Don't be Captious

Kisah Habibie Afsyah, Penyandang Difabel yang Sukses Bisnis Online, Bukti Kekurangan Fisik Bukan Halangan untuk Maju

Habibie Afsyah (Kisah-sukses)

Keterbatasan fisik tentu jangan menjadi hambatan untuk mencapai impian dan cita-cita kita. Banyak sekali orang-orang yang dikaruniai fisik sempurna malah mengeluhkan hidupnya dan nggak mampu bekerja keras untuk mendapat penghidupan yang layak. Padahal di luar sana banyak sekali orang-orang berkebutuhan khusus yang nggak berhenti mengejar cita-cita dan mengabaikan kondisi fisiknya yang kurang sempurna. Salah satu di antara orang-orang hebat itu adalah Habibie Afsyah, seorang internet marketer muda yang mengidap kelainan muscular dytrophy.

Habibie Afsyah adalah seorang pria sederhana yang tampak biasa-biasa saja. Anak bungsu dari 8 bersaudara ini lahir di Jakarta tanggal 6 Januari 1988. Putra pasangan H. Nasori Sugianto dan Hj. Endang Setyati ini menjalani masa kecilnya seperti anak-anak pada umumnya. Habibie bukanlah penyandang cacat fisik sejak lahir. Sebuah penyakit bawaan bernama muscular dytrophy-lah yang perlahan-lahan merenggut fungsi motorik tubuh Habibie sehingga ia mulai nggak bisa menggerakkan anggota tubuhnya.

“Waktu saya kecil, saya hanya bisa menangis. Setelah itu saya masuk TK YPAC, lalu dipindahkan ke TK LAB Setiabudi. Dan sempat beberapa kali pindah sekolah saat SD. Banyak teman-teman yang mengolokku. Namun saya berhasil lulus dari SMA Yayasan Sunda Kelapa, pada tahun 2006,” jelas Habibie seperti dikutip dari Detikcom, Jumat (1/12/2017).

Habibie Afsyah (Infokomputer)

Selepas SMA, Habibie bingung hendak melanjutkan ke mana. Dia mencari minat dan bakatnya untuk bergiat mengisi hari-harinya. Tak tanggung-tanggung, masa pencarian itu butuh waktu 2 tahun. “Saya butuh waktu 2 tahun untuk bisa menyadari passion saya. Selama itu, saya hanya menghabiskan waktu dengan bermain game. Akibatnya biaya internet di rumah saya melonjak hingga Rp 1,3 juta per bulan,” tutur dia.

Ibunya lantas melihat ketertarikan Habibie yang sangat besar di bidang internet. Habibie lalu didaftarkan ibunya ke pelatihan internet marketing dengan biaya Rp 5 juta selama 2 hari. Meski awalnya Habibie menolak, namun akhirnya sang ibu berhasil meyakinkan putra bungsunya untuk belajar marketing dan hidup secara mandiri.

Setelah mengikuti kursus internet marketing tingkat dasar, Habibie kembali kepada kebiasaan lamanya yakni menggunakan internet untuk bermain game atau browsing. Ia merasa bahwa internet marketing sulit untuk dipelajari dan dipraktekkan secara nyata. Apalagi Habibie merasa kesulitan karena materi kursus yang diberikan menggunakan Bahasa Inggris yang membutuhkan fitur alih bahasa.

Melihat sang putra yang masih belajar untuk menjadi pribadi mandiri, sang ibu berencana untuk mengikutsertakan Habibie dalam program kursus marketing tingkat lanjut yang diselenggarakan di Singapura. Sang ibu dan ayah bahkan harus rela menjual mobil yang biasa disewakan untuk membayar biaya kursus untuk Habibie. Biaya kursus itu mencapai nilai Rp 15 juta.

Habibie Afsyah dan sang ibunda (Yusabdul)

Meski awalnya menolak, namun Habibie akhirnya menuruti kemauan sang ibu dan berangkat ke Singapura untuk ikut kursus. Di kursus internet marketing tingkat lanjutan tersebut, Habibie mendapatkan pelajaran setiap 2 minggu sekali selama 3 bulan. Setelah belajar selama kurang lebih 3 minggu, akhirnya Habibie berhasil memperoleh penjualan pertamanya di situs jual beli Amazon dengan nilai USD 24 untuk produk game PlayStation 3.

Walaupun ia masih merugi karena biaya pengiklanannya lebih besar dari laba yang didapat, hal ini membuat Habibie senang dan tetap berusaha untuk menjadi internet marketer yang lebih baik lagi. Dengan tekun, Habibie terus berusaha hingga nilai komisinya meningkat menjadi USD 124, USD 500, USD 1.000 hingga yang terbesar USD 2 ribu atau sekitar Rp 27 juta. Penghasilan dari Amazon tersebut kemudian digunakan Habibie untuk mengikuti kursus lainnya seperti Dokterpim, Indonesia Bootcamp dan Eprofitmatrix.

Dari hasil belajar kursus marketing dan praktek secara real di dunia maya, Habibie sudah berhasil menerbitkan ebook panduan sukses dari Amazon, membuat situs jual beli properti (rumah101.com) dan menjadi trainer di acara seminar Eprofitmatrix bersama sang guru, Suwandi Chow. Kala itu di usia yang baru menginjak 20 tahun, Habibie mampu menjadi pria berkebutuhan khusus yang mandiri secara finansial bahkan mampu membantu orang lain yang lebih membutuhkan.

Habibie Afsyah (Merdeka)

Bila dulu sosok Habibie muda hanya menjadi pria yang pesimis pada dirinya sendiri dan hanya gemar bermain game online dan berselancar di dunia maya, kini kasih sayang dan perhatian sang ibu menjadi kekuatan berharga yang mendukung kemajuan Habibie di dunia online marketing. Banyak sekali seminar dan talkshow kampus yang sering mengundang Habibie Afsyah sebagai narasumber yang menginspirasi banyak orang.

Buat kita yang normal, yuk kita bekerja lebih keras lagi. Jangan mau kalah dengan Habibie. (tom)

Mereka Juga Suka Berita Ini
Apa Komentarmu
Loading...