Konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak hanya terjadi melalui serangan udara dan rudal. Di balik operasi militer tersebut, serangan siber diyakini memainkan peran penting dalam melemahkan kemampuan Iran.
Meski jarang dibahas secara terbuka oleh pejabat militer, sejumlah petunjuk menunjukkan bahwa perang digital menjadi bagian dari strategi utama operasi militer modern. Serangan ini dapat digunakan untuk mengganggu komunikasi, memata-matai target, hingga melumpuhkan sistem pertahanan.
Bagi dunia keamanan global, perkembangan ini memperlihatkan bahwa perang modern kini tidak hanya terjadi di darat, laut, dan udara, tetapi juga di dunia maya.
Operasi Siber Sudah Disiapkan Sebelum Serangan Militer
Menurut laporan yang dilansir melalui situs BBC pada 12 Maret 2026, operasi siber diduga sudah dilakukan jauh sebelum serangan militer dilancarkan.
Dalam konferensi pers, Ketua Kepala Staf Gabungan Pentagon Jenderal Dan Caine menjelaskan bahwa operasi militer tersebut dipersiapkan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Salah satu tahap pentingnya adalah menyusun “target set”, yaitu daftar target yang akan diserang.
Dalam tahap ini, para peretas militer kemungkinan telah:
- menyusup ke jaringan komputer penting di Iran
- memantau sistem pertahanan udara
- mengakses komunikasi militer
Dengan cara ini, serangan fisik yang terjadi kemudian dapat dilakukan dengan lebih presisi.
Kamera CCTV Diduga Diretas untuk Mengawasi Target
Sumber yang dikutip oleh Financial Times menyebut bahwa Israel diduga meretas kamera CCTV dan kamera lalu lintas di Iran.
Tujuannya adalah membangun jaringan pengawasan besar untuk memantau aktivitas target militer.
Menurut ahli intelijen ancaman dari perusahaan keamanan siber Check Point, Sergey Shykevich, kamera yang terhubung internet menjadi target menarik dalam perang siber.
Kamera tersebut dapat memberikan:
- informasi situasi secara real-time
- pemantauan pergerakan kendaraan atau orang
- data aktivitas di lokasi tertentu
Teknologi ini membantu militer mempelajari “pattern of life”, yaitu pola aktivitas target yang menjadi sasaran operasi.
Informasi tersebut biasanya digabung dengan metode intelijen tradisional seperti mata-mata manusia.
Serangan Siber Diduga Lumpuhkan Komunikasi Iran

Setelah operasi militer dimulai, serangan siber juga diduga digunakan untuk mengganggu kemampuan komunikasi Iran.
Komandan US Central Command, Laksamana Brad Cooper, menyebut operasi militer dilakukan dari:
- dasar laut
- luar angkasa
- hingga dunia siber
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan bahwa militer Iran mengalami kesulitan berkomunikasi dan mengoordinasikan serangan.
Beberapa analis menduga kemungkinan terjadi:
- gangguan pada jaringan komunikasi
- pemadaman menara telepon
- atau jamming sinyal
Strategi seperti ini pernah digunakan dalam konflik lain, termasuk perang di Ukraina.
Jika komunikasi militer terganggu, pasukan akan lebih sulit:
- memberi peringatan
- mengoordinasikan pertahanan
- merespons serangan musuh
Aplikasi Populer Iran Diduga Disusupi
Dalam perkembangan lain, Israel juga dituduh meretas aplikasi waktu salat populer di Iran bernama BadeSaba.
Aplikasi tersebut memiliki sekitar 5 juta unduhan.
Laporan Reuters menyebut pengguna menerima notifikasi yang berbunyi “help has arrived” tepat saat serangan bom dimulai.
Jika benar, ini menunjukkan bahwa aplikasi populer juga bisa digunakan sebagai alat propaganda atau operasi psikologis dalam perang siber.
AI Diduga Ikut Digunakan dalam Operasi Intelijen
Operasi militer modern juga semakin memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).
Teknologi ini dapat membantu menganalisis berbagai data seperti:
- citra satelit
- data intelijen terbuka
- pola aktivitas target
Menurut pejabat Pentagon, AI digunakan untuk membantu menemukan dan melacak target militer secara lebih cepat.
Meski begitu, detail teknis mengenai penggunaan teknologi ini masih dirahasiakan.
Iran Masih Minim Serangan Siber Balasan
Hal yang cukup mengejutkan adalah minimnya aktivitas serangan siber dari Iran sejauh ini.
Padahal Iran selama ini dikenal memiliki kemampuan cyber yang cukup kuat.
Beberapa serangan besar yang pernah dikaitkan dengan Iran antara lain:
- serangan malware terhadap perusahaan minyak Saudi Aramco pada 2012 yang merusak sekitar 30.000 komputer
- upaya serangan terhadap infrastruktur penting negara lain
Baru-baru ini kelompok hacker yang diduga terkait Iran, Handala, dilaporkan menyerang perusahaan teknologi medis Stryker menggunakan wiper malware, yaitu malware yang dirancang untuk menghapus data secara permanen.
Namun para pakar memperingatkan bahwa Iran kemungkinan masih memiliki kemampuan untuk melakukan serangan balasan.
Beberapa serangan bahkan bisa dilakukan melalui kelompok hacker yang mengaku independen tetapi sebenarnya terkait negara.
Mengapa Operasi Siber Jarang Dibahas Secara Terbuka
Berbeda dengan senjata konvensional, operasi siber sering dirahasiakan.
Menurut pakar keamanan siber dan mantan spesialis militer Israel Tal Kollender, membuka detail operasi siber dapat mengungkap:
- teknik peretasan yang digunakan
- akses ke jaringan musuh
- sumber intelijen rahasia
Jika informasi tersebut terbuka, musuh dapat segera menutup celah keamanan yang dimanfaatkan.
Karena itu, banyak operasi siber besar tidak pernah dikonfirmasi secara resmi, seperti kasus serangan Stuxnet terhadap fasilitas nuklir Iran pada 2010.
Perang Modern Kini Melibatkan Dunia Maya
Konflik yang terjadi saat ini menunjukkan bagaimana cyber warfare menjadi bagian penting dari strategi militer modern.
Serangan siber dapat digunakan untuk:
- mengumpulkan intelijen
- mengganggu komunikasi lawan
- membantu operasi militer di lapangan
Namun hingga kini masih banyak perdebatan mengenai aturan hukum internasional terkait perang siber, termasuk batasan penggunaan kekuatan digital dalam konflik bersenjata.
Penutup
Perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memperlihatkan bahwa operasi siber kini menjadi elemen penting dalam strategi militer modern.
Meski detailnya jarang diungkap ke publik, berbagai petunjuk menunjukkan bahwa dunia maya kini menjadi medan pertempuran baru yang bisa menentukan keberhasilan operasi militer.
Ke depan, perhatian global kemungkinan akan semakin tertuju pada bagaimana cyber warfare digunakan dalam konflik internasional serta bagaimana aturan hukumnya akan berkembang.
Jika kamu ingin memahami lebih banyak tentang perkembangan teknologi keamanan siber dan geopolitik digital, bagikan artikel ini agar lebih banyak orang mengetahui bagaimana perang modern berubah.
















