Vlogger Indonesia Ini Ungkap Kehidupan di Korut yang Sebenarnya


Korea Utara bisa dibilang sebagai salah satu negara yang tertutup. Karena itu banyak yang tidak tahu mengenai bagaimana keadaan serta kehidupan para warganya. Namun sepertinya kini kita bisa tahu mengenai bagaimana keadaan warga Korut sehari-hari. Semua itu berkat jasa vlogger Indonesia bernama Jaka Parker.

Jaka Parker, warga Indonesia yang sempat tinggal di Korea Utara selama beberapa tahun, berbagi cerita lewat laman YouTube. Dia mengabadikan dan menceritakan kegiatan sehari-harinya di negara komunis itu. Selama di sana, dia menggunakan action-cam yang diletakkan di dadanya.

“Kehidupan sehari-hari di Korea Utara berlangsung normal. Saya dan keluarga, khususnya istri saya, tidak pernah mendapatkan perlakuan diskriminatif dari masyarakat lokal. Hanya saja, saat musim panas tiba, istri saya sering mendapatkan tatapan dari warga karena ia berhijab. Mereka pasti bingung mengapa ada orang yang berpakaian tertutup hingga ke kepala di cuaca yang panas. Namun selebihnya, istri saya selalu mendapatkan perlakuan yang normal-normal saja,” katanya seperti dikutip dari Rapplercom, Senin (24/7/2017).

View this post on Instagram

Me with my wife & my 3rd daughter. – Last weekend (16-17 January 2016) we visited #Masikryong Ski Resort. While there we were enjoyed a wide range of facilities provided such as skiing & cable car that was newly installed on 2015 ago. There were few changes compared to last year, such as: 1. Hotel price increased, in 2015 it was $98/night, this year $150/night. 2. Skiing price increased too, in 2015 skiing for adults is $11, this year $40. For childrens under 13 years old the price was $7 last year, this year rose to $22. 3. Last year the temperature in the room was very hot, we even had to open the window to get the warmer temperature, but this year temperature in the room is warm which is better. 4. Last year #electricity is very stable, but this year we experienced frequent power #failure, even we had to wait for the elevator to work. 5. This year we found some of the equipments in my hotel room didn't work like the kettle & hair dryer. 6. Water (mostly hot water) frequently off.

A post shared by Jaka Parker (@jakaparker) on

Selama ini kita mengira bahwa semua orang, termasuk orang asing, tidak boleh memiliki agama di Korut. Ternyata aturan untuk tidak boleh memiliki agama hanya berlaku buat para penduduk di Korea Utara. Sedangkan untuk warga asing, semua sah-sah saja. Buktinya Jaka Parker masih bisa menunaikan salat Jumat di salah satu masjid di KBRI Indonesia di sana.

“Setiap hari Jumat, saya juga bisa melakukan ibadah salat Jumat dengan nyaman di masjid kompleks Kedutaan Besar Iran. Begitu pula saat lebaran tiba. Umat Islam di Pyongyang dapat beribadah dengan tenang,” katanya.

View this post on Instagram

Happy jumu'ah ( #friday ) to all muslims in the whole world – Today 15 January, 2016 – As usual we are muslims in pyongyang do jumu'ah prayer, usually we do prayer at Ar-Rahman mosque inside the embassy of Iran area, but today we do jumu'ah prayer inside the main building of Iranian embassy because ArRahman mosque is under renovation. It's nice I still can do the prayer and meet the muslim people in this unique country. Just for information, the countries which has diplomatic relations with DPRK are mostly from muslim majority countries such as Egypt, Iran, Syiria, Pakistan, Nigeria, Malaysia, Palestine, and Indonesia. – #pyongyang #northkorea #dprk #korea #koreautara #video #videography #videografi #travel #sharetravelpics #traveling #travelling #traveler #storyful #story #travelvideografi #travelvideography #instagram #insidenorthkorea #thiskoreanlife #livefromnorthkorea #dprkdailylife #northkoreadailylife #friday #happyfriday #jumatandikoreautara #?? #indonesiaphotographer #photographerindonesia #LovePeaceIslam

A post shared by Jaka Parker (@jakaparker) on

Seperti yang diduga, kehidupan di Korea Utara sangat berbeda dengan negara lainnya. Menurut Jaka, keadaan kota maupun desa di sana sangat sepi, terutama saat musim panas.

Di sana, Jaka mengaku juga mendapatkan fasilitas internet dengan bebas di lokasi-lokasi tertentu. Bahkan dia dapat mengakses Facebook, Twitter, Instagram, bahkan berkomunikasi dengan Skype dengan keluarganya yang ada di Indonesia.

Namun, warga lokal memang hanya memiliki jaringan intranet. Mereka hanya dapat membuka situs berita yang ditentukan oleh pemerintahnya. Bahkan mahasiswa di universitas pun hanya diizinkan membuka internet dalam waktu yang singkat dan terbatas hanya untuk situs yang ditentukan oleh staf pengajar.

Selain itu, Jaka juga mengatakan bahwa interaksinya dengan warga lokal juga dibatasi. Lokasi tempat tinggal keluarga Jaka adalah kompleks khusus untuk orang asing. Meskipun letaknya berdekatan dengan kawasan tempat tinggal warga lokal, namun terpisahkan oleh dinding setinggi 1,5 meter yang dilengkapi dengan kawat listrik dan CCTV 24 jam.

Untuk urusan belanja keperluan sehari-hari, orang asing hanya boleh membeli di satu pasar yang letaknya sekitar 5 kilometer dari tempat tinggal kami, padahal ada banyak sekali pasar di Pyongyang. Jika ingin membeli barang yang lebih praktis, orang asing bisa juga membeli di toko-toko swalayan, namun terdapat bagian khusus untuk orang asing dengan harga yang lebih mahal. Barang-barang kebutuhan sehari-hari untuk orang lokal memang disubsidi oleh negara.

Meskipun masyarakat lokal mendapatkan pelajaran bahasa Inggris, kebanyakan dari mereka takut untuk berinteraksi langsung dengan warga asing. Ada anak kecil yang pernah menghampiri Jaka dan mengucapkan â??helloâ?, tapi setelah itu langsung kabur. Namun demikian, masyarakat di sana ternyata tidak seperti yang selama ini diberitakan. Meskipun minim interaksi, namun mereka juga ramah pada pendatang dan sering membantu.

Jika dilihat, masyarakat Korea Utara memang cenderung konservatif. Seperti yang terlihat di foto-foto yang beredar, pakaian yang dikenakan juga terkesan kuno. Di musim panas, para perempuan menggunakan rok yang panjangnya selalu di bawah lutut.

Meskipun ada barang-barang mewah seperti mobil Audi, Mercedez Benz, hingga jam tangan Rolex, benda-benda tersebut hanya mampu dibeli oleh orang-orang kaya saja, seperti misalnya anggota partai atau keluarganya.

Meskipun begitu, masyarakat setempat tetap sangat menghormati para anggota partai tersebut. Jika ada mobil dengan plat yang diawali angka 7, para petugas keamanan di jalan pasti langsung hormat. Itu merupakan tanda kendaraan milik para anggota partai.

Kamu bisa lihat beberapa videonya berikut ini.

(tom)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
40
Love
OMG OMG
30
OMG
Yaelah Yaelah
60
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
50
Keren Nih
Ngakak Ngakak
80
Ngakak