Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di tempat kerja ternyata bukan sekadar tren. Survei terbaru PwC menunjukkan pekerja Indonesia yang memakai generative AI setiap hari merasakan lonjakan produktivitas, rasa aman kerja, hingga kenaikan gaji.
Temuan ini penting karena adopsi AI sedang dipercepat di berbagai industri. Bagi pekerja di Indonesia, hasil survei ini memberi sinyal: kemampuan memanfaatkan AI bisa berdampak langsung pada karier dan penghasilan.
Singkatnya, semakin rutin kamu memakai AI dalam pekerjaan, semakin besar peluang merasakan manfaatnya.
Pengguna AI Harian Rasakan Dampak Nyata
Berdasarkan PwC Global Workforce Hopes & Fears Survey 2025 yang dirilis 23 Februari 2026 dan dilaporkan melalui situs resmi PwC Indonesia, terdapat perbedaan signifikan antara pengguna AI harian dan pengguna yang jarang.
Survei ini melibatkan hampir 50.000 responden di 48 negara dan 28 sektor industri, termasuk 812 responden dari Indonesia. Pengumpulan data dilakukan pada 7 Juli–18 Agustus 2025.
Di Indonesia, angkanya lebih tinggi dari rata-rata global:
Pengguna GenAI harian di Indonesia:
- 96% merasa produktivitas meningkat
- 82% merasa lebih aman dengan pekerjaannya
- 72% melaporkan kenaikan gaji
Sebagai perbandingan, secara global:
- 92% pengguna harian merasakan produktivitas naik
- 58% merasa lebih aman
- 52% mendapat kenaikan gaji
Data ini juga dikutip oleh Kompas.com dalam laporan terbarunya Perbedaannya cukup kontras. Artinya, pekerja di Indonesia yang aktif memakai AI cenderung merasakan dampak lebih kuat dibandingkan rata-rata global.

Tapi Adopsi Harian Masih Rendah
Meski manfaatnya jelas, penggunaan AI secara rutin ternyata belum merata.
Tingkat adopsi:
Global:
- 54% menggunakan AI dalam 12 bulan terakhir
- Hanya 14% memakai GenAI setiap hari
- 6% menggunakan agentic AI harian
Indonesia:
- 69% sudah memakai AI dalam setahun terakhir
- 16% menggunakan GenAI setiap hari
- 8% menggunakan agentic AI harian
Artinya, mayoritas pekerja Indonesia sudah mencoba AI, tetapi belum menjadikannya bagian dari rutinitas kerja.
Dalam praktiknya, banyak pekerja masih memakai AI sebatas untuk membantu menulis email, membuat ringkasan, atau brainstorming ide. Padahal, pengguna harian biasanya sudah mengintegrasikan AI dalam alur kerja utama—mulai dari analisis data, pembuatan laporan, hingga pengambilan keputusan.
Kesenjangan Akses Skill Masih Ada
Survei ini juga menyoroti “upskilling divide” atau kesenjangan akses pelatihan.
Secara global:
- 51% non-manajer merasa punya akses belajar yang cukup
- 72% eksekutif senior merasa memiliki akses memadai
Di Indonesia:
- 64% non-manajer merasa punya akses
- 89% eksekutif senior merasa didukung
Artinya, semakin tinggi jabatan, semakin besar peluang mendapat akses pengembangan keterampilan.
Ini jadi catatan penting. Jika AI menjadi alat kerja utama ke depan, akses pelatihan yang tidak merata bisa memperlebar jarak kompetensi antar level jabatan.
Perubahan Besar Diperkirakan Terjadi
Pekerja Indonesia juga memprediksi perubahan signifikan dalam tiga tahun ke depan:
- 49% memperkirakan perubahan regulasi berdampak besar
- 45% melihat transformasi teknologi sebagai faktor utama
- 44% menilai geopolitik dan perubahan preferensi pelanggan akan memengaruhi pekerjaan
Menariknya, di kalangan pengguna GenAI harian, 74% percaya transformasi teknologi akan berdampak besar. Ini menunjukkan bahwa mereka yang sudah akrab dengan AI cenderung lebih sadar akan perubahan yang sedang berlangsung.
Tekanan Finansial: Lebih Rendah dari Global
Soal tekanan finansial, Indonesia menunjukkan tren yang sedikit lebih baik dibanding global.
Global:
- 55% mengalami tekanan finansial
- 35% merasa kewalahan tiap minggu
Indonesia:
- 49% mengalami tekanan finansial (turun dari 61% tahun sebelumnya)
- 25% merasa kewalahan
Namun, promosi jabatan tetap rendah. Hanya 10% pekerja Indonesia yang mendapat promosi dalam setahun terakhir, meskipun 53% menerima kenaikan gaji.
Apa Artinya Bagi Pekerja Indonesia?
Ada beberapa implikasi praktis:
1. AI bukan lagi “nilai tambah”, tapi kebutuhan
Jika mayoritas pengguna harian merasakan kenaikan produktivitas dan kompensasi, maka kemampuan memakai AI berpotensi menjadi standar baru.
2. Skill AI bisa memengaruhi rasa aman kerja
Rasa aman bukan hanya soal kontrak, tapi juga relevansi skill. Pekerja yang terbiasa memakai AI tampaknya merasa lebih siap menghadapi perubahan.
3. Risiko jika tidak beradaptasi
Sejauh ini belum ada detail resmi apakah perusahaan akan mewajibkan penggunaan AI. Namun, tren menunjukkan organisasi mulai mendesain ulang cara kerja berbasis kolaborasi manusia-mesin.
Jika tidak mengikuti perkembangan ini, risiko tertinggal kompetensi cukup nyata.
Langkah yang Bisa Dilakukan Sekarang
Untuk pekerja:
- Mulai gunakan AI dalam tugas harian, bukan hanya sesekali
- Pelajari cara membuat prompt yang efektif
- Ikuti pelatihan internal atau kursus online terkait AI
- Evaluasi: tugas mana yang bisa diotomatisasi atau dipercepat
Untuk perusahaan:
- Pastikan akses pelatihan merata hingga level non-manajerial
- Bangun budaya belajar yang aman secara psikologis
- Integrasikan AI dalam proses kerja, bukan sekadar eksperimen
Kesimpulan
Survei PwC 2025 menunjukkan satu pola yang konsisten: pekerja yang menggunakan AI setiap hari merasakan manfaat lebih besar, baik dari sisi produktivitas, keamanan kerja, maupun gaji.
Namun adopsi harian masih rendah dan akses pengembangan skill belum sepenuhnya merata. Ke depan, yang akan menentukan bukan hanya apakah kamu memakai AI, tetapi seberapa dalam AI menjadi bagian dari cara kamu bekerja.
Menarik untuk ditunggu bagaimana perusahaan di Indonesia akan merespons temuan ini dalam satu hingga dua tahun ke depan.
Kalau menurut kamu, apakah AI di tempat kerja sudah terasa manfaatnya? Bagikan artikel ini ke rekan kerja kamu dan diskusikan bersama.












