Sumber: Kompasiana

Indonesia diciptakan oleh Tuhan dengan penuh keberagaman. Suku, budaya, bahasa, fisik dan agama, semua beraneka ragam. Meski beragam, masyarakat Indonesia sanggup menginjak tanah yang sama dan bernaung di langit yang sama dalam waktu yang sangat lama, bahkan telah membuat masyarakat dunia terpana.

Sayang, belakangan ini toleransi seolah mulai dipertanyakan, terutama dalam beragama. Perbedaan mulai menyesekan. Kata ‘mayoritas’ dan ‘minoritas’ kembali diperdebatkan. Padahal, kita semua sama. Jika hidup berdampingan dalam kerukunan, tentu itu akan sangat indah.

Lepas dari semua itu, ada kisah-kisah mengenai toleransi beragama mulai bermunculan. Dan semua kisah itu sangat menyejukan. Dilansir JadiBerita dari berbagai sumber, berikut ini 5 kisah toleransi antarumat beragama di Indonesia.

1Kisah Banser muslim yang tewas membekap bom saat misa natal.

nu.or.id
nu.or.id

Tahun 2000 silam, bom meledak saat Misa Natal di Gereja Eben Haezer, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Seorang anggota Barisan Serba Guna (Banser) dari Nahdlatul Ulama (NU) yang menjaga keamanan gereja tersebut bernama Riyanto, menjadi pahlawan kala itu.

Melansir dari Viva, saat itu Riyanto melihat bungkusan plastik hitam tergeletak di salah satu sudut gedung gereja yang ternyata bom. Lalu ia langsung teriak ‘tiaraaap’. Jemaat panik dan berebutan keluar menjauh dari gereja.

Di tengah kepanikan jemaat, Riyanto mencari cara agar bom tidak melukai orang-orang di gerej dengan membekap bom tersebut dengan tubuhnya. Dalam waktu singkat bom meledak. Tubuh Riyanto terpental dan ditemukan sekitar 100 meter dari titik ledakan dalam kondisi tanpa nyawa.

2Kisah pengajar muda di Papua yang tinggal dengan keluarga beda keyakinan.

Agung Rangkuti, Pengajar Muda XII dari Indonesia Mengajar punya kisah tentang toleransi yang luar biasa. Kisahnya ia tuangkan dalam media sosial Facebook dan menjadi viral. Alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini ditempatkan di Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua.

Dalam masa pengabdian tersebut, dia tinggal bersama dengan orang tua asuh yang keyakinannya berbeda dengannya. Berikut kisahnya:

Foto ini diambil secara tidak sengaja beberapa hari yang lalu oleh adik angkat saya, Aulio. Hari itu saya bersiap untuk berbuka puasa dan meminta Aulio menerangi saya dengan flash kamera handphone, karena cahaya pelita kurang membantu penerangan. Secara tidak sengaja Aulio memencet tombol potret, “cekreeeeek.”

“Kou foto Bapak guru kah?” Tanya saya.

“Haa iyo Pa guru, tong tara sengaja tekan tombol Pa guru pu hp.” Jawab Aulio.

Malam hari menjelang tidur, saya melihat foto yg tadi tidak sengaja diambil oleh Aulio. Tidak tau mengapa saya sangat suka dengan hasil foto yang diambil secara tidak sengaja ini. Pakaian yang saya kenakan sangat berbeda dengan simbol yg tertempel di dinding rumah, tapi inilah yang saya alami. Sangat terlihat toleransi yang terjadi dalam keluarga kecil angkat saya di desa penempatan.

Mama yang selalu menyiapkan makanan untuk berbuka puasa. Bapak dan Aulio yang hampir selalu ikut makan sahur. Murid-murid yang bergantian mengantarkan ikan hasil “nyolo”. Atau suasana rumah yang sangat hening ketika saya melaksanakan ibadah sholat maghrib, isya, tarawih dan jumat seorang diri.

Kembali saya merasa menjadi orang yang sangat beruntung bisa ada di kondisi ini. Beruntung bisa merasakan ramadhan bersama keluarga Protestan saya yang sangat taat. Beruntung bisa mendapatkan banyak pembelajaran budi pekerti luhur dari orang di desa yang sering kali, orang kota, menganggap mereka sebelah mata. Semoga dari foto ini kita semua, orang-orang yang sering melebeli diri sebagai manusia berpendidikan, bisa belajar dan merefleksikan tentang toleransi dan perbedaan dalam kebersamaan.

3Curhat mahasiswi muslim berkuliah di kampus Katholik.

