Negara bagian New York resmi mengesahkan aturan baru yang mewajibkan platform media sosial menampilkan label peringatan kepada penggunanya.
Aturan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran soal dampak media sosial terhadap kesehatan mental, terutama pada anak dan remaja.
Bagi pengguna, ini menandai perubahan besar: fitur yang selama ini terasa “normal” kini secara resmi dianggap berisiko jika digunakan berlebihan.
Singkatnya, negara mulai ikut campur dalam cara media sosial dirancang dan dikonsumsi.
Ringkasan Cepat
- Apa update-nya: New York mewajibkan media sosial menampilkan label peringatan mirip bungkus rokok.
- Siapa yang terdampak: Pengguna media sosial di New York, terutama remaja dan anak-anak.
- Yang perlu diwaspadai: Fitur seperti infinite scroll, autoplay, dan feed algoritmik kini dikategorikan berisiko.
Apa yang Diatur dalam Undang-Undang Baru Ini
Undang-undang yang ditandatangani Gubernur New York, Kathy Hochul, menargetkan platform seperti TikTok dan X yang mengandalkan desain adiktif.
Menurut laporan Mashable, fitur seperti scroll tanpa akhir, video autoplay, dan feed berbasis algoritma dianggap sebagai fitur “predatory” atau berpotensi mengeksploitasi perilaku pengguna.
Platform wajib:
- Menampilkan peringatan saat pertama kali pengguna mengakses fitur tersebut
- Mengulang peringatan secara berkala selama penggunaan
- Menerapkan aturan ini berdasarkan lokasi pengguna, bukan kantor perusahaan
Artinya, selama aplikasi diakses dari wilayah New York, aturan tetap berlaku.
Kenapa Pemerintah Ikut Turun Tangan Sekarang
Langkah ini tidak datang tiba-tiba. Sejumlah riset dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan hubungan antara penggunaan media sosial berlebihan dan kondisi kesehatan mental.
Salah satu studi besar multi-tahun yang dirilis tahun ini menemukan:
- Peningkatan penggunaan media sosial pada anak dan remaja diikuti naiknya gejala depresi
- Namun, anak yang sudah depresi tidak otomatis menggunakan media sosial lebih banyak
Kesimpulan peneliti cukup tegas: pola penggunaan digital tertentu berpotensi memperburuk kondisi mental, bukan sekadar mencerminkannya.
Fitur yang Disorot: Apa Bedanya Dulu dan Sekarang
Sebelumnya
- Infinite scroll dan autoplay dianggap fitur standar
- Tanggung jawab penggunaan sepenuhnya di tangan pengguna
Sekarang
- Fitur tersebut diakui punya dampak psikologis
- Negara meminta platform memberi peringatan eksplisit
Analogi sederhananya: seperti makanan cepat saji. Bukan dilarang, tapi konsumen diberi tahu risikonya sebelum terlalu sering mengonsumsi.
Respons Platform: Perbaikan atau Strategi Bertahan?
Tekanan regulasi juga membuat platform mulai bergerak. TikTok, misalnya, telah menambah:
- Blokir waktu layar
- Jadwal akses aplikasi
- Transparansi aktivitas akun remaja ke orang tua
TikTok menyebut langkah ini sebagai upaya membangun kebiasaan digital yang lebih sehat.
Namun, kritik tetap ada. Banyak pihak menilai selama desain utama seperti autoplay dan algoritma agresif masih dipertahankan, risiko kecanduan tetap tinggi.
Apa Artinya bagi Pengguna di Indonesia
Meski aturan ini hanya berlaku di New York, dampaknya bisa meluas:
- Regulasi serupa berpotensi diadopsi negara lain
- Platform bisa menerapkan standar global demi efisiensi
- Diskusi soal kesehatan mental digital di Indonesia bisa ikut terdorong
Dalam praktiknya, pengguna Indonesia juga menghadapi pola konsumsi yang sama: scroll panjang, notifikasi tanpa henti, dan konten algoritmik.
Yang Perlu Dilakukan Pengguna Sekarang
Beberapa langkah praktis yang bisa mulai diterapkan:
- Aktifkan screen time reminder di aplikasi
- Matikan autoplay jika tersedia
- Tetapkan jam bebas media sosial, terutama malam hari
- Untuk orang tua: manfaatkan fitur parental control yang ada
Ini bukan soal berhenti total, tapi mengembalikan kontrol ke pengguna.
Penutup
Aturan New York menandai fase baru hubungan antara pemerintah dan media sosial. Bukan lagi sekadar platform hiburan, tapi produk yang diakui punya dampak kesehatan.
Ke depan, menarik untuk melihat apakah langkah ini memicu regulasi global atau perubahan desain yang lebih ramah pengguna.
Jika kamu merasa topik ini relevan, bagikan artikel ini agar makin banyak orang sadar soal cara kita menggunakan media sosial.















