ByteDance merilis Doubao 2.0, versi terbaru dari model AI andalannya, di tengah momen strategis libur Tahun Baru Imlek. Pembaruan ini bukan sekadar peningkatan chatbot, tapi langkah menuju era “AI agent” yang bisa menjalankan tugas kompleks secara mandiri.
Langkah ini penting karena persaingan AI di China sedang memanas, terutama setelah DeepSeek sempat mencuri perhatian global tahun lalu. Bagi pengguna, perubahan ini bisa berarti AI yang lebih praktis untuk pekerjaan nyata—bukan cuma menjawab pertanyaan.
Singkatnya, Doubao 2.0 diposisikan sebagai senjata ByteDance untuk mempertahankan dominasinya di pasar AI domestik sekaligus memperkuat daya saing global.
Doubao 2.0: Bukan Lagi Sekadar Chatbot
Menurut laporan yang dilansir Taipei Times dan Caixin Global, ByteDance resmi meluncurkan seri Doubao-Seed-2.0 pada 14 Februari. Model ini disebut telah dioptimalkan untuk kebutuhan produksi skala besar dan tugas dunia nyata.
Jika sebelumnya model AI sering jago menjawab soal akademik tapi kesulitan menyelesaikan proyek praktis (misalnya membangun mini-program dari nol), Doubao 2.0 diklaim mampu menyusun alur kerja secara mandiri.
Versi “Pro” disebut memiliki kemampuan penalaran kompleks dan eksekusi multi-langkah yang diklaim setara GPT-5.2 dari OpenAI dan Gemini 3 Pro dari Google—dengan biaya penggunaan lebih rendah.
Kenapa Biaya Jadi Kunci?
Dalam praktiknya, AI agent membutuhkan pemrosesan token dalam jumlah besar karena harus:
- Memahami instruksi panjang
- Mengambil keputusan bertahap
- Menghasilkan output berlapis
Semakin kompleks tugasnya, semakin mahal biayanya. ByteDance menekankan bahwa efisiensi biaya ini akan krusial untuk adopsi massal.
Bagi pasar seperti Indonesia, faktor harga ini penting. Jika model lebih murah untuk dijalankan, startup lokal dan UMKM punya peluang lebih besar memanfaatkannya tanpa biaya infrastruktur tinggi.
Fokus ke Multimodal dan Video Real-Time
Doubao 2.0 meningkatkan kemampuan pemahaman multimodal:
- Membaca dokumen campuran grafik dan teks
- Analisis spasial dan visual
- Pemrosesan konteks panjang
- Analisis video real-time
Model ini juga diperkuat oleh peluncuran Seedance 2.0, model generasi video yang sempat viral di media sosial China dan mendapat sorotan internasional, termasuk dari Elon Musk di platform X.
Seedance saat ini masih dalam tahap beta, dengan fitur seperti:
- Rendering manusia fotorealistis
- Sinkronisasi suara otomatis
- Gerakan kamera sinematik
Kombinasi ini memperlihatkan strategi ByteDance yang agresif di AI konten visual—area yang relevan dengan ekosistem TikTok.
Persaingan Makin Panas Saat Libur Imlek
Momentum peluncuran dilakukan bertepatan dengan periode promosi Tahun Baru Imlek—masa di mana ratusan juta warga China aktif secara digital.
Data QuestMobile (Desember 2025) menunjukkan:
- Doubao: 155 juta pengguna aktif mingguan
- DeepSeek: 81,6 juta
- Tencent Yuanbao: 20,8 juta
Namun posisi ini tidak sepenuhnya aman.
Alibaba menggelontorkan 3 miliar yuan dalam bentuk kupon untuk menarik pengguna Qwen AI. Strategi ini membuat pengguna aktif harian Qwen melonjak dari 7 juta menjadi 58 juta dalam waktu singkat—hanya terpaut sekitar 23 juta dari Doubao pada hari yang sama.
Artinya, perang AI di China kini bukan hanya soal teknologi, tapi juga promosi dan ekosistem.
Apa Artinya bagi Industri dan Indonesia?
1. Era AI Agent Semakin Nyata
AI kini bergerak dari sekadar “menjawab” menjadi “mengerjakan”. Ini relevan untuk:
- Automasi bisnis
- Customer service cerdas
- Asisten kerja digital
- Pembuatan aplikasi sederhana
Jika model seperti ini tersedia secara global, developer Indonesia bisa menggunakannya untuk:
- Membangun chatbot e-commerce otomatis
- AI admin UMKM
- Sistem rekomendasi konten
2. Perang Harga Bisa Untungkan Pengguna
Jika klaim efisiensi biaya benar, pasar global berpotensi menikmati:
- API lebih murah
- Integrasi AI lebih luas
- Akses enterprise lebih terjangkau
Namun sejauh ini belum ada detail transparan mengenai benchmark independen atau hasil uji pihak ketiga.
3. Risiko dan Batasan
Beberapa hal yang masih belum jelas:
- Performa nyata di luar klaim perusahaan
- Batasan keamanan dan kontrol AI agent
- Regulasi lintas negara jika diperluas global
AI agent yang mampu menjalankan tugas mandiri juga membawa risiko:
- Kesalahan eksekusi otomatis
- Penyalahgunaan dalam skala besar
- Isu privasi jika terhubung ke sistem sensitif
Pengguna dan bisnis tetap perlu menerapkan:
- Pembatasan akses data
- Monitoring aktivitas AI
- Validasi manual untuk tugas penting
Cara Pengguna Bisa Memanfaatkan Tren Ini
Jika kamu pelaku bisnis atau developer, yang bisa dilakukan sekarang:
- Pantau ketersediaan API global Doubao
- Bandingkan biaya dan performa dengan model lain
- Gunakan sandbox atau mode eksperimen sebelum implementasi penuh
- Jangan sepenuhnya menyerahkan keputusan krusial ke AI agent
Untuk pengguna umum, tren ini berarti:
- Chatbot akan makin “pintar”
- Fitur AI di aplikasi akan lebih otomatis
- Interaksi digital akan terasa lebih proaktif
Penutup
Peluncuran Doubao 2.0 menunjukkan bahwa persaingan AI global semakin ketat, terutama dari China. Fokus pada AI agent dan efisiensi biaya bisa menjadi pembeda utama di fase berikutnya.
Yang menarik untuk ditunggu adalah bagaimana performa model ini di luar klaim internal dan apakah ekspansi global akan segera menyusul.
Kalau menurut kamu, AI agent seperti ini bakal lebih membantu atau justru bikin ketergantungan makin besar? Bagikan artikel ini dan diskusikan dengan temanmu.














