Lebih Dekat dengan Dini Fronitasari, Dosen Cantik Bikin Semangat Ngampus


Cantik, pintar dan ramah berbagi senyuman. Begitu kesan pertama saat tim jadiBerita.com berjumpa dengan dosen cantik yang satu ini. Dini Fronitasari atau lebih akrab disapa Dini, ia seorang dosen mata kuliah kalkulus yang wajah cantiknya kini mudah dijumpai di berbagai media online dan sosial media.

Dosen bukanlah impiannya sejak kecil. Menjadi seorang dokter adalah cita-cita dari wanita kelahiran 7 Januari 1986 ini. Sosoknya yang lebih terlihat sebagai model membuat banyak orang tak menduga jika ia adalah seorang pengajar.

Limit, Turunan, Integral, dan Deret Tak Terhingga adalah bahasa asing yang mungkin aneh bagi sebagian orang awam mendengarnya. Namun dengan cara itulah ia berkomunikasi dengan mahasiswa dan mahasiswinya sehari-hari.

Aktivitasnya yang beragam antara menjadi dosen dan menjadi sosok populer di sosial media membuat kami tertarik untuk mengulik lebih jauh siapakah Dini sebenarnya. Dosen kalkulus yang sebagian aktivitasnya ia salurkan melalui sosial media.

Di tengah kesibukannya, Dini menyempatkan diri untuk berbincang-bincang tentang aktivitasnya sehari-hari dengan tim jadiBerita.com. Di sebuah kafe bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, kami mendapatkan banyak inspirasi dari pengalaman hidupnya yang sangat inspiratif. Berikut adalah wawancaranya esklusifnya:

Bisa diceritakan latar belakang kamu dan gimana kemudian jadi dosen saat ini?

Saya berasal dari kota kecil di Jawa Tengah, yaitu Pemalang. Saya tinggal di sana dari kecil sampai SMA. Kemudian dapat beasiswa di STT Telkom Bandung jurusan Elektro Komunikasi. Lulus di tahun 2008, kemudian bekerja di bidang IT sebagai engineer.

Kemudian melanjutkan ke S2 sambil bekerja, dan lulus pada tahun 2013. Lalu pada tahun yang sama bulan Desember diterima di UMN (Universitas Multimedia Nusantara) untuk mengajar mata kuliah khusus, Wireless Communication Mobile. Namun pada semester berikutnya saya ditawari untuk mengajar Kalkulus I dan Kalkulus II.

Kenapa memilih jadi engineer?

Cita-cita sebenarnya ingin menjadi seorang dokter, namun mengambil jurusan kedokteran itu kuliahnya cukup lama. Alhamdulillah saat SMA meraih rangking 3 besar, saya bisa mendapatkan PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan). Kantongi NIM di IPB (Institut Pertanian Bogor), Kedokteran Undip (Universitas Diponegoro), dan STT Telkom Teknik Elektro. Tapi di IPB sayangnya saya mendapatkan jurusan kedokteran hewan, jadi saya memilih untuk kuliah di Bandung STT Telkom Teknik Elektro.

Awal-awal kuliah di Teknik Elektro sempat shock juga dan berpikir untuk pindah jurusan, tapi saya memutuskan untuk meneruskan jurusan pilihan saya itu, dan akhirnya saya bisa mengikuti perkuliahan dengan baik.

Sempat berniat untuk pindah jurusan, bagaimana kamu bisa melewati masa-masa sulit itu?

Ketika kamu berpikir tidak bisa, maka selamanya kamu tidak akan bisa. Selama semester awal, saya malas untuk mempelajari mata kuliah di sana. Namun memasuki semester kedua, saya jadi termotivasi untuk tidak kalah dengan mahasiswa lainnya, karena kelas yang saya masuki itu kelas PMDK, sehingga mahasiswanya semua berprestasi.

Apa tanggapan orangtua dengan pilihan kamu?

Orangtua saya menyerahkan semua pada saya.

Katanya kamu sempat kerja sambil mengajar. Lalu bagaimana cara kamu membagi waktu?

