CEO Meta Mark Zuckerberg tampil sebagai saksi kunci dalam sidang besar di Los Angeles yang menuduh Instagram dirancang agar membuat anak dan remaja “ketagihan”.
Kasus ini penting karena bisa menentukan sejauh mana perusahaan media sosial bertanggung jawab atas dampak kesehatan mental penggunanya. Jika juri memutuskan Meta bersalah, efeknya bisa merambat ke ribuan gugatan serupa.
Bagi pengguna Indonesia, putusan ini berpotensi memengaruhi fitur Instagram, kebijakan usia, hingga cara platform merekomendasikan konten ke remaja.
Apa yang Terjadi di Ruang Sidang?
Menurut laporan yang dilansir NPR (Jumat, 20 Feb 2026), Zuckerberg beberapa kali terlihat defensif saat ditanya pengacara penggugat mengenai dokumen internal Meta.
Dalam sidang tersebut, tim hukum penggugat menyoroti sejumlah dokumen perusahaan yang menunjukkan:
- Anak usia 11 tahun disebut empat kali lebih mungkin kembali menggunakan aplikasi Meta dibanding pengguna yang lebih tua (data internal 2020).
- Dokumen 2015 memperkirakan sekitar 30% anak usia 10–12 tahun di AS sudah menggunakan Instagram, meski batas usia resmi adalah 13 tahun.
- Email internal 2018 menyebut pentingnya “membawa pengguna sejak usia pra-remaja” untuk memenangkan pasar remaja.
Zuckerberg mengakui bahwa banyak pengguna berbohong soal usia saat mendaftar. Namun ia menegaskan bahwa menegakkan aturan usia bukan hal mudah.
Sidang ini diperkirakan berlangsung enam minggu dan menjadi bagian dari 1.600 gugatan serupa yang diajukan keluarga dan distrik sekolah di AS.
Gugatan: Instagram Disebut Dirancang Seperti “Kasino Digital”

Penggugat, seorang perempuan 20 tahun dari California yang diidentifikasi sebagai “Kaley”, mengaku mulai menggunakan media sosial sejak usia sangat muda: YouTube di usia 6 tahun, Instagram di usia 9 tahun.
Gugatannya menyoroti sejumlah fitur seperti:
- Beauty filter (filter wajah yang memperhalus tampilan)
- Infinite scroll (gulir tanpa batas)
- Autoplay video otomatis
Fitur-fitur ini disebut bekerja seperti “kasino digital” — dirancang agar pengguna terus bertahan di aplikasi.
Dalam persidangan, pengacara Kaley bahkan menampilkan kolase selfie sepanjang 10 meter yang ia unggah semasa kecil. Mereka menuduh filter kecantikan memperburuk masalah citra tubuh dan kesehatan mentalnya.
Meta sebelumnya sempat mempertimbangkan dampak filter terhadap remaja. Namun Zuckerberg menyatakan bahwa menghapusnya sepenuhnya dianggap terlalu “menggurui”. Perusahaan memilih tetap menyediakan filter, tetapi tidak merekomendasikannya secara aktif.
Posisi Meta dan Google
Meta dan Google (pemilik YouTube) membantah tuduhan tersebut.
Mereka berargumen bahwa:
- Masalah kesehatan mental remaja bersifat kompleks.
- Tidak ada bukti ilmiah bahwa media sosial menjadi satu-satunya penyebab depresi atau kecemasan.
- Platform tidak bisa dianggap sepenuhnya bertanggung jawab atas kondisi psikologis pengguna.
Tim penggugat menghadirkan ahli yang mengaitkan penggunaan media sosial intensif dengan peningkatan depresi, kecemasan, dan gangguan citra tubuh. Namun kubu perusahaan menyebut korelasi tidak sama dengan sebab-akibat.
Mengapa Kasus Ini Berbeda?
Selama bertahun-tahun, perusahaan teknologi di AS dilindungi oleh hukum bernama Section 230 (Undang-Undang 1996), yang membatasi tanggung jawab platform atas konten yang diposting pengguna.
Namun dalam kasus ini, pendekatannya berbeda.
Penggugat tidak menuduh Meta atas isi konten pengguna, melainkan memperlakukan Instagram sebagai produk yang cacat desain (product liability). Artinya, yang dipersoalkan adalah bagaimana aplikasi dirancang, bukan sekadar apa yang diposting di dalamnya.
Jika juri menerima argumen ini, dampaknya bisa besar bagi industri teknologi global.
Dampak Potensial ke Pengguna Indonesia
Walau sidang berlangsung di AS, efek kebijakannya bisa terasa luas.
Jika Meta kalah, kemungkinan yang bisa terjadi:
- Pembatasan fitur tertentu untuk akun remaja
- Verifikasi usia lebih ketat
- Perubahan algoritma rekomendasi
- Pengurangan fitur yang dianggap memicu kecanduan
Dalam praktiknya, Indonesia adalah salah satu pasar Instagram terbesar di dunia. Perubahan global biasanya diterapkan merata, termasuk di sini.
Apa yang Masih Belum Jelas?
Sejauh ini belum ada kepastian:
- Apakah juri akan menyatakan Meta bertanggung jawab secara hukum
- Apakah fitur seperti infinite scroll akan dibatasi
- Bagaimana model bisnis media sosial akan terdampak
Putusan ini juga bisa memicu gelombang regulasi baru, terutama terkait perlindungan anak di dunia digital.
Yang Perlu Kamu Lakukan Sekarang
Terlepas dari hasil sidang, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Aktifkan kontrol orang tua (parental control) untuk akun remaja
- Gunakan fitur Screen Time / Digital Wellbeing
- Nonaktifkan notifikasi yang tidak penting
- Diskusikan penggunaan media sosial dengan anak atau remaja di rumah
Cara cek akun remaja:
- Masuk ke Pengaturan Instagram
- Pilih “Supervisi” atau “Pengawasan”
- Periksa batas waktu penggunaan
Kesimpulan
Sidang Meta vs Kaley bukan sekadar kasus individu. Ini bisa menjadi penentu arah regulasi media sosial di masa depan.
Keputusan juri akan menjadi acuan bagi 1.600 gugatan lain yang sedang menunggu. Jika hasilnya berpihak pada penggugat, industri teknologi kemungkinan harus meninjau ulang desain produknya, terutama yang menyasar remaja.
Kita tunggu perkembangan berikutnya. Jika menurut kamu isu ini penting untuk orang tua dan pengguna muda di Indonesia, bagikan artikel ini agar makin banyak yang sadar soal dampak desain media sosial.