 

Baru-baru ini, toleransi umat beragama di Yogyakarta ‘diusik’. Hal ini bermula saat Forum Umat Islam (FUI) Yogyakarta mendesak pencopotan baliho yang menampilkan perempuan berhijab milik Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta. Hal ini pun membuat Siti Rofiah, alumni kampus UKDW berhijab untuk buka suara. Ia pun menyuarakan kegusarannya di Facebook. Postingannya telah dishare oleh ribuan orang. Berikut ini kisahnya:

Saya perempuan berjilbab, alumni UKDW, menanggapi aksi Pemaksaan Pencabutan Baliho di UKDW

Setelah aksi intoleransi di Bandung, gelombang intoleransi nampaknya mulai menjalar di daerah lain, salah satunya Yogyakarta. Kemarin, saya dapat kabar dari teman saya bahwa FUI Yogyakarta mendesak UKDW (Universitas Kristen Duta Wacana) menurunkan baliho yang memuat gambar mahasiswi berjilbab. Menurut FUI, universitas yang mayoritas mahasiswa-mahasiswinya beragama Kristen tidak pantas memasang spanduk perempuan berjilbab.

Menurut saya, desakan FUI ini merupakan perbuatan yang sangat tidak berdasar. Apa dasar berpikirnya bahwa Universitas Kristen tidak boleh memasang baliho dengan gambar perempuan berjilbab? Salah satu fungsi perguruan tinggi adalah menempatkan dirinya sebagai lembaga kajian, yang didalamnya sangat dijunjung tinggi kebebasan akademik. Kebebasan akademik adalah kebebasan seseorang atau seorang peneliti di lembaga ilmu pengetahuan untuk mengkaji persoalan serta mengutarakan kesimpulannya tanpa campur tangan dari penguasa politik atau keagamaan atau dan lembaga yang memperkerjakannya kecuali apabila metode yang digunakannya tidak memadai atau bertentangan dengan etika professional atau lembaga yang berwenang dalam bidang keilmuannya. Kebebasan akademik adalah kebebasan anggota fakultas untuk mengajar pada suatu sekolah dengan pikirannya sendiri dan mempromosikan spekulasi dan kesimpulan yang dibuat secara independen atau bebas dari apa yang mungkin institusi kehendaki.

Dalam kebebasan akademik, mahasiswa bebas belajar, mengambil, menyimpan data atau pandangan yang diberikan dalam perkuliahan dan bebas menilai materi atau pendapat tersebut. Mahasiswa mendapat perlakuan yang sama dalam pembelajaran serta tidak boleh dipaksa dalam kelas maupun di lingkungan akademik untuk menerima pendapat atau gagasan tentang filosofi, politik dan isu isu lain.

Jika dalam kegiatannya sebuah perguruan tinggi tidak ditemukan hal-hal yang melanggar kebebasan akademik atau hal-hal lain yang melanggar hukum, maka siapapun tidak dapat memaksakan kehendaknya atas pengaturan sebuah perguruan tinggi tersebut. Misalkan ada mahasiswa yang karena kuliah di kampus Kristen sedangkan ia beragama Islam dipaksa mengikuti pendapat dosennya, atau dipaksa mengikuti keimanan dosennya, maka disinilah letak pelanggaran kebebasan akademiknya, dan itulah yang harus ditindak.

Sekali lagi, pemaksaan penurunan baliho perempuan berjilbab di perguruan tinggi Kristen adalah hal yang sangat tidak berdasar. Saya berbicara sebagai bagian dari akademisi dan alumni UKDW. Saya yang sebagian besar hidup saya habiskan di pesantren ini adalah alumni UKDW, Universitas Kristen Duta Wacana. Sebagai seorang alumni, saya memahami betul bagaimana iklim pembelajaran di UKDW. Saya kira tidak ada yang salah jika mereka memasang baliho dengan gambar perempuan berjilbab karena mereka memang menerima mahasiswa dengan agama apapun, dengan aksesoris apapun yang ia kenakan, termasuk mahasiswa berjilbab seperti saya. Dalam kegiatan pembelajaran, tidak ada hal-hal yang menyimpang dari kebebasan akademik. Bahkan, selama 5 tahun saya terdaftar sebagai mahasiswa kampus ini, yang saya kampus ini sangat Islami. Kenapa saya bilang sangat Islami? Nilai-nilai keislaman yang selama ini diajarkan kepada saya diantaranya soal budi pekerti, soal akhlak, saya temukan disana. Saya merasa diperlakukan dengan sangat baik, sangat â??memanusiakan manusiaâ?. Sebagai minoritas saya tidak diperlakukan berbeda. Saya bisa beribadah dengan mudah karena disediakan. Saya bahkan ingat betul bagaimana abang cleaning service selalu mencarikan sandal jepit saat saya mau wudlu. Itu hanya sebagian kecil contoh â??keislamanâ? yang ada di kampus Kristen, UKDW. Yang lainnya masih banyak. Saya jadi ingat kata Gus Dur â??toleransi itu bukan soal pemahaman, tapi pengalamanâ?. Dan saya mengalami itu.

Dalam hal ini, mungkin FUI membayangkan perguruan tinggi adalah lembaga dakwah, bukan lembaga pengetahuan. FUI dan siapapun yang sependapat dengan FUI seharusnya paham bahwa dalam perguruan tinggi, segala sesuatunya (maksud saya objek kajian) diletakkan sebagai sebuah sistem pengetahuan, bukan sistem keimanan. Termasuk perguruan tinggi yang mengajarkan ilmu-ilmu agama.