Saya biasanya mengajar kelas sore, jadi tidak mengganggu jadwal kerja. Lalu setiap weekend sempatkan refreshing, jalan-jalan dengan anak dan suami saya.

Saat berita dirinya sedang booming, sebenarnya saat itu ia justru sedang tugas mengawas UAS. (jadiberita.com)
“Saat berita saya (soal dosen cantik) sedang booming, sebenarnya saat itu saya sedang tugas mengawas UAS.” (jadiberita.com)

Kamu dikenal sebagai dosen cantik di berbagai media, pernah juga ditawarkan untuk masuk ke dunia hiburan. Bagaimana tanggapan kamu?

Saya suka dunia hiburan. Namun membatasi diri untuk tampil di layar kaca dan lebih selektif dalam menerima tawaran. Tawaran itu juga harus sesuai dengan jadwal saya bekerja. Ada banyak juga tawaran yang ditolak. Jika banyak waktu luang, tawaran pun diterima. Saya mulai dikenal saat saya sedang banyak waktu luang. Bahkan saat berita saya (soal dosen cantik) sedang booming, sebenarnya saat itu saya sedang tugas mengawas UAS.

Gimana sih awalnya bisa terkenal di social media?

Saat itu saya sedang rapat di kantor. Lalu saya menerima WhatsApp dari seorang wartawan media online, yang katanya mendapatkan nomor saya dari salah satu mahasiswa. Wartawan itu kemudian meminta saya untuk diminta pendapatnya. Saat itu junior saya yang juga sedang rapat menyarankan untuk tidak menghiraukannya, takutnya bohongan. Tidak lama kemudian, wartawan itu menelepon, dan meminta untuk kembali memberikan komentar tentang suatu hal. Setelah itu, Instagram saya langsung banyak di-follow. Dan beritanya tersebar di berbagai media.

Saya masih tidak menyadari kalau pemberitaan di media bisa seperti ini. Baru tahu kalau kabar itu sudah naik ke media dari wartawan yang menelepon saya sebelumnya. Sampai di rumah, suami mengatakan kalau saya diberitakan media online. Saya anggap kabar itu hanya sekilas saja dan sedikit yang membacanya. Ternyata sebaliknya. Lalu saya menelepon wartawan itu. Kata wartawan tersebut berita tentang saya ini diberitakan lagi di media lain, sehingga makin tersebar. Dari situ saya tahu kalau banyak yang membaca berita mengenai saya. Kemudian saya mulai pilih-pilih akun media sosial yang akan terima. Sempat juga saya hapus beberapa foto dari Facebook yang dikhawatirkan akan disalahgunakan.

Setelah kamu dikenal luas, apakah ada yang berubah dari kamu, seperti misalnya menjaga penampilan?

Penampilan dari dulu memang begini, yang penting masih rapi, dan tidak menyalahi aturan. Tapi orang salah menilai diri saya. Seolah-olah saya sengaja menyebarkan foto untuk bisa menjadi terkenal. Banyaknya foto dan video saya dari Instagram yang tersebar juga sedikit mengganggu saya. Mengenai pemberitaan, saya anggap itu sebagai motivasi untuk para mahasiswa, karena saya pernah hampir mengalami yang namanya salah jurusan.

Menulis ulang adalah cara belajar yang efektif, dan itu ia terapkan dalam metode mengajarnya (jadiberita.com)
“Menulis ulang adalah cara belajar yang efektif, dan itu saya terapkan dalam metode mengajar saya.” (jadiberita.com)

Ada saran untuk mahasiswa yang salah jurusan?

Tanyakan ke hati kamu sendiri. Usahakan agar tidak merepotkan orangtua. Saya jaman masih SD sering membuatkan rangkuman untuk teman-teman agar saya mendapatkan uang. Dengan begitu, otomatis materi di dalam buku pelajarannya tertanam di otak. Banyak yang menganggap saya tidak pernah belajar, padahal justru belajar dari membuat rangkuman itu. Dari situ saya tahu kalau menulis ulang itu cara belajar yang efektif, dan itu saya terapkan dalam metode mengajar saya. Saya mewajibkan mahasiswa untuk menulis, dan tiap akhir semester saya meminta mahasiswa untuk mengumpulkan buku catatannya.

