Don't be Captious

Menikmati Karya Seni Kontemporer Sambil Foto-foto di Museum MACAN, Bikin Instagram Kamu Artistik

Museum MACAN (Kumparan)

Mungkin kamu menganggap destinasi wisata yang ada di Jakarta itu-itu saja, misalnya Monas atau Dufan. Padahal, masih ada beberapa destinasi wisata lain yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Museum MACAN, yang baru dibuka untuk umum pada tanggal 4 November lalu. Ada apa di museum ini?

Museum MACAN adalah museum yang memamerkan karya seni kontemporer, baik nasional maupun internasional, dan museum ini adalah museum seni kontermporer pertama di Indonesia. Museum MACAN yang terletak di Wisma AKR, Kebon Jeruk, Jakarta Barat ini menampilkan 90 karya seni dari sekitar 800 buah koleksi yang dipamerkan di sebuah ruangan sebesar 4 ribu meter persegi.

Museum MACAN lahir dari seorang kolektor seni sekaligus pengusaha asal Indonesia, Haryanto Adikoesoemo. Selama 25 tahun, pria yang mendapat penghargaan Authenticity, Leadership, Excellence, Quality, Seriousness in Art ini mengumpulkan sekitar 800 karya seni, mulai dari seni rupa modern Indonesia hingga seni modern dan kontemporer dari seluruh dunia.

Museum MACAN (Kumparan)

Museum MACAN terletak di lantai 5 atau lantai MM di Wisma AKR. Setelah masuk ke dalam ruang pameran, pengunjung akan langsung disajikan lukisan dari pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Setelah turun dari elevator, pengunjung langsung disuguhi Ruang Seni Anak bertajuk Taman Apung yang bekerja sama dengan seniman Indonesia bernama Entang Wiharso untuk menciptakan dekorasinya.

Pengunjung diharuskan untuk membeli tiket terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam ruang pameran. Adapun tiket harga masuk per harinya diberi harga Rp 50 ribu untuk orang dewasa, Rp 40 ribu untuk lansia dan pelajar, dan Rp 30 ribu untuk anak-anak. Cukup murah bukan?

Setelah tiket berada di genggaman, jangan lupa untuk menitipkan barang bawaan di tempat penitipan barang yang telah disediakan. Pastikan kamu membawa smartphone, kamera, dompet, dan barang berharga lainnya ke dalam ruang pameran. Selain mencegah adanya kehilangan barang berharga, di sini kamu diperbolehkan untuk foto-foto.

Museum MACAN (Kumparan)

Yang menjadi sorotan terbesar dari Museum MACAN ini adalah adanya empat bagian untuk mengkategorikan karya seninya. Pertama adalah Bumi, Kampung Halaman, Manusia, diikuti Kemerdekaan dan Setelahnya, lalu ada Pergulatan Seputar Bentuk dan Isi, dan yang terakhir adalah Racikan Global.

Di kategori Bumi, Kampung Halaman, Manusia, lukisan pertama yang dipajang adalah portret diri Raden Saleh, salah satu pelukis tersohor Tanah Air yang berdarah campuran Jawa-Arab, dengan mengenakan busana kelas menengah Eropa pada umumnya. Selain karya-karya lukisan Saleh, ada pula lukisan dari I Gusti Nyoman Lempad, Fernando C. Amorsolo, dan Miguel Covarrubias.

Lukisan Sukarno (Kumparan)

Lanjut ke bagian Kemerdekaan dan Setelahnya, kamu akan disuguhkan cerita zaman Perang Dunia II hingga proklamasi kemerdekaan Indonesia. Dalam bagian ini terdapat lukisan Presiden RI pertama, Sukarno. Dalam lukisan yang berjudul Bung Karno di Tengah Perang Revolusi ini, terlihat Bung Karno sedang mengepalkan jari-jari tinjunya di hadapan para prajurit Tanah Air. Diharapkan pengunjung akan bertambah rasa nasionalismenya setelah mengunjungi bagian ini.

Kemudian yang ketiga ada bagian Pergulatan Seputar Bentuk dan Isi. Di sini kamu bakal lebih banyak melihat lukisan abstrak, seperti salah satunya lukisan “Lingga-Yoni” (1994) yang merupakan hasil goresan tangan Arahmaiani, yang bisa dibilang cukup vulgar. Lalu ada dua lukisan karya pelukis tersohor Andy Warhol yang masuk ke koleksi Museum MACAN. Dua lukisan tersebut adalah “Portrait of Madame Smith” (1974) dan “Two Coloured Marilyn” (Reversal) (1979).

Lukisan Lingga-Yoni (Kumparan)

Terakhir ada kategori Racikan Global. Pada bagian ini, karya seni yang dipamerkan berasal dari era reformasi hingga saat ini, tepatnya setelah jatuhnya pemerintahan Orde Baru pada 21 Mei 1998 silam. Misalnya ada lukisan karya James Rosenquist yang bernama “The Xeniphobic Movie Director of Our Foreign Policy” (2004). Lukisan ini digambar tiga tahun pasca tragedi 9/11 yang menghantam menara kembar di New York. Rosenquist menggabungkan bola lampu, kaki dari pegolf, dan frasa Arab Alhamdulillahirobbilalamin.

Lukisan The Xeniphobic Movie Director of Our Foreign Policy (Kumparan)

Selain memamerkan karya seni, Museum MACAN juga layak untuk dijadikan lokasi foto-foto untuk dimasukkan ke dalam Instagram dengan latar belakang lukisan yang cantik. Museum ini memang indah secara estetika sehingga setiap sudutnya layak dijadikan latar foto.

Jadi, siapa di antara JB’ers yang sudah pernah ke sini? (tom)

Mereka Juga Suka Berita Ini
Apa Komentarmu
Loading...