STORY: Perjuangan Rofit dan Hiromi Lewat Gamelan


Kecintaan terhadap gamelan dan wayang akhirnya menyatukan hati mereka ke jenjang pernikahan. Mereka adalah Rofit Ibrahim (35) dan Hiromi Sasaki (34). Dari namanya saja sudah terlihat mereka adalah pasangan berbeda kebangsaan. Rofit lahir di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sementara Hiromi lahir di Osaka, Jepang.

Pasangan ini bertemu saat pertukaran mahasiswa di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta 2005 silam. Mereka akhirnya memilih menetap di Jepang. Berbekal ilmu dan keahliannya, mereka mencari sesuap nasi di negeri sakura ini.

“Kalau ada event di KJRI kita suka diundang, kalau mau pentas didukung. Suka juga pentas sendiri, kadang ada yang menyediakan tempat. Jadi dimanfaatkan, kadang-kadang dibantu biaya juga,” ujar Rofit seperti dilansir dari Detik, Senin (17/11/2014).

Rofit mengaku banyak orang Jepang yang suka dengan gamelan dan wayang. Panggilan mentas pun lumayan sering dia dapatkan. “Kadang di acara sekolah, tapi ya prinsipnya ya kita menunggu panggilan. Tergantung musim, kalau musim panas banyak, bisa 10 sampai 15 kali mentas perbulan,” tutur ayah dua anak ini.

Rofit membentuk kelompok gamelan bernama Hana Joss. Hana diambil dari bahasa Jepang yang berarti bunga, sementara joss diambil dari bahasa Jawa yang artinya fit atau bugar. Hana Joss memiliki banyak personel yang semuanya warga negara Jepang. Jika tampil full team, personelnya bisa mencapai 20 orang.

“Personel kita tergantung pesanan panitia acara, mereka maunya acara seperti apa. Bisa kita sampai 20 orang atau hanya 7 orang atau 3 orang, semua rata-rata orang Jepang,” kata Rofit.

Ayah dari Arum sasaki (8) dan Gong Gandang Sasaki (5) ini mengatakan selain mendapat pemasukan dari mentas, dia bersama istri juga membuka sanggar seni di rumah orang tua Hiromi. Di sanggar ini mereka mengajarkan tari, gamelan dan wayang.

“Kalau yang rutin setiap bulan kita mengajar gamelan atau wayang di studio, di Ibaraki, Osaka. Di rumah mertua, di lantai 2 kita bikin studio. Yang belajar kebanyakan orang tua, anak muda ada tapi jarang, anak kecil ada tiga,” jelasnya.

Rofit mengakui bahwa gamelan itu kurang disukai oleh anak muda di Jepang. Namun Rofit tidak hilang akal, gamelan yang bernada tenang dan bikin ngantuk dimodifikasi agar membuat orang tertarik.

Contohnya, pertunjukan wayang kulit tidak hanya menampilkan cerita-cerita dari tanah Jawa. Namun, menceritakan dongeng-dongeng yang biasa didengar oleh anak-anak Jepang seperti Momotaro.

“Wayang kulit, dengan cerita disini, Momotaro, dongeng di Jepang. Marusangkakusikaku, itu cerita anak di Jepang, jadi ditampilkan dengan wayang. Pakai bahasa Jepang. Lagu misalnya pakai gamelan, lagu anak-anak disini pakai gamelan, lagu dewasa juga, ooo.. ternyata lagunya tahu, jadi mereka tertarik,” ungkapnya.

Mengenai penghasilan, Rofit enggan berbagi cerita. Yang jelas, dirinya merasa cukup meski terkadang pas-pasan. “Penghasilan pas, untuk sewa rumah, tapi bisa hidup, dibantu orang tua juga disini,” tuturnya.

Harapan Rofit kedepan, bagaimana caranya gamelan dan wayang itu disukai oleh orang Jepang. Rofit tidak memiliki target untuk mencetak seniman-seniman gamelan dan wayang di Jepang. “Saya bukan mencetak pemain seniman gamelan, tapi agar gamelan disukai disini. Kalau mencetak pemain itu disini orang sibuk kerja semua jadi sulit,” jelas Rofit.

Sementara itu, sang istri, Hiromi, mengaku kesukaannya terhadap kesenian Jawa sebagai sebuah ‘kecelakaan’. Sebab, awalnya dia ingin belajar gamelan Bali. “Sejak usia 19, saya memang suka musik, saya suka main piano. Pas lihat video orang main gamelan Bali, saya terharu, hebat sekali,” tutur Hiromi yang kental logat Jawanya ini.

Hiromi mencari tempat untuk bisa belajar gamelan Bali di Indonesia. Namun ternyata nasib membawanya untuk belajar gamelan Jawa di ISI Yogyakarta. “Saya ke Yogya kok beda gamelannya, ternyata salah pulau, saya bilang boleh pindah ngga, ngga boleh kata gurunya. Yaudah akhirnya belajar gamelan, jadi kecelakaan juga,” canda Hiromi.

Orang Jepang saja ingin belajar gamelan. Lalu bagaimana dengan orang Indonesia, atau khususnya orang Jawa sendiri? (tom)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
50
Love
OMG OMG
40
OMG
Yaelah Yaelah
70
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
60
Keren Nih
Ngakak Ngakak
90
Ngakak