Apa sih enaknya jadi dosen menurut kamu?

Selalu bertemu orang baru. Dari mahasiswa yang baru itu terkadang saya juga banyak belajar. Apalagi jika mahasiswanya jauh dari keluarga. Menurut saya kuliah itu tak sekadar mendapatkan nilai, namun lebih ke prosesnya.

Apa hal yang unik yang pernah kamu alami selama mengajar?

Setiap selesai mengajar di kelas, saya biasanya mengajak para mahasiswa untuk foto bersama, maksudnya untuk kenang-kenangan pribadi. Begitu saya minta feedback dari para mahasiswa mengenai cara mengajar saya, yang dikomentari malah penampilan saya. Heheâ?¦

Aktivitas Dini Fronitasari saat mengajar di kelas (jadberita.com)
Aktivitas Dini Fronitasari saat mengajar di kelas (jadberita.com)

Siapa sosok yang paling memotivasi kamu?

Ayah. Karena beliau adalah orang yang tidak pernah sekalipun memarahi saya. Beliau selalu membebaskan anaknya dalam memilih, dan memberikan konsekuensi dari pilihan anaknya. Dari didikannya itu saya kuat dalam hal analisa. Selain itu saya juga diajarkan untuk bertanggungjawab atas pilihan yang diambil. Beberapa mahasiswa saya yang masuk ke jurusan sayangnya atas pilihan orangtuanya.

Menurut kamu apa bedanya mahasiswa dulu dan sekarang?

Mahasiswa dulu lebih senang membaca buku, namun sekarang sudah ada internet, jadi mahasiswa lebih suka membuka Google dibandingkan baca buku. Kalau diberikan tugas membuat paper, kebanyakan mahasiswa mencari dari Google, bukan dari buku. Menurut saya buku itu penting meskipun internet sudah tersedia.

Gimana cara kamu memastikan tugas yang diserahkan mahasiswa tidak asal copy paste dari internet?

Saya bisa melihat dari gaya bahasa penulisannya. Biasanya saya memberikan tugas paper untuk mahasiswa semester 5. Gaya penulisan mahasiswa yang asal copy paste dengan seorang yang benar-benar melakukan riset itu berbeda. Saya lebih suka mahasiswa yang menggunakan gaya bahasa mereka sendiri meskipun sedikit acak-acakan. Yang seperti itu lebih saya apresiasi.

Adanya internet jadi membuat mereka malas berpikir?

Menurut saya mereka itu terbiasa mengambil jalan pintas, dan ingin segalanya cepat serta instan. Ketika zaman saya dulu masih banyak orang yang sadar kalau proses itu lebih penting dibandingkan hasil akhirnya.

Menarik sekali sharing dan motivasinya, terima kasih bu dosen sudah mau berbagi secuil kisahnya di tengah kesibukan kamu saat ini. Sukses selalu.

Terima kasih, sama-sama.

 

Akhirnya perbincangan seru dengan Dini selama kurang lebih 75 menit itu rasanya belumlah cukup, dengan segudang pengalamannya pada usianya yang tergolong muda untuk seorang dosen. Dini menjadi bukti nyata bahwa ada wanita yang tak hanya berparas ayu saja, tapi juga cerdas. Dini menjadi salah satu sosok inspiratif yang juga membuat mahasiswanya semangat belajar dan datang mengikuti perkuliahan di kampus.

Jika kamu ingin mengenal lebih jauh aktivitas Dini di sosial media, atau ingin berbincang langsung dengannya silakan follow akun instagram miliknya di @dinifsr.

(rei/jow)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
20
Love
OMG OMG
10
OMG
Yaelah Yaelah
40
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
30
Keren Nih
Ngakak Ngakak
60
Ngakak