Atas kejadian ini, saya kira aparat harus lebih tegas. Mana pihak yang harus dilindungi dan mana pihak yang harus ditindak jangan sampai tertukar. Sudah cukup kita belajar atas aksi intoleransi yang berjalan puluhan tahun lamanya dan semakin marak akhir-akhir ini.

4Pemuka lintas agama gelar doa bersama untuk Aceh.

pikiran-rakyat.com
pikiran-rakyat.com

Aceh kembali dilanda gempa. Ratusan masyarakat lintas agama di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mengikuti doa bersama dan penggalangan dana untuk korban gempa bumi Aceh Darussalam, di Pendopo Bale Paseban Pemkab Purwakarta, Jumat (9/12).

“Ini bagian dari empati kami terhadap masyarakat Aceh, bukan hanya dari satu agama. Kami di sini lintas agama, semuanya bersatu atas nama solidaritas kemanusiaan, memanjatkan doa sesuai dengan keyakinan agama masing-masing,” kata Bupati setempat Dedi Mulyadi dilansir dari Antara.

Solidaritas kemanusiaan yang dimaksud bupati ialah ajaran universal yang diajarkan oleh seluruh agama. Karena itu dirinya menggagas doa bersama yang dihadiri masyarakat Purwakarta dari agama yang berbeda-beda.

5Kisah Kebersamaan Pelajar Indonesia dan Keluarga Katolik di Palermo

Farhana, seorang pelajar Indonesia di Italia membagikan kisahnya di media sosial Line. Berikut ini kisahnya:

Tiga setengah tahun lalu, sebuah keluarga Katolik di Palermo, Italia memutuskan untuk menerima seorang pelajar pertukaran Muslim dari Indonesia untuk tinggal di rumah mereka selama setahun secara sukarela.

Tanpa dibayar 1 Euro pun.

Keluarga tersebut adalah keluarga Aiello, dan pelajar yang dimaksud adalah saya sendiri.

Bagi orang-orang yang seringnya mengutamakan sesamanya saja, mungkin yang saya lakukan adalah sesuatu yang aneh.

Tentunya ada perbedaan-perbedaan yang kentara; mereka berkulit putih dan saya berkulit coklat, mereka biasa makan pasta dan saya terbiasa makan nasi, mereka menyembah Tuhan Yesus dan saya menyembah Allah SWT.

Dalam keluarga yang sebagian dari Anda mungkin sebut orang-orang kafir, saya diperlakukan seperti anak sendiri. Tiap hari diantar jemput ke sekolah, dipastikan makan tiga kali sehari, diajarkan bahasa Italia kata demi kata, dan selalu dibantu saat harus beradaptasi di lingkungan yang sepenuhnya asing.

Tiap Sabtu di rumah nenek, saya diajak main seperti seorang kakak, adik, atau sepupu mereka sendiri.

Saya masih ingat kali pertama minta izin untuk solat di rumah setelah makan malam. 

Saya bilang mau berdoa sebentar, saya tunjukkan sajadah dan mukena. Dengan polosnya, Mamma menawarkan agar saya dan mereka berdoa bersama. “Così non preghi da sola”, katanya (baca: supaya kamu ga berdoa sendirian).

Saya tidak akan pernah lupa pengalaman absurd namun mengharukan; saya melaksanakan solat isya di ruang makan, dengan Mamma membaca Alkitabnya di belakang saya.

Malam ini saya tergerak membuat tulisan ini karena kenyataan yang sejujurnya membuat saya sedih; ternyata intoleransi bisa terjadi bahkan di depan mata sendiri. Di kampus, di dunia maya, di televisi. Di jalanan. Untuk Anda yang secara langsung atau tidak langsung pernah menyebarkan hate speech terhadap kaum atau agama lain; percayalah, ada lebih banyak persamaan dibanding perbedaan diantara satu manusia dengan yang lain.

Ketahuilah bahwa setiap orang hanya berusaha mencapai kebahagiaannya masing-masing; orang Muslim ingin berlebaran dengan keluarga terdekat, orang Kristen ingin merayakan natal dan menerima berkat, dsb. Setelah satu tahun hidup sebagai orang yang dianggap ‘berbeda’, saya jadi mengerti betapa hidup sebagai kaum minoritas jauh lebih sulit dibandingkan sebagai mayoritas.

Kaum mayoritas seringkali beranggapan bahwa suatu atribut darinya adalah sesuatu yang umum, lalu ‘yang minoritas bisa menyesuaikan’. Mungkin Anda belum pernah merasakan jika situasinya dibalik, mungkin juga Anda tidak peduli.

Tolong jangan menutup mata dan berpikir bahwa tempat ini hanya milik satu kelompok. Jika berbuat kebaikan adalah sesuatu yang sulit, setidaknya jangan buat dunia ini lebih buruk. 

#LoveOverHate

#STOPTheHate