Kebiasaan “googling” perlahan mulai bergeser. OpenAI mengklaim volume pencarian yang dilakukan lewat ChatGPT kini mencapai sekitar seperlima, atau 20 persen, dari volume pencarian di Google. Angka itu disampaikan Adam Fry, kepala produk konsumen ChatGPT, dalam sebuah acara di New York pada awal November 2026, seperti dilaporkan The Verge.
Dalam kesempatan yang sama, OpenAI menyebut jumlah pengguna mingguan ChatGPT naik dari 1 miliar menjadi 1,2 miliar hanya dalam dua bulan. Bagi banyak orang, bertanya ke chatbot kini menjadi langkah pertama ketika mencari resep, membandingkan produk, atau memahami sebuah berita.
Bagaimana OpenAI Menghitungnya?
Menurut OpenAI, satu “pencarian” dihitung setiap kali pengguna mengajukan pertanyaan yang membuat ChatGPT menelusuri web untuk menjawabnya. Jadi, tidak semua percakapan dihitung. Permintaan menulis email atau membuat kode, misalnya, tidak termasuk kecuali ChatGPT ikut mencari informasi di internet.
Masalahnya, OpenAI tidak membuka data dan metode yang dipakai untuk membandingkan angka itu dengan Google. Google sendiri pernah menyebut memproses sekitar 5 triliun pencarian per tahun, tetapi data tersebut berasal dari periode yang berbeda.
Perkiraan Pihak Lain Lebih Rendah
Sejumlah lembaga riset independen memberikan angka yang lebih kecil. Perusahaan data pencarian seoClarity memperkirakan aktivitas pencarian harian ChatGPT sekitar 7,5 persen dari Google pada Oktober 2026. Sementara itu, Ahrefs memperkirakan sekitar 12 persen pada Februari 2026, dan mencatat bahwa hanya sebagian percakapan di ChatGPT yang benar-benar berupa pencarian murni seperti mencari fakta, produk, atau resep.
Selain itu, volume pencarian tidak sama dengan pangsa pasar. Banyak orang memakai keduanya sekaligus. Data Similarweb yang dirilis Agustus 2026 menunjukkan 95 persen pengguna ChatGPT juga tetap menggunakan Google. Artinya, ChatGPT lebih tepat disebut menambah cara orang mencari informasi, belum menggantikan Google sepenuhnya.
Kapan Pakai AI, Kapan Pakai Mesin Pencari?
Chatbot AI unggul untuk pertanyaan yang butuh penjelasan atau ringkasan, misalnya “apa bedanya paket internet A dan B” atau “jelaskan cara kerja patch keamanan”. Jawabannya langsung tersusun tanpa harus membuka banyak tab.
Namun, untuk informasi yang harus tepat dan terbaru, seperti jadwal layanan publik, nomor kontak resmi, harga terkini, atau informasi kesehatan, mesin pencari dan situs resmi tetap lebih bisa diandalkan. Beberapa kebiasaan yang patut dijaga saat mencari lewat AI:
- Cek sumbernya. Klik tautan yang dicantumkan AI dan pastikan isinya memang mendukung jawaban.
- Waspadai jawaban terlalu yakin. AI bisa keliru atau “mengarang” detail, terutama untuk angka dan tanggal.
- Jangan cari nomor layanan pelanggan lewat AI saja. Nomor palsu kerap dipakai penipu; selalu cocokkan dengan situs atau aplikasi resmi.
- Hindari memasukkan data pribadi sensitif seperti nomor KTP atau rekening ke dalam percakapan.
Dampaknya bagi Pengguna dan Situs Web
Bagi pengguna, persaingan ini membawa kabar baik: mencari informasi kini makin cepat, dan Google sendiri ikut menambahkan jawaban berbasis AI ke hasil pencariannya. Di sisi lain, pergeseran ini menjadi tantangan bagi situs berita, toko daring, dan pelaku UMKM yang selama ini mengandalkan kunjungan dari Google. Jika orang cukup membaca ringkasan dari AI, jumlah klik ke situs aslinya bisa berkurang. Karena itu, pembaca tetap disarankan membuka sumber aslinya, bukan hanya agar informasinya lebih lengkap, tetapi juga untuk memastikan jawaban AI benar.















