Angkernya Jalan Menuju Situs Megalitikum Gunungpadang


Situs Gunungpadang merupakan salah satu situs kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Gunungpadang belakangan ramai menjadi daya tarik para peneliti arkeolog yang rajin melakukan penelitian di situs yang berada di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Menurut laporan yang jadiBerita himpun, catatan pertama tentang keberadaan Gunungpadang ini pertama kali ditemukan pada tahun 1914 oleh Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (Buletin Dinas Kepurbakalaan). Luas wilayah situs ini diperkirakan 900m² pada ketinggian 885 m dpl yang kemudian disebut-sebut peninggalan nenek moyang warga Jawa Barat ini sebagai situs terbesar di Asia Tenggara.

Tim jadiBerita.com kemudian memutuskan untuk menyusuri lokasi Gunungpadang yang disebut-sebut dua kali lebih besar dari candi Borobudur, Jawa Tengah. Kami sengaja mendatangi situs purbakala ini pada malam hari tepatnya malam jumat. Selain karena lebih sepi daripada siang hari. Menurut informasi warga setempat, setiap malam jumat adalah waktu yang tepat bagi para pengunjung yang ingin berziarah, bermeditasi hingga melakukan ritual-ritual tertentu tepat diatas Gunungpadang.

Untuk menuju ke sana kami hanya dibantu oleh informasi yang didapatkan melalui aplikasi Google Maps. Dalam aplikasi tersebut disebutkan bahwa jarak lokasi kami berdiri yakni di wilayah sekitar terminal bus Cianjur butuh waktu 34km lagi untuk mencapai situs Gunungpadang ini.

Rupanya perjalanan yang ditempuh dengan berbekal petunjuk dari peta di Google tak seperti yang kami bayangkan. Beberapa kali kami sempat bertanya kepada penduduk sekitar. Semuanya memberikan jawaban yang belum membuat kami lega karena mereka umumnya mengatakan bahwa perjalanan masih jauh. Bahkan ada seorang penduduk sekitar yang menghimbau kepada kami untuk mengurungkan niat kesana pada malam hari karena medan yang dipenuhi oleh hutan, jalan yang sepi dan rusak.

Hujan turun rintik-rintik. Kami sempat berhenti dan berniat untuk kembali dan melanjutkan perjalanan pada esok hari. Beruntung hujan tak lebat dan beberapa saat langsung berhenti. Kami melanjutkan perjalanan.

Waktu menujukan pukul 22:00 WIB tapi kami masih kesulitan menemukan lokasi Warung Kondang. Saat itu kami sudah tidak memperdulikan lagi kapan kami tiba di Gunungpadang karena kami hanya fokus bagaimana segera menemukan Warung Kondang dulu sebelum menuju ke situs prasejarah tersebut. Menurut perkiraan kami, saat ini kami tersesat di daerah Ciunder yang jaraknya kurang lebih 5km dari Warung Kondang.

Akhirnya kami tiba di Warung Kondang. Disana terlihat ada papan petunjuk yang hanya tertulis “Situs Megalit Gunung Padang”. Ada petunjuk 20 Kilometer lagi untuk sampai kesana. Kurang lebih satu kilometer dari jalan masuk Warung Kondang, kami langsung disambut oleh jalan yang sangat rusak parah. Pohon bambu liar yang rimbun di kanan kiri jalan membuat bulu kuduk kami merinding. Malam Jumat kali ini merupakan pengalaman yang sangat berbeda bagi tim kami. Turunnya kabut pun seolah ikut menyambut kedatangan kami sehingga kami tak bisa memacu kendaraan lebih cepat dengan sorot lampu yang terhalang kabut. Penerangan satu-satunya bagi kami adalah lampu kendaraan. Sesekali kami melihat kaca spion untuk melihati situasi belakang tapi tak ada gunanya sebab kondisi sangat gelap.

Kami berjumpa dengan perkampungan di sela-sela perjalanan namun itupun sangat jarang. Sebagian besar perjalanan kami ditemani oleh pohon-pohon besar yang mungkin saja umurnya sudah ratusan tahun. Tak satupun warga yang kami jumpai selama perjalanan. Perkampungan yang kami lewati seolah tidak ada bedanya dengan suasana di hutan. Sesekali hanya gonggongan anjing terdengar samar-samar jauh dibelakang hutan. Kami berharap jalan yang kami lalui tidak salah, sebab jika kami hanya memiliki persediaan bensin yang terbatas. Tak mungkin pula kami temukan penjual bensin disini pada malam hari.

Tiba disebuah perkampungan kami bertemu dengan seorang pengendara motor yang sepertinya searah dengan perjalanan kami. Kami sengaja konvoi dengan pengendara itu. Sesekali si pengendara motor itu membunyikan klakson setiap bertemu pohon rindang. Entah apa maksudnya kami pun berusaha mengikuti membunyikan klakson juga.

Pengendara Motor yang Menemani Kami di Perjalanan
Pengendara Motor yang Menemani Kami di Perjalanan

Kami pun berpisah dengan pengendara motor yang menemani perjalanan kami itu di sebuah pos kurang lebih 3km sejak kami bertemu dengannya.

