakan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti manusia
Untuk regulator dan industri lokal, isu ini juga menjadi pengingat bahwa pengembangan AI perlu diiringi dengan standar etika dan mitigasi risiko, bukan hanya inovasi cepat.
Penutup
Lowongan “Head of Preparedness” di OpenAI menunjukkan satu hal: bahkan pembuat AI paling maju pun belum sepenuhnya yakin AI bisa dikendalikan tanpa risiko besar.
Ke depan, dunia akan menunggu apakah peran ini benar-benar mampu memperlambat potensi bahaya, tanpa mengorbankan manfaat AI yang sudah dirasakan luas.
Jika kamu merasa topik ini penting, bagikan artikel ini agar lebih banyak orang memahami sisi lain dari perkembangan AI.















