5 Film yang Tunjukkan Pentingnya Toleransi Beragama


Toleransi adalah kesiapan menerima realitas adanya perbedaan. Karena perbedaan itu merupakan realitas maka orang yang toleran tidak merasa terganggu oleh adanya perbedaan, sebaliknya perbedaan itu dihormati. Toleransi beragama wujudnya ialah setiap orang beragama bisa menerima kenyataan adanya orang lain yang berbeda keyakinannya, dan berbeda pula ritual agamanya. Dilansir dari Kaskus, Rabu (13/5/2015), berikut adalah 5 film yang menunjukkan pentingnya toleransi beragama.

1. Indonesia Bukan Negara Islam (2006)

Indonesia Bukan Negara Islam (Kaskus)
Indonesia Bukan Negara Islam (Kaskus)

“Indonesia Bukan Negara Islam” merupakan film dokumenter besutan sutradara muda Jason Iskandar. Berangkat dari keprihatinan, Jason mengangkat cerita dua orang temannya beragama Islam, Bambang dan Galih, yang bersekolah di Canisius College (CC) atau Kolese Kanisius Jakarta. Meskipun beragama Islam, mereka tetap bisa salat di lingkup sekolah. Mereka mengatakan bahwa pergerakan kelompok yang mengatasnamakan agama dapat bertindak semena-mena terhadap agama lain. Kehadiran kelompok radikal tersebut dapat mengancam keamanan Indonesia yang punya masyarakat dengan berbagai agama dan keyakinan.

2. ? (Tanda Tanya) (2011)

? (Tanda Tanya) (Kaskus)
? (Tanda Tanya) (Kaskus)

Tak banyak film Indonesia yang mengisahkan teoleransi beragama secara gamblang. Salah satu yang melakukannya adalah “? (Tanda Tanya)”. Di luar kontroversinya, sutradara Hanung Bramantyo sukses menampilkan toleransi beragama dalam kehidupan sehari-hari. Ia menggambarkan Menuk (Revalina S. Temat), perempuan muslim, bekerja di restoran China yang menjual makanan mengandung babi. Hanung juga menampilkan lelaki muslim, Surya (Agus Kuncoro), yang mau menjadi Yesus dalam kegiatan paskah, serta anggota GP Anshor yang menjaga keamanan gereja.

3. Cinta Tapi Beda (2012)

Cinta Tapi Beda (Kaskus)
Cinta Tapi Beda (Kaskus)

Bagaimana jadinya perempuan Katolik menjalin cinta dengan lelaki Islam? “Cinta Tapi Beda” memperlihatkan lika-liku jalinan kasih Diana (Agni Pratistha) dan Cahyo (Reza Nangin). Film ini memperlihatkan benturan budaya antara Jawa dan Padang, perbedaan pandangan Islam dan Katolik, serta birokrasi rumit di negara kita. “Cinta Tapi Beda” juga memotret pernikahan di Indonesia, yaitu bukan pernikahan antara dua insan melainkan pernikahan dua keluarga besar.

4. Rumah di Seribu Ombak (2012)

Rumah di Seribu Ombak (Kaskus)
Rumah di Seribu Ombak (Kaskus)

Samihi, bocah Muslim, berteman dengan Wayan Manik, penganut Hindu. Mereka tinggal di Singaraja, Bali. Sejak kecil, mereka selalu bersama-sama. Bahkan keduanya saling menolong trauma masing-masing. Samihi adalah anak yang takut dengan air alam bebas. Tetapi berkat Manik, ia dapat mengatasi rasa takutnya. Sedangkan Manik, ia trauma dari kejadian masa lalu karena ia korban pedofilia. Namun suatu saat, Samihi terpaksa membongkar rahasia Manik. Alhasil Manik dihujat warga dan sudah tak tahan lagi hidup di desanya.

5. PK (2014)

PK (Kaskus)
PK (Kaskus)

Menjalani hidup tak semudah membalik telapak tangan. Sebagai orang “baru” yang berada di suatu negara majemuk, kita harus pintar beradaptasi dan menghargai perbedaan. Itulah yang tergambar dari film India berjudul “PK”. Melalui film ini, sutradara Rajkumar Hirani seperti menyindir masyarakat tentang konsep beragama dan percaya terhadap Tuhan. PK (Aamir Khan) mempertanyakan, mengapa pemimpin agama – yang kerap mondar-mandir di televisi – menyuruh pengikutnya untuk melakukan ritual tak berarti? Misalnya, istri A sedang sakit, pemimpin agama justru menyuruh ke A pergi ke Himalaya. Mengapa A tidak diminta untuk berada di sisi sang istri, merawat, dan mengasihinya? (tom)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
100
Love
OMG OMG
90
OMG
Yaelah Yaelah
20
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
10
Keren Nih
Ngakak Ngakak
40
Ngakak