Tak ada pilihan lain kami pun harus melanjutkan perjalanan sendirian. Bensin kendaraan kami terlihat menujukan tanda-tanda kurang menggembirakan. Entah berapa lama lagi Situs Gunungpadang itu kami temukan sementara bensin kendaraan kami sudah menipis.

Selama perjalanan kami teringat dengan pengendara motor tadi untuk selalu membunyikan klakson ketika bertemu pohon besar. Kami pun melakukan hal yang sama. Ada kejadian aneh saat kami melintasi rumah besar yang gelap dan kosong. Angin bertiup cukup besar, tepat kami melintasi di depan rumah yang penuh pohon rimbun itu tercium seperti bau melati.

Rumah kosong yang tercium bau melati
Rumah kosong yang tercium bau melati

Seketika kami pun mengucapkan Astagfirullah dan berdoa semampu kami. Bau melati pun tak lama kemudian hilang. Kejadian aneh pun dialami oleh seorang tim kami, ia secara tak sengaja melihat kaca spion di perjalanan. Ia bercerita saat itu ia melihat bola api yang cukup besar mengikutinya. Saat itu ia pun langsung berhenti dan melihat ke arah belakang ternyata tak ada apa-apa.

Dua kejadian aneh tadi sempat membuat kami berfikir kembali untuk terus melanjutkan perjalanan menuju ke situs Gunungpadang. Kondisi jalan masih rusak tapi tak separah tadi. Dalam hati, kami berharap bertemu lagi dengan pengendara lain yang melintasi jalan ini. Namun sampai sejauh ini kami hanya bertemu satu pengendara motor saja. Sedangkan yang berpapasan dengan kami hanya sebuah truk saja.

Waktu menunjukan pukul 22:35 WIB, kami melintasi palang perlintasan rel kereta. Menurut informasi penduduk yang kami jumpai sebelum di Warung Kondang, jika kita sudah bertemu rel kereta, berarti situs Gunungpadang tinggal berjarak beberapa kilometer saja.

Benar saja, tak jauh dari perlintasan rel kereta tadi kami melihat sebuah papan petunjuk bahwa situs Gunungpadang tinggal 6km lagi. Perjalanan kami menemukan titik terang, lelah selama perjalanan tadi pun perlahan sirna karena papan petunjuk tadi. Kondisi jalan saat ini jauh lebih baik, sepertinya belum lama ini diaspal. Kendaraan sengaja kami pacu lebih cepat dari sebelumnya meski kabut tak kunjung pergi selama perjalanan kami hingga saat ini. Terlihat samar-samar kanan kiri  kami saat ini adalah perkebunan teh.

Akhirnya kami tiba di gerbang masuk Situs Megalitikum Gunung Padang ditandai dengan adanya gapura besar. Kelelahan selama perjalanan pun terbayar sudah. Kami langsung menepi di sebuah warung yang hanya satu-satunya buka di malam itu. Tak lupa kami bersalaman dan memperkenalkan diri dengan dua pria paruh baya yang malam itu membiarkan warungnya kami jadikan tempat peristirahatan untuk kami.

Gerbang Situs Megalitikum Gunungpadang
Gerbang Situs Megalitikum Gunungpadang

Dalam sebuah perbincangan singkat dengan pria yang belakangan kami ketahui namanya adalah pak Ujang. Ia menujukan rasa herannya kepada kami. Ia heran sebab kami tiba tengah malam dan disebut nekat melintasi jalan menuju Gunungpadang. “Adik ini dari jakarta malam begini tidak siyeun (takut) nekat  nuju kadiye (jalan kesini)” ujar pak Ujang kepada kami. “Di jalan nu tadi teh loba jurig nu ariseng, bapak juga tau wani ai kadinya wayah kiye” tambah pak Ujang dengan nada yang sedikit tinggi. Ia mengatakan kalau di jalan yang kami lewati tadi masih banyak dijumpai jurig (hantu) yang masih suka iseng dengan pengendara yang lewat. Penduduk sekitar pun biasanya selalu membunyikan klakson ketika melintasi tempat-tempat tertentu sebagai tanda permisi.

Sambil menyuguhkan kopi kepada kami, Pak Ujang pun menceritakan bahwa tak sedikit pengendara ojek yang tak berani jalan sendirian di malam hari karena sering di tumpangi oleh sosok yang seperti Kuntilanak. “Motor langsung berat, pas ngaliwat di tangkal cau belah ditu”, begitu pak Ujang bercerita.

Kami pun langsung teringat dengan pengendara motor yang kami jumpai selama perjalanan. Ia kerap membunyikan klakson ketika melintasi tempat-tempat tertentu. Rupanya hal itu dimaksudkan untuk permisi dan numpang-numpang.

Perbincangan kami dengan pak Ujang masih berlanjut, mulai dari hal mistis di sekitar Gunungpadang hingga kisah mertuanya yang tiba-tiba mahir membaca Al-Quran setelah mendatangi sebuah batu di Gunungpadang. Ia pun berkisah tentang hubungan antara Prabu Siliwangi dan lokasi situs ini.

Kisah tersebut akan kami bahas secara terpisah di “Cerita Mistis di Situs Gunungpadang” ………………. Bersambung …..


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
10
Love
OMG OMG
101
OMG
Yaelah Yaelah
30
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
20
Keren Nih
Ngakak Ngakak
50
Ngakak