Kenalan dengan Megan O’Donoghue, Cewek Asal Amerika Serikat yang Jago Nyinden

Profesi pesinden biasanya identik dengan orang Jawa. Pasalnya, sinden biasanya dilantunkan saat ada pertunjukan wayang dan diiringi dengan gamelan. Namun, profesi pesinden nggak hanya dilakukan oleh orang Jawa saja, karena ada satu cewek asal Amerika Serikat yang piawai menjadi pesinden. Dia adalah Megan O’Donoghue.

Sebagai negara dengan populasi nomor tiga terbesar di dunia, Amerika Serikat menjadi tempat pertemuan budaya yang beraneka ragam. Kebudayaan dan kesenian Indonesia menjadi salah satu contohnya, sebagai topik yang banyak mendapat apresiasi bahkan dipelajari di berbagai sekolah, universitas dan institusi Amerika. Bukan hal yang jarang lagi ketika bertemu dengan warga lokal Amerika yang mahir bermain gamelan, pandai menarikan tarian tradisional Indonesia, atau bisa menyanyi keroncong atau bahkan menyinden. Megan Colleen O’Donoghue adalah salah satunya.

Dilansir dari Voaindonesiacom, Rabu (25/4/2018), Megan menceritakan kisahnya hingga mahir karawitan. “Waktu saya kuliah, saya ambil jurusan lagu seriosa di Seattle. Terus di sana ada gamelan Jawa. Saya jadi tertarik sekali sama gamelan di sana,” papar Megan Colleen O’Donoghue dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih.

Megan O’Donoghue (Instagram)

Setelah lulus kuliah dari Cornish College of the Arts di Seattle tahun 2008, Megan memutuskan untuk mengikuti program Darmasiswa di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Program ini menawarkan beasiswa selama satu tahun kepada warga asing yang ingin mempelajari kebudayaan Indonesia. Pada waktu itu Megan menimba ilmu di Institut Seni Surakarta di Solo dan mengambil jurusan karawitan selama satu tahun.

“Kalau karawitan itu artinya kesenian gamelan begitu ya. Jadi ada seni suara seperti sindenan, ada gamelan seperti gong, saron, demung, gender, bonang, kendang, rebab begitu. Jadi kalau di ISI Surakarta kalau ambil jurusan karawitan semuanya harus belajar dulu,” jelas perempuan kelahiran tahun 1984 ini.

Selama di Solo, Megan tinggal bersama mendiang maestro sinden, Nyi Supadmi, yang juga adalah gurunya. Melalui interaksi dengan para murid yang juga kos di rumah mendiang Nyi Supadmi, cewek multitalenta ini jadi bisa memperlancar kemampuannya berbahasa Indonesia.

Megan O’Donoghue (Instagram)

“Pertama kali aku datang ke sana itu baru bisa apa ya, mohon maaf dan terima kasih. Gitu aja. Yang lain enggak bisa bicara,” ujar Megan sambil tertawa mengingatnya. “Karena itu yang tadi anak-anak kos itu lho. Jadi mereka kan jauh lebih muda daripada saya. Mungkin 10 tahun. Jadi mereka masih seperti anak-anak gitu. Mereka penasaran sekali ‘kok ada bule?’ Mereka suka sekali barang-barang saya, suka godain saya begitu. Jadi mereka membantu banget, kan enggak bisa bahasa inggris sama sekali mereka, jadi saya terpaksa begitu. Dan kalau terpaksa belajar bahasa, memang cepat sekali ya,” tambahnya lagi.

Usai mengikuti program Darmasiswa, Megan kemudian menikah dengan pemain keroncong asal Indonesia dan kembali menetap di Amerika selama dua tahun, sebelum akhirnya pindah lagi ke Indonesia pada tahun 2012.

“Saya, anak saya, dan mantan suami saya kembali ke Jawa selama empat tahun,” cerita Megan.

Megan O’Donoghue (Instagram)

Waktu itu Megan kembali mendalami kesenian Indonesia lainnya, seperti wayang kulit, dan banyak melakukan pementasan dengan dalang-dalang kenamaan, seperti Ki Sujiwo Tejo, Ki Manteb Sudharsono dan Ki Enthus Susmono, dimana ia berperan sebagai pesinden.

Sebagai pesinden, Megan mengaku nggak fasih berbahasa Jawa. Namun, latar belakangnya sebagai penyanyi membuatnya terbiasa menjiwai lagu-lagu bahasa asing, termasuk lagu-lagu dalam bahasa Jawa. Hal ini bisa terdengar dan terasa melalui teknik vokal dan cengkoknya ketika menyinden.

Tahun 2015, ia merilis album perdananya yang bertajuk “Peshawar,” bersama kelompok musik Gemati di Indonesia. Album yang terdiri dari sembilan lagu ini mengambil nuansa musik rakyat atau folk, keroncong, dan karawitan, dengan campuran lirik dalam bahasa Inggris, Indonesia, dan Jawa.

Megan O’Donoghue bersama musisi lain (Instagram)

Lagu-lagunya yang antara lain berjudul “Ojo Ngoyo”, “Gulaku”, “Mumet”, “Kembang California”, dan “Berkah Indomaret” bercerita mengenai pengalamannya saat tinggal di Jawa Tengah dan juga saat tur keliling Indonesia bersama kelompok wayang kulit.

Kini sehari-harinya Megan sibuk mengajar kelas vokal di Cabrillo College di Santa Cruz, California, dimana ia mengajarkan lagu seriosa, juga lagu-lagu Indonesia, Arab, dan Irlandia. Selain mengajar di kampus, Megan juga membuka kelas privat vokal dan piano di rumahnya.

Orang bule saja mau mendalami budaya Jawa, bagaimana dengan kamu yang orang Jawa asli? (tom)

Mereka Juga Suka Berita Ini
Apa Komentarmu
Tunggu Dong...