Konten video berbasis AI ternyata sudah membanjiri YouTube dalam skala besar. Riset terbaru menunjukkan hingga sepertiga feed Shorts pengguna baru berisi video AI slop atau brainrot.
Temuan ini penting karena menunjukkan perubahan besar dalam ekosistem kreator. Bukan lagi soal eksperimen teknologi, tapi soal persaingan atensi dan potensi uang jutaan dolar dari konten otomatis.
Bagi pengguna di Indonesia, artinya algoritma bisa semakin dipenuhi video generatif berkualitas rendah yang dirancang hanya untuk mengejar view dan klik.
Apa Itu AI Slop dan Brainrot?
AI slop merujuk pada konten video yang dibuat secara otomatis menggunakan alat AI generatif, lalu diproduksi massal untuk mengejar tayangan, subscriber, atau bahkan memengaruhi opini.
Sementara brainrot adalah video pendek yang cenderung absurd, repetitif, dan “menguras perhatian” penonton. Banyak di antaranya juga dibuat dengan bantuan AI.
Singkatnya, dua jenis konten ini dirancang untuk satu hal: merebut perhatian secepat mungkin.
Seberapa Besar Dominasi AI Slop di YouTube?
Menurut laporan yang dilansir melalui situs Kapwing pada 5 Maret 2026, sekitar 21% dari 500 Shorts pertama di akun YouTube baru teridentifikasi sebagai video AI-generated.
Lebih tinggi lagi, sekitar 33% masuk kategori brainrot.
Artinya, satu dari tiga video yang muncul di feed pengguna baru berpotensi merupakan konten berkualitas rendah berbasis AI.
Kapwing melakukan riset dengan:
- Mengidentifikasi 100 channel trending teratas di setiap negara
- Menandai channel yang memproduksi AI slop
- Mengambil data views, subscriber, dan estimasi pendapatan tahunan dari SocialBlade
- Mensimulasikan akun YouTube baru untuk menguji feed Shorts
Negara Mana Paling Dominan?
Secara jumlah subscriber AI slop channel, Spanyol memimpin dengan total 20,22 juta subscriber dari delapan channel trending.
Namun dari sisi total views, Korea Selatan unggul jauh dengan 8,45 miliar tayangan dari 11 channel AI slop.
Sebagai perbandingan:
- Pakistan: 5,34 miliar views
- Amerika Serikat: 3,39 miliar views
- Spanyol: 2,52 miliar views

Beberapa channel bahkan diperkirakan menghasilkan jutaan dolar per tahun.
Contohnya:
- Bandar Apna Dost (India)
- 2,07 miliar views
- Estimasi pendapatan tahunan: US$4,25 juta
- Three Minutes Wisdom (Korea Selatan)
- 2,02 miliar views
- Estimasi pendapatan tahunan: US$4 juta

Di AS, channel Cuentos Facinantes menjadi yang paling banyak subscriber secara global dengan 5,95 juta pengikut.
Kenapa Ini Penting untuk Pengguna?
Dari sisi pengalaman pengguna, dominasi AI slop bisa berdampak pada:
- Feed lebih sulit dikontrol
- Kualitas konten bercampur antara kreator asli dan konten otomatis
- Risiko misinformasi meningkat
Peneliti juga menyoroti efek “illusory truth effect” — semakin sering seseorang melihat suatu klaim atau visual, semakin besar kemungkinan mereka mempercayainya, meskipun itu palsu.
Dalam praktiknya, AI memudahkan pembuatan narasi visual yang tampak nyata, termasuk untuk kepentingan politik atau propaganda.
Yang perlu diwaspadai, sejauh ini belum ada detail resmi tentang bagaimana YouTube membedakan atau membatasi distribusi AI slop secara algoritmik.
Dilema YouTube dan Industri Iklan
CEO YouTube Neal Mohan menyebut AI generatif sebagai perubahan terbesar sejak platform ini lahir.
Namun di sisi lain, brand dan pengiklan berpotensi merasa dirugikan jika iklan mereka muncul di konten berkualitas rendah.
Secara industri, ini menciptakan dilema:
- AI mempercepat produksi konten
- Tapi membanjiri platform dengan “noise”
- Kepercayaan pengguna bisa tergerus
Jika terlalu banyak “noise”, nilai konten berkualitas bisa tenggelam.
Bagaimana Dampaknya untuk Indonesia?
Indonesia adalah salah satu pasar YouTube terbesar di dunia, dengan konsumsi Shorts yang sangat tinggi.
Jika pola global ini berlanjut, ada beberapa kemungkinan:
- Kreator lokal harus bersaing dengan konten AI massal
- Monetisasi bisa semakin kompetitif
- Algoritma makin mengutamakan retensi, bukan kualitas
Bagi pengguna, penting untuk lebih selektif. Bagi kreator, diferensiasi dan kepercayaan akan menjadi aset utama.
Yang Perlu Kamu Lakukan
Sebagai pengguna:
- Gunakan fitur “Not Interested” pada Shorts yang repetitif
- Hindari subscribe pada channel yang jelas memproduksi konten otomatis massal
- Cek kredibilitas informasi sebelum membagikan
Sebagai kreator:
- Transparan jika menggunakan AI
- Fokus pada storytelling dan orisinalitas
- Bangun komunitas, bukan hanya mengejar views
Penutup
Lonjakan AI slop menunjukkan bahwa teknologi bukan lagi sekadar alat bantu kreatif, tapi juga mesin produksi massal konten.
Sepertiga feed Shorts yang dipenuhi brainrot adalah sinyal bahwa ekosistem digital sedang berubah cepat.
Yang menarik untuk ditunggu berikutnya adalah bagaimana YouTube merespons tren ini — apakah akan memperketat kurasi, atau membiarkan pasar menentukan sendiri kualitas konten.
Kalau menurut kamu, apakah feed YouTube sekarang sudah terasa berbeda? Bagikan artikel ini agar lebih banyak orang sadar tentang perubahan ini.
















