Bagi pecinta film, mungkin sudah terbiasa mendengar istilah ‘spoiler’. Bahasa mudahnya, spoiler artinya bocoran cerita dalam sebuah film. Tak cuma film, istilah spoiler juga ada di dalam dunia game, karena game memiliki alur cerita. Biasanya, spoiler ini akan dihindari bagi orang yang belum pernah menonton satu film, agar bisa menikmati filmnya secara penuh. Namun, ternyata ada juga yang justru lebih bis amenikmati filmnya setelah membaca atau mendengar spoiler.
Kesimpulan itu diambil oleh Nicholas Christenfeld, profesor psikologi Universitas California, Amerika Serikat. Ia melakukan penelitian mengenai spoiler selama 5 tahun. “Kami bertanya pada banyak orang, ‘Apakah bocoran cerita mengganggu keasyikan menonton?’ Sebagian besar menjawab iya,” ujar Christenfeld dikutip dari situs kampusnya, universityofcalifornia.edu, Rabu (1/6/2016).

Christenfeld kemudian melakukan eksperimen. Sekelompok orang membaca sebuah cerita pendek dan menilai cerita tersebut. Kelompok lain melakukan hal sama, namun Christenfeld membocorkan kisahnya tanpa sengaja dengan memberikan mereka sebuah perkenalan cerpen tersebut. Hasilnya, kelompok kedua ini yang bisa lebih menikmati cerpen tersebut.
Christenfeld mengulang eksperimen dengan tiga genre cerita: kisah misteri (dengan momen pengungkapan karakter di akhir cerita), kisah dengan akhir yang mengejutkan, dan kisah sastra yang rapi. Hasilnya sama, kelompok yang diberi bocoran lebih menikmati cerita.
Pada 2013, Christenfeld mengulang eksperimen dengan sedikit perbedaan. Kali ini kelompok yang diberi bocoran ditanyai pendapatnya tentang cerpen sebelum mereka selesai membacanya.
Perbedaan ini dilakukan untuk menentukan apakah kenikmatan membaca didapat karena mengetahui akhir kisah terlebih dahulu atau tidak. Ternyata hasilnya sama, kelompok yang mendapat bocoran lebih menikmati cerpen daripada sebaliknya.
Dari eksperimen tersebut, menurut Christenfeld, dengan mengetahui bocoran, penonton atau pembaca tidak perlu memperhatikan plot cerita dengan cermat. Mereka bisa memfokuskan diri pada sisi lain cerita, seperti pengembangan karakter, deskripsi kisah, dan detail lain yang biasa terlewatkan.
Analoginya seperti ini. Jika kita sudah mengetahui sebuah jalan dengan baik, kita bisa menikmati pemandangan dan aneka detail yang terlewatkan. Saat melalui jalan tersebut untuk pertama kali, kita harus hati-hati pada tiap lubang, tikungan, tanjakan, dan faktor pengganggu lain pada jalan tersebut.
Christenfeld mencontohkan film “The Usual Suspects” yang rilis pada tahun 1995. Di akhir film tersebut terungkap bahwa tokoh penjahat misterius Keyser Soze adalah Verbal Kint (diperankan Kevin Spacey). Menurut Christenfeld, dengan mengetahui informasi tersebut penonton akan lebih menikmati film garapan Bryan Singer itu serta memperhatikan berbagai detail kecil yang diungkap penulis naskah sepanjang film.

Akibatnya penonton akan membatin, “Oh, ternyata begitu ya. Karya seni yang familiar memungkinkan Anda untuk menikmatinya lebih jauh,” ujar Christenfeld.
Hasil penelitian ini juga didukung oleh editor dari Gizmodo, yaitu Jennifer Ouellette. “Sebagai seseorang yang kerap menonton ulang film dan acara TV favorit, saya paham memahami maksud Christenfeld,” katanya.
Namun ia menganggap salah satu kenikmatan saat menonton adalah kejutan saat menonton untuk pertama kali. “Kita mungkin mengapresiasi sebuah karya secara dalam saat menonton film untuk kesekian kalinya, namun selalu ada yang istimewa saat pertama menonton,” ujar penulis topik sains ini. Perasaan istimewa ini tidak mungkin terulang saat menonton film untuk kedua kali.

Untuk memahami hal ini, Christenfeld merencanakan untuk mengadakan eksperimen selanjutnya. Sang profesor ingin para pembaca dalam tiap kelompok membaca sebuah kisah berulang kali dengan jeda waktu yang cukup. “Eksperimen ini pantas untuk dikerjakan,” ujar Christenfeld. Lalu bagaimana hasilnya? Kita nantikan saja jika eksperimen ini benar dilakukan. (